25 Desember 2016

Taujih Qur'ani 8

TAUJIH ::: QUR'ANI
0008/TQ-UA/BK DKI
==============

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Bahaya Memberi Dukungan kepada
Orang Kafir
oleh:
Ustadz Abdul Aziz Abdur Ra'uf, Lc
حفظه الله تعالى

------------------
Rasulullah ﷺ bersabda :
لا تقولوا للمنافق سيدا. فانه ان يك سيدا فقد اسخطتم ربكم عز وجل.
“Janganlah kalian memanggil orang munafik dengan sebutan sayyid ( tuan, sebagai panggilan kehormatan ), karena jika ia benar-benar menjadi tuan (pemimpin), sungguh kalian telah membuat Allah murka.“
(HR. Abu Dawud, Ahmad dan Al Bukhori. Di shohihkan oleh Imam Al Albani).

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari hadist diatas, di antaranya adalah :
1. Hadits di atas menunjukkan pentingnya baro' (anti loyal) kepada kekufuran walaupun hanya dalam bentuk panggilan kehirmatan karena akan berdampak pencitraan kehormatan.
2. Logikanya, jika kepada orang munafik saja Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk bersikap baro', apalagi kepada orang kafir yang sudah terang-terangan memusuhi Islam dan umatnya.
3. Hadits di atas merupakan larangan bahkan ancaman yang keras bagi orang beriman yang memuliakan manusia yang memusuhi Allah SWT.
4. Pemuliaan terhadap orang munafik terlebih kepada orang kafir, dapat menciptakan branding positif yang dapat mengantarkan mereka menjadi pemimpin masyarakat yg akan menyesatkan atau mengarahkan kepada kemaksiatan.
5. Keimanan yang baik dari seorang Muslim, akan ditunjukkan pada takut dengan ancaman kemurkaan Allah kepada dirinya jika ia berani melanggar larangan-Nya dan larangan Rasul-Nya.
6. Jikapun penghormatan dalam bentuk lisan saja, tidak mungkin dilakukan oleh orang beriman, apalagi jika sampai memilihnya menjadi seorang pemimpin.
7. Semoga memberi pencerahan kepada umat Muslim di manapun berada. Karena jaminan penjagaan Allah ﷻ pasti akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang menjaga hak-hak-Nya (taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya).

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Published by :
______________________
BK DKI
==============
Jakarta,30 Okt 2016

15 Desember 2016

Taujih Qur'ani 6

TAUJIH � QUR'ANI
0006/TQ-UA/ BK DKI
==============
"Ayat Perindu Syurga"

oleh:
Ustadz Abdul Aziz Abdur Ra'uf, Lc
حفظه الله تعالى

ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ
(فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)
Dari Firman Allah ﷻ di Surat As Sajdah ayat 17 bahwa :
Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang dirahasiakan (oleh Allah ﷻ untuk mereka di Syurga), yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.
Penjelasan ayat diatas diperkuat oleh hadist Qudsi yang artinya :
"Aku sediakan untuk hamba-hambaKu berbagai macam nikmat yang sebelumnya tidak pernah dilihat mata, di dengar telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia." (Al Hadits).

Mari sejenak kita renungi analogi seorang ulama berikut.
Analogi ini mengajak kita membayangkan betapa besar, luas dan agungnya nikmat Allah ﷻ di Syurga nanti.
Semoga dengannya kita semakin merindukan Syurga dengan kerinduan yang sedalam-dalamnya.

Jika anak TK usia 5 tahun. Berkata ; "Aku punya uang banyak." Maka berapa kira-kira yang terbayang di pikiran kita ? Pantasnya seusia anak TK 100 ribu atau 200 ribu, itu bagi mereka tentu sudah merupakan jumlah yang banyak.
Jika seorang pengusaha yang mengatakan, 'Saya punya uang banyak.' Maka presepsi yang ada dibenak kita tentu pantasnya sejumlah ratusan milyar.
Adapun jika seorang Presiden yang mengatakan, 'Saya punya uang banyak.' Maka pantas, jika yang terlintas di benak kita adalah bisa mencapai trilyunan rupiah (dalam kapasitas selaku pemimpin negara, sehingga nilai yang disebutkan adalah aset negaranya).
Sedangkan jika Allah Sang Penguasa Alam Semesta ini yang mengatakan, 'Saya mempunyai kenikmatan yang luar biasa nikmatnya, sampai tidak terjangkau oleh pikiran manusia.' Maka kira-kira sebesar dan sebanyak apa kenikmatan itu?

Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Subhanallah...
Wa lillahilhamd...

Saya yakin anda setuju dengan analogi di atas. Bahwa kenikmatan Syurga itu sangatlah besar dan luas, hingga Allah ﷻ sendiri yang mengatakan bahwa tidak akan dapat dijangkau oleh pikiran manusia.
Pertanyaannya ...
Sudahkah diri kita merindukan Syurga dari hati yang paling dalam ?
Sudahkah kita mampu membuktikan bahwa diri kita adalah benar-benar sang Perindu Syurganya Allah ﷻ ?
Bukti utama seseorang yang merindukan Syurga adalah memiliki semangat beramal sholih dan selalu menjaga amal tersebut. Ia juga mencari variasi amal sholih (yang disyariatkan), sehingga dirinya semakin mantab dalam taqwa.
Kemudian ia juga selalu melakukan penjagaan terhadap amal sholihnya itu agar terus dikerjakan disepanjang hayatnya.
Sang Perindu Syurga juga tidak pernah meninggalkan doa kepada Robb-nya, dengan menyerahkan sepenuh harapan kepada Robb-nya agar dirinya kelak dimasukkan sebagai Penghuni SyurgaNya.
Kerinduan dan pengharapan atas Syurga yang demikian besar ini telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
Sebagai orang yang beriman, antara merindukan Syurga dan takut terhadap Neraka harus berbanding lurus dengan proses tarbiyah keimanannya terhadap Hari Akhirat.

Mengapa pembinaan mental iman terhadap Hari Akhirat ini harus terus diupayakan dan harus selalu mendominasi pikiran kita dalam menjalani aktivitas di dunia ini ?
Karena pada kenyataannya tidak otomatis seorang Muslim itu di dalam hatinya sudah pasti merindukan Syurga dan tidak juga mereka otomatis memiliki rasa takut terhadap Neraka.
Oleh karena itulah seorang Muslim harus terus menjaga dan meningkatkan keimanannya terhadap Kehidupan Akhirat, yang mana hanya 2 kampung saja yang ada disana, yakni Syurga dan Neraka.
Saya sarankan kepada anda, berdoalah sepanjang hidup dengan 3 hal ini :
1. Meminta kepada Allah ﷻ agar menganugerahkan Husnul khotimah.
2. Meminta kepada Allah ﷻ agar Dia menerima Taubat kita.
3. Meminta kepada Allah ﷻ agar diberi hati yang istiqomah dan teguh dalam Dienul Islam sampai akhir hayat kita nanti.
Niscaya Allah ﷻ akan
mudahkan kita untuk memasuki SyurgaNya atas ridho dan rahmatNya.
وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

==============
Jakarta, 25 Okt 2016

Taujih Qur'ani 5

TAUJIH QURANI
0005/AA/ BK DKI
---------------------------

Menjadikan Al Qur'an sebagai Sahabat
*SHOHIBUL QUR'AN*
--------------------

بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Rasulullah ﷺ bersabda :
« اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه »
“Bacalah oleh kalian Al Qur'an. Karena ia (Al Qur'an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” 
(HR. Muslim).

Penjelasan :
------------

Point KETIGA
Setelah kita berusaha menjadi pembaca Al Qur'an yang baik dan benar, maka akan tumbuhlah keimanan diri kita terhadap Hari Akhirat, hingga gambaran Suasana Akhirat benar-benar terasa atau visualisasi dalam diri kita.
Kemudian apa langkah setelah itu?
Jadilah pembaca Al Qur'an hingga kita merasakan adanya jalinan persahabatan yang erat dengan Al Qur'an.
Orang yang telah merasakan kedekatan bersama Al Qur'an hingga terjalin persahabatan antara dirinya dengan Al Qur'an, Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai Shohibul Qur'an. 
Sebagaimana disebut oleh hadits diatas dalam bentuk jama' istilahnya adalah Ash-habul Qur'an.

Agar Al Qur'an pada Hari Kiamat memberi Syafa'at kepada kepada kita maka seharusnya kita mempersiapkan diri bagaimana agar layak mendapatkan Syafa'at tersebut. Bagaimana kita agar menjadi Shohibul Qur'an.
Apa kriteria menjadi Shohibul Qur'an?
Pertama:
Menjadi pembaca Al Qur'an yang baik dan benar dan membacanya secara rutin, bahkan berazam akan selalu membaca Al Qur'an sepanjang hayat. Berusahalah membaca Al Qur'an minimal setiap bulan 1 kali khatam 30 Juz.

Pembaca tahunan apa lagi hanya sesekali saja, saat keluarga meninggal bukanlah Shohibul Qur'an.
Kedua
Menjadi pembaca Al Qur'an yang akrab dengan Al Qur'an, baik secara lahir, yakni selalu dekat dengan mushaf Qur'an, maupun secara bathin, yakni semakin mengimani dan selalu berusaha menerapkan seluruh ajarannya.

Dengan mengakrabi Al Qur'an, kita akan banyak mengetahui tentang seluk beluk Al Qur'an. Minimal tahu nama-nama suratnya, sampai faham semua isinya dan seterusnya.
Bagi yang masih awam terhadap Al Qur'an, sudah seharusnya memiliki tekad untuk belajar mengenali Al Qur'an dari semua sisi-sisinya agar Allah ﷻ tetap menerimanya sebagai Shohibul Qur'an.
Selama Allah ﷻ melihat seseorang terus berusaha tanpa henti mengenali kitab suciNya, insyaAllah 'amal tersebut sudah menjadi catatan disisiNya. Sehingga layaklah ia berharap, Allah ﷻ memasukkan dirinya sebagai Shohibul Qur'an.
Ketiga
Menjadi pembaca Al Qur'an yang akrab dengan isi Al Qur'an, sehingga memiliki kecenderungan dan semangat untuk menerapkan isi Al Qur'an dalam realita kehidupannya. Bisa dikatakan bahwa citra dirinya adalah isi Al Qur'an.

Memiliki image-citra diri Qur'ani memerlukan perjuangan ekstra dalam melakukan pendekatan dengan Al Qur'an.
Upaya pendekatan harus dilakukan secara intensive sehingga terbangun kemampuan memahami & kemauan mengamalkan, sehingga melekatlah pada dirinya image pribadi Qur'ani karena ia konsisten dalam menerapkan isi Al Qur'an dalam realita kehidupannya.
Begitulah jawaban Aisyah saat ditanya, bagaimana prilaku Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari?
Adalah akhlaq Rasulullah ﷺ semua yang ada di dalam isi dari Al Qur'an.
مَاشَآءَاللّهُ

Semoga paparan diatas memberi pencerahan kepada kita semua sehingga muncul rasa optimisme bukan pesimisme untuk meraih predikat sebagai Shohibul Qur'an.
Dan Allah ﷻ hanya akan membantu hambaNya yang selalu memiliki mental optimis untuk menjadi Shohibul Qur'an.
Majlis Qur'ani rohimakumullah...
Mungkin sering terlintas dalam benak kita, betapa beratnya menjadi Shohibul Qur'an itu. 
Ya betul... 
Memang berat.

Karena targetnya adalah Syurga Allah ﷻ. Dan Syurga tersebut adalah Syurga Firdaus. Syurga Allah ﷻ yang tertinggi, yang tidak mungkin didapat jika dengan santai-santai dan upaya yang ringan.
Marilah kita terus bersemangat untuk mendapatkan tiket memasuki Syurga Firdaus dengan gigih, mulailah bertekad meniti proses kedekatan dengan Al Qur'an step by step.
Dari proses interaksi (pendekatan) tersebut insyaAllah akan membuahkan kemantaban keimanan terhadap Al Qur'an.
Kemudian menjadikan Al Qur'an sebagai Pedoman yang akan selalu mewarnai kehidupan kita.
Dan pada gilirannya, kita berharap Allahﷻ masukkan diri kita sebagai Shohibul Qur'an.
Al Qur'an tidak hanya memiliki fungsi sebagai petunjuk manusia dalam skala pribadi, tetapi Al Qur'an adalah petunjuk bagi seluruh manusia yang ada dibumi ini, dan meliputi semua aspek kehidupan, bahkan termasuk alam semesta.
Dan Shohibul Quran lah yang akan siap menyerap petunjuk Al Qur'an serta menerapkan isinya.
Jangan meremehkan sekecil apapun andil dan upaya yang kita lakukan dalam niat mewarnai dunia dengan Al Qur'an, hingga terwujudnya peradaban Qur'ani diatas bumi Allah.

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب
______________
Ust Abdul Aziz Abdur Rauf