04 Februari 2013

Tafsir Q.S. Al-Hadid (57): 12-16


LQ, 13-01-13 @maskam

Surat Al Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah.
Dinamai Al Hadiid (Besi), diambil dari perkataan Al Hadiid yang terdapat pada ayat 25 surat ini.
Pokok-pokok isinya:
1. Keimanan:
Hanya kepada Allah kembali semua urusan; beberapa sifat Allah dan beberapa Asmaa-ul Husna serta pernyataan kekuasaan Allah di langit dan di bumi.
2. Hukum-hukum:
Perintah menafkahkan harta.
3. Dan lain-lain:
Keadaan orang-orang munafik di hari kiamat; hakikat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat; tujuan penciptaan besi; tujuan diutusnya para rasul; kehidupan kerahiban dalam agama Nasrani bukan berasal dari ajaran Nabi Isa a.s.; celaan kepada orang-orang bakhil dan orang yang menyuruh orang-orang lain berbuat bakhil.
Surat Al Hadiid pada umumnya menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan anjuran bernafkah dan membelanjakan harta di jalan Allah. Dan juga menerangkan bahwa Allah mengutus para nabi dengan membawa agama untuk kebahagiaan hidup manusia di samping itu menciptakan besi yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupannya dan untuk mempertahankan agama yang dibawa oleh rasul-rasul itu.

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

12. (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar."
--> cerita tentang orang-orang beriman, keberuntungan mereka karena memperoleh ketenangan yang agung. “orang-orang yang bercahaya” Hadits yang menjelaskan tentang orang-orang yang bercahaya di hari akhir

يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءكُمْ فَالْتَمِسُوا نُوراً فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ

13. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu." Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
--> Golongan-golongan yang berusaha ‘mencari cahaya’, tapi terdapat dinding pemisah antara orang-orang beriman & orang-orang munafik.

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاء أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
14. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.
--> tentang penjelasan kenapa orang-orang yang di dunia berjalan bersama-sama, tetapi pada saat di akhirat terpisah. Salah satu alasannya adalah ‘mereka telah terpedaya oleh syetan’ hanya dengan angan-angan kosong / tipuan syetan.

فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلَاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
15. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali."
--> tentang ‘tempat akhir, tempat kembali’

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

16. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.
--> tentang ‘teguran’ Allah kepada orang-orang terdahulu yang hati mereka menjadi keras, yakni orang-orang fasik.

Menuntaskan amanah, amal yang menghujam
-Hawariyyun Muslimin-

Pentingnya Akhlak bagi Seorang Da’i


LQ, 1 juli 2012 @maskam

Ajaran Rasulullah memiliki 3 Komponen Asasi diantaranya:
  1. Aqidah
  2. Syari’ah
  3. Akhlaq
Mengapa akhlak ada di urutan terakhir? Ya, karena sebelum suatu perbuatan itu diperlihatkan maka harus kuat dan kokoh dulu pengetahuan aqidah dan syari’ah. Disini yang akan dibahas adalah masalah akhlak, terutama akhlak seorang da’i/da’iyah.
Akhlak itu dapat dilihat dari 3 faktor, diantaranya:
  1. Hikmah (kata-kata bijak)
>> dalam Q.S. An-Nahl : 125 disebutkan bagaimana sebenarnya hikmah itu, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

  1. Mau’izhah hasanah (nasihat yang baik)
>> Seseorang dapat dilihat bagaimana akhlaknya yang sebenarnya dari bagaimana dia memberikan nasihat-nasihat yang baik kepada saudaranya.
Akhlak berasal dari khuluk, yang artinya adalah perangai, tabiat yang hal itu merupakan suatu faktor yang mungkin telah melekat dalam pada diri seseorang dan sulit untuk dirubah.

  1. Jadilhum billati hiya ahsan (dengan cara yang baik & benar)
>> Sekali lagi, akhlak bukan hanya dilihat dari perkataan seseorang saja, tapi lebih kepada perbuatan / amal, serta bagaimana kebiasaannya. Jika boleh dibilang, akhlak itu adalah suatu perbuatan yang spontan, bukan suatu yang dibuat-buat

Sumber akhlak islam ada 2, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Faktor Pembentuk Akhlak ada 4, yaitu:
  1. Genetik
>> Tarbiyah slalu mengajari untuk memperhalus akhlak
  1. Psikologis
  2. Sosial
>> Tarbiyah sangat berhubungan dengan sosial masyarakat, lingkungan seseorang sangat mempengaruhi bagaimana akhlaknya.
  1. Nilai Islam
>>  Interpretasi dari akhlak adalah nilai-nilal islam

Akhlak adalah perhiasan terindah yang akan slalu dikenang. Dia adalah bukti kemuliaan seorang muslim.
Q.S. Al-Anfal : 47 “Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?"”
Akhlak Rasulullah saat berdakwah kepada kaum Quraisy & objek dakwah lain
>>  Dakwah saat ini

Q.S. Thaha : 43-44
Q.S. Fushshilat : 33-34
Akhlak adalah cerminan dari keimanan dan keislaman seseorang. Amar ma’ruf nahi munkar. Q.S. Al-Ankabut : 45
“Tidak ada yang lebih berat seorang hamba di hari kiamat selain keluhuran akhlaknya” (H.R. Tirmidzi)
“Sesungguhnya termasuk insan pilihan diantara kalian adalah yang terbaik akhlaknya.” (Mutafaqun ‘alaih)
Pembentukan kualitas
Pengaruh Akhlak > menjadikan penyakit hati
  1. Pengaruh terhadap individu (tentram, nyaman, produktif, cinta, kasih sayang)
  2. Pengaruh terhadap umat (produktivitas, penghormatan, keteladanan, keberkahan, keridhaan, kemuliaan)
Cacian makian itu tidak akan menambah keimanan & amal, tapi hanya akan menurunkan kualitas akhlak seseorang :)

Jihad


Tatsqif Jum’at Pagi @masjid Polines 25-01-2013

               Berbicara tentang jihad, maka akan berbicara pula tentang persiapannya, ciri-cirinya, bahkan syarat-syaratnya. Jika banyak yang berkata bahwa jihadnya muslim sekarang itu adalah bom, perang, dan sesuatu yang berbau kekerasan, maka itu SALAH BESAR! Karena ummat islam adalah ummat yang diajarkan untuk mencintai kedamaian, mengutamakan kelembutan, dan kerasnya bila ada yang mengganggu. :)
Oke, langsung ke pokok bahasan saja ya… Ni ringkasan materi dari hasil saya mengikuti tatsqif jum’at pagi. Karena mayoritas (bahkan mungkin semuanya) adalah mahasiswa/i, maka yang dibahas adalah tentang jihadnya seorang pelajar.

Jihad itu bermacam-macam kawan, jika jihadnya pelajar sekarang ini adalah menuntut ilmu lalu diamalkan dengan dakwah. Jihadnya seorang ibu adalah saat melahirkan. Jihadnya seorang ulama’ adalah menyebarkan dakwah dengan pengetahuannya. Dll.

ada sebuah kisah, saat kekhalifahan Turki Utsmani yang membuka negeri konstantiinopel. Saat itu, ulama’ menjadi penasehatnya, pelatih pemanah, meriam, dan persenjataan lainnya menjadi tamengnya dari musuh. Ini benar-benar menggambarkan bahwa jihad itu bukan sekadar kata-kata, tapi ia satu kata dengan luasan makna.

“Kemenangan itu akan didapat oleh orang-orang yang sabar”

Satu kalimat di atas menunjukkan bahwa kemenangan dari jihad hanya diperoleh orang-orang tertentu, yakni mereka yang sabar. Jika dikelupas lebih jauh, sabar itu susah ngedapetinnya, dia harus punya benteng aqidah.
Ada sebuah hadits riwayat Tirmidzi yang berbunyi,
"Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Ditanyakan kepada Rasulullah (saw), ‘Ya Rasulullah, apa yang dapat menyamai (pahala) Jihad? Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya kalian tidak akan mampu melakukannya.”
Para sahabat mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. (Namun untuk) masing-masing pertanyaan Beliau (saw) bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak akan mampu melakukannya.”
Rasulullah saw kemudian bersabda pada kali yang ketiga, “Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah adalah seperti orang yang beribadah (pada malam hari) dan berpuasa (di siang hari) tanpa merasa penat melaksanakan solat atau puasa sampai orang yang berjihad itu kembali.” "

Kalau zaman sahabat dahulu, sebelum berjihad itu perlu banyak persiapannya, yang terpenting adalah persiapan tentang aqidahnya, syari’atnya, tarbiyah dzatiyah, syakhsiyah islamiyah, khouf & roja’ ditingkatkan, serta mahabbahnya kepada Allah terus ditambah.

Itulah mengapa Rasulullah dalam berdakwah, pertama yang coba dikuatkan adalah pelajaran aqidahnya, bukan langsung mengajak kaum kafir Quraisy berperang. Jika masih bisa bertahan, mengapa harus menumpahkan darah? Jika masih bisa mengajak dengan kelembutan, mengapa harus ada kekerasan? Jika belum ada keterdesakan untuk berperang, maka sabarlah dahulu dengan Allah sebagai pelindung kalian…

Ya, beliau Rasulullah SAW yang sangat cinta pada keindahan, kedamaian, ketenangan. Beliau yang selalu mengedepankan kekhusyukan, kesabaran, keadilan. Beliau yang selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, memilih musyawarah sebagai sistemnya, pendapat para sahabat sebagai pilihannya, dan merujuk pada Al-Qur’an sebagai pedomannya.

Dalam Q.S Al-Baqarah (2) : 11-12 --> Islam=Al-Ishlah=damai
11. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."
[24]. Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
Jadi, jihad jangan disalahartikan. Ada yang bilang bahwa jihad itu kata yang nyeremin, jihad itu kata-katanya teroris, jihad itu hanya milik orang-orang tertentu, bukan semua muslim. Padahal arti dari jihad pada zaman Rasulullah SAW sangat didamba-dambakan para sahabat, sekali ada seruan jihad, maka seluruh sahabat Rasul segera berbondong-bondong untuk mendaftarkan dirinya dalam momen yang dinantikan. Jihad bukan hanya membawa badan (jasadiyah) saja, namun jiwa (ruhiyah) juga harus lebih dipersiapkan, selain itu pemikiran/ide2 (fikriyah) juga sangat dibutuhkan. Oiya, sedikit menambahkan, kalau dahulu sebelum berperang para sahabat mempersiapkan hafalan qur’annya, maka bagaimana dengan kita? *muhasabah diri
Apa daya jika jasad sehat wal ‘afiyat, tapi kedekatannya pada Allah kurang. Apa arti jihad sebenarnya? Maka kajilah dahulu isi Al-Qur’an sebelum berbicara lebih lanjut tentang jihad :)