08 April 2014

Mentadaburi Perjalanan Kita Pada Jihad Siyasi

Rabu, 09 April 2014


Ikhwah dan akhwat fillah, Sekian lama kita berjibaku untuk memenangkan partai dakwah ini dengan pengorbanan yang tak ternilai harganya, sekian banyak program yang sudah dirancang dan dilaksanakan walau dengan keterbatasan.

Begitu solid ukhuwah antar kita yang ditandai dengan terus menjalin komunikasi dan share informasi. Yankes, bazar pakaian layak pakai, sembako murah, telor murah dan segudang kegiatan sosial mungkin masih menyisakan letih dan lelah.

Ikhwah dan akhwat fillah, mari kita jadikan itu semua sebagai kendaraan yang akan mengantarkan kita menujuNya yang tak terbayangkan keindahannya. Maka, apapun hasilnya nanti, kita yakini inilah yang terbaik buat kita. Husnudzon kita padaNya semoga akan membuat kita tersenyum karena optimisme kita selama ini diijabah olehNya.

Ikhwah dan akhwat fillah, mari ikhlaskan semua amal kita, kebaikan yang sudah kita lakukan belumlah seberapa dibanding harga surgaNya yang begitu mahal.

Lupakan photo-photo yang pernah kita kirim dan kita jadikan bukti kalau kita sudah berbuat sesuatu, lupakan kalau kita pernah memberi sesuatu dan mengalami kesulitan saat memberikannya dan kita merasa sudah bertadhiyah, karena kita khawatir kalau semua jerih payah kita menjadi sia-sia, karena kita khawatir kalau amal kita diselimuti riya, lupakanlah itu semua, lupakanlah.

Semoga dengan begitu, kita bisa terus belajar ikhlas, bisa terus merasa butuh pahala, dan yang lebih utama, semoga kita terus merasakan kehangatan hati dan jiwa karena selalu dekat denganNya.

Tetesan air mata doa yang menjadi pemungkas usaha kita agar kita bisa digolongkan ke dalam hambaNya yang muttaqien dan kita dikumpulkan dibawah naungan yang tidak ada naungan selain naunganNya dan itulah cita-cita tertinggi kita dalam hidup dan perjuangan ini.

Dari situ kita bisa belajar tuk masa yang akan datang, bagaimana menjadikan setiap nafas kita adalah nafas ibadah, niat kita adalah ibadah, berfikirnya kita adalah ibadah dan gerak gerik seluruh organ tubuh kita berbuah ibadah agar kita bisa merasakan sentuhan ayat "Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk ibadah".

Selamat berjuang ikhwah wal akhwat fillah. wassalam


*by: HM. Adih Amin,Lc. MA
copast dari : http://www.pkspiyungan.org/2014/04/mentadaburi-perjalanan-kita-pada-jihad.html

17 Maret 2014

Mengenal Hati

Lama tidak menggoreskan tulisan di wadah ini. Semua terasa membahagiakan. Allah memberikan kehidupan yang lebih baik dari yang aku pinta sebelumnya. Yang tak kuminta pun semuanya Allah berikan.
***

Salah satunya adalah tentang "Mengenal Hati"


Saat yang lain ramai membicarakan tentang 9 April 2014, aku sendiri sedang perjalanan menyentuh hati-hati mereka yang ada di sekitar. Persoalan hati memang rumit, tapi indah jika kita telah mengenalnya dengan baik. Seindah pelangi yang terlihat setelah Allah turunkan hujan ke bumi ini.


"Mintalah fatwa ke dalam hatimu.." Begitu kira-kira kalimat yang aku baca pada sinopsis sebuah buku.

Ada banyak orang yang memakai kalimat ini jika ingin melakukan semacam pembenaran.
"Hatiku berkata seperti itu, kan hati ga pernah berbohong.." mungkin seperti ini yang sering orang-orang katakan.
Apakah memang segala kebenaran muncul dari dalam hati seseorang?
Apakah segala yang dikatakan oleh hati menjadi sebuah kebenaran?
Apakah itu jawaban dari Allah atas segala permasalahan yang ada? Dari hati?

Berbagai pertanyaan mungkin muncul di benak seseorang ketika menyadari keberadaan hati. Tapi apakah memang seperti itu adanya?

Dan dalam perjalanan ini aku menemukan jawabannya. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
***

Sedikit cerita ya..

Jadi saat itu, saya dengan seorang teman sedang merasa benci dengan seseorang yang sama. Sangat tidak suka. Karena tutur katanya, sikapnya, maupun pendapatnya tentang seseorang yang lain. Hati kami sama-sama tak menyukainya. Dan saat itu, parahnya orang yang kami berdua sayangi pun menjadi korban (dalam tanda kutip) atas apa yang dia perbuat.
Lalu, bisa dibayangkan bagaimana sikap kami terhadapnya?

Tentu bisa dibayangkan ya, bagaimana sikap seseorang yang sedang tidak suka dengan seseorang yang lain.

Begitulah, kami berusaha untuk menghindarinya, selalu menghindarinya, tapi tahukah? Allah menginginkan yang lain. Saat kami berusaha untuk menjauhinya, tiba-tiba seperti kebanjiran duren, semua kegiatan kami selalu ada dia disana.
Bagaimana tambah nggak sebel coba?
Sampai suatu hari, ada yang menegur dan menasihati, "Kalian berusaha menghindar dan tidak menyukainya itu atas dasar apa? Karena Allah atau karena emosional kalian sendiri?"

Kata-kata "karena Allah atau karena emosional kalian sendiri" itu menjadi cambuk bagi saya. Malam itu pun saya tersadar dan mencoba membenahi hati. Segera saya sms teman yang ada di seberang sana dan mencoba memberikan suatu pilihan terbaik.

"Coba sekarang kita benahi hati masing-masing. Saat ini baru tersadar, mungkin ada yang salah disana. Dalam minimal 30 hari ini, coba kita sama-sama benahi diri kita terlebih dahulu. Kita Qiyamul Lail, kita Dhuha, kita tilawah minimal 1 juz per hari, kita coba hafalkan ayat Allah minimal 5 ayat per harinya, dan amalan lainnya. Maka nantinya mungkin akan terjawab, apakah kita tidak menyukainya karena Allah, atau itu hanya emosi kita semata."

Tapi nyatanya, hanya dalam 7 hari berjalan, hati kami berkata lain, memang sejatinya kami tak suka dengan sikapnya, tapi ternyata hati ini memberikan cerita positif tentangnya, memberikan aura kebaikan yang pernah dia lakukan.


Dari satu cerita itu, membuktikan bahwa hati yang bersih saja yang bisa menjawab. Mungkin pernah kita tak suka dengan seseorang dengan berbagai alasan, tapi coba kita telisik lagi lebih jauh, apakah kita pun sudah menjadi sempurna seperti kita ingin dia sempurna?

Karena orang di sekitar kita itu adalah cerminan dari diri kita sendiri. Ada 3 faktor, pertama, Cermin, kita sama-sama buruknya dengannya. Kedua, Hidayah, mungkin kita adalah perantara Allah untuknya. Ketiga, Perbaikan, mungkin dengannya, kita bisa menjadi lebih baik lagi dan menuju tingkatan yang lebih tinggi. Karena Allah akan sediakan berbagai sarana prasarana untuk kita memperbaiki diri, dengan masalah-masalah itulah Allah mengasah hati kita.

"Suara hati seorang mukmin, dasarnya adalah panggilan fitrah. Itu sebabnya, Rasulullah SAW menyebutkan, 'istafti qalbak' (mintalah fatwa pada hatimu). Hati dan jiwa seorang mukmin memang istimewa. Dia bisa menyuarakan sesuatu yang selaras dengan keimanan. Dia bisa memanggil dengan panggilan ruh keinsyafan. Dan karenanya, hati atau jiwa ini penting diperhatikan hingga diajak berdialog."


Maka hati-hati berbicara tentangnya. Lisan kita harus dijaga untuk slalu mengucap kebenaran. Langkah kita harus selalu dijaga untuk menuju kebaikan. Telinga kita dijaga untuk selalu mendengar perkataan-perkataan yang ahsan. Dan itu artinya,

Kita harus MENJAGA HATI.
Karena segala yang kita lakukan asalnya adalah hati kita sendiri. Semuanya bermuara dari sana.
Kebaikan itu ada jikalau hati kita bersih..
Dan hati hanya bisa disentuh dengan hati :)
Seperti nasyid dari Snada yang ini,

"Hati kalau selalu bersih
Pandangannya akan menembus hijjab
Hati jika sudah bersih
Firasatnya tepat karena Allah

Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran"


Nah, kapan lagi? Ayo perbaiki dulu diri dan hati kita sendiri, sebelum memandang seseorang dengan pandangan yang tidak-tidak. Karena semua bermula dari hati, maka jagalah ia agar tetap bersih, tetap dekat dengan Allah, tetap bisa menerima feeling yang tepat, yang sumbernya adalah Allah..

Jadikan hatimu bercahaya.. dengan cahaya Allah.. :)

02 Januari 2014

"Letih Tak Bertepi Bersama Al-Qur'an"

Lagi pengen copas kultwitnya 2 jam yg lalu dg tema "Letih Tak Bertepi bersama Al Qur'an" :)



1. Disaat yang lain menghamburkan waktunya, berdekatan dengan syaitan, kata "marra ya murru" lewat kita anggap angin, lalu, di luar sana banyak petasan dsb..

2. Hal yang menjadi tema kita malam ini adalah keletihan tak bertepi. Mental keletihan yang tak bertepi ini adalah mental Ahlu Syurga.

3. Makanya Allah mengatakan, "Alhamdulillah hilladzi.." Karena dulu di dunia mengalami masa hidupnya yang tak bertepi.

4. Jenis keletihan orang beriman itu tidak boleh mengenal letih. Keletihan perasaan. ALLAH telah menakdirkan kita menjadi Ahlul Qur'an..

5. Sehingga waktu kita sibuk dengan Al Qur'an, tidak ada hari-hari berlalu tanpa Al Qur'an. Tidak ada agenda yang membuat kita turun keimanannya.

6. Terlambat sholatnya, kurang tilawahnya. Ini bukan mental orang beriman. Orang Ini ketika di surga akan mengatakan, "alhamdulillah hilladzi maa..." 

7. Karena itulah Allah mengajari sebuah cita-cita yang mustahil. "Qaataluuhum hatta laa yakuuna fitnatan dinnulillah.." ini tidak akan pernah terjadi.

8. Semua manusia beriman dan tidak ada fitnah di dunia, tapi Allah perintahkan demikian. Ini karena Allah menginginkan kita berletih letih. 

9. "Saya tidak akan berhenti bersama Qur'an sampai mutqin 30 juz dan semua penduduk daerah ini mahir bersama Al-Qur'an.

10. Letih perasaan saudara kita, tetangga kita atau dari kalangan kita sendiri yang kurang koordinasi. Belum lagi perasaan bosan, ragu >> "nyampai nggak 30 juz" 

11. Begitu sampai 15 juz.... masih segini...dulu ia juga merintis dari halaman per-halaman.. keletihan mencari setoran.. deg degan saat setoran

12. Ayat ini dikhususkan oleh Allah, ditujukan untuk ahlul Qur'an. An Naml diawali dan diakhiri tentang "wa inkala laa ...Qur'an.." 

13. Mengawali hidup dengan Qur'an dan meng-Qur'an-kan orang sekitar kita. Ini tak boleh mengenal letih... semua yang berkaitan dengan Qur'an saat di dunia.

14. Baru setelah dia mengatasi keletihan itu, barulah Allah mengatakan "jannatun adni tajri min tahtihal anharu khoolidiina fiha.." 

15. "wa libasuhum fii haa hariir.." gara-gara ber-AlQur'an ia tidak tidur, Allah ganti tempat tidur dari emas, gara-gara Al-Qur'an ia jarang bersama pasangannya....

16. ...Allah ganti dengan "Wa Luklu'a.." gara-gara Qur'an jarang dandan, Allah ganti dengan "wa libasuhum fiihaa haarir.." pakaian mereka disana adalah syurga...

17. Semua keletihan ini haruslah bernilai dakwah, Sayyid Qutb mengatakan, "Adik saya sangat kaya akan sastra..tetapi kekayaan intelektual nya,, 

18. ,,,lebih kaya dr pada sastranya.." ini sebagian besar ia dapatkan dari kebersamaannya dengan Al Qur'an.

19. Jangan sampai kelak kita mengatakan, "kalo tau begini saya dulu ngapal Al-Qur'an otomatis menjadi muharrik/penggerak, karena tak lelah bersama Al-Qur'an.." 

20. Doa Rasulullah dan sahabat, "Allahumma ja'alna lana quranal dunya..sithran wa hijaban.." Sithran--saat manusia dihisab,...

21. Saat manusia dihisab, akan dibeberkan kepada seluruh manusia. Saat itulah Al Qur'an menjadi sithran wa hijaban.

22. Saudara kita melihat aib kita tapi Allah tutup, hingga wajahnya membiru karena malu. Tapi Allah tutup karena ia letih bersama Al-Qur'an

23. Sangat mudah bagi Allah langsung memasukkan kita ke salam syurga, tapi Allah ingin kita rasakan besarnya rahmat-Nya...

24. Jadikan Al-Qur'an misi terbesar, kita harus S2, tapi kita Hafidzul Qur'an..kita memang harus S3, tapi kita Hafidzul Qur'an.. 

25. Jadi manager..Hafidzul Qur'an.. Termasuk dalam berkeluarga, anak-anak saya semua harus Hafidzul Qur'an...

26. Letih fisik & Letih amwal. Semoga Allah rahmati kita dengan Al Qur'an..

Bismillah :)