Sampai detik ini, aku masih berharap bahwa ISTIQOMAH terus ada pada jiwa-jiwa kita. Tidak lekang begitu saja oleh berbagai aktivitas yang ada. Selalu ada dan diperbaharui setiap waktunya.
Kenapa?
Karena ialah kunci dari segala hal yang ada di muka bumi ini. Tanpa adanya keistiqomahan, mana mungkin bumi ini masih terus berputar?
Tanpa keistiqomahan, bagaimana bisa alam semesta selalu ada pada porosnya masing-masing..
Tanpa keistiqomahan, maka seluruh perjalanan hidup kita ini akan terhenti.
Lepas dari segala rutinitas duniawi yang kita jalani sekarang.
Maka sekarang yang jadi pertanyaan adalah...
Bagaimana jika alam semesta dan seluruh isinya tidak mematuhi perintah Sang Pencipta untuk selalu ada pada porosnya, tempat dia seharusnya berada?
Pasti orang yang tak pernah mengenyam pendidikan-pun akan berujar, bahwa seketika itu pula kiamat telah datang. Semua hancur dalam sekejap mata. Manusia-manusia berhamburan bagaikan debu-debu yang terlempar oleh angin. Gunung-gunung yang tegak kokoh akan menyatu dengan tanah. Dan yang pasti, bintang-bintang yang ada di alam semesta ini akan bertabrakan satu sama lain. Begitu pula planet-planet yang kita kenal dalam imajinasi kita, semua akan luluh lantak dalam sesaat. Termasuk planet bumi yang indah akan kehidupan ini.
Adakah yang ingin menyanggah tentang hal ini? Pastinya semua setuju dengan sebab-akibat di atas.
Lalu jika hal ini dikaitkan dengan ibadah kita kepada Allah Ta'ala, bagaimana?
Apakah kita semua akan setuju dengan analogi yang telah disebutkan sebelumnya?
Banyak diantara kiita yang menjawab "iya" pada lisannya, tapi "tidak masalah" pada hatinya.
Akankah semua ini benar adanya?
Bagaimana sesuatu yang sangat sakral ini dapat dianggap menjadi sesuatu yang sepele? Saat semua orang mengatakan bahwa ibadah adalah hal yang membosankan, sia-sia belaka, dan hanya dikerjakan oleh orang-orang tua yang telah mendekati ajalnya. Bagaimana bisa seseorang di jaman ini mengatakan semua pernyataan itu dengan mudahnya. Tak ada sedikitpun beban berat yang dirasakannya.
Ada pula mereka yang telah disebut sebagai da'i pada kelompoknya, yang selalu mengatakan kebenaran di setiap perkataannya. Tapi ternyata mereka tidak sadar akan kesalahannya yang sedikit demi sedikit menjadi sesuatu yang sangat besar & menjadi penghalang baginya memasuki pintu surga.
Karena memang tugas setiap hamba adalah menyempurnakan ibadahnya dengan sempurna. Bila saat ini telah bisa melaksanakan sholat wajib tepat waktu, maka seharusnya beberapa waktu kedepan disempurnakan dengan sholat-sholat rawatib. Bila saat ini dapat mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, maka seharusnya bisa juga menyempurnakan dengan menghapus kata-kata kotor dari lisannya.
Bila saat ini hatinya telah tenang, tidak merasa terbebani masalah, maka seharusnya disempurnakan dengan bacaan tilawah. Karena sebaik-baik bacaan adalah Al-Qur'an. Sebaik-baik petunjuk adalah Al-Qur'an. Dan sebaik-baik warisan Rasulullah pada ummatnya adalah Al-Qur'an dan Hadits.
Lalu bagaimana kita dapat meninggalkan amalan-amalan tersebut se-enak kita sendiri? Bagaimana bisa sesuatu yang sangat diagung-agungkan Rasul dan para Sahabat kita geser prioritasnya HANYA gara-gara aktivitas kerja kita yang katanya "bejibun"? Dan bagaimana bisa kita menyandingkan kata ISTIQOMAH dengan alasan SIBUK (urusan duniawi)?
Padahal sebenarnya jika ada keinginan untuk membaca lebih luas segala aktivitas tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa "Berkahnya waktu adalah ketika kita bisa menyeimbangkan segala aktivitas kerja dengan amalan-amalan yaumiyah. Sehingga waktu yang kita punya tidak terbuang dengan percuma."
Berkahnya waktu adalah ketika dapat melakukan banyak karya dalam waktu yang singkat.
Tapi memang, ini adalah kelemahan manusia yang memiliki nafsu. Lebih tertarik dengan sesuatu yang berbau duniawi daripada ukhrowi. Karena memang surga itu dekat dengan sesuatu yang "membosankan" bagi nafsu dan neraka dekat dengan sesuatu yang menarik dan amat manis.
Dan... menjaga-nya (istiqomah) adalah sesuatu yang sangat penting.
*tulisan yang dengannya akan menyindir hati-hati yang mungkin saat ini terasa jauh akan "nutrisi" hati, termasuk bagi sang penanya sendiri
Sekian, semoga hati dan jiwa kita tidak akan hancur seperti hancurnya alam semesta saat terjadinya kiamat kubro HANYA karena kita lalai dalam menjaganya.
apa yang kualami, apa yang kutulis, semua atas rencana-Nya. Allah Sutradara Terbaik! Percayalah ^_^
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan
12 Oktober 2014
17 Maret 2014
Mengenal Hati
Lama tidak menggoreskan tulisan di wadah ini. Semua terasa membahagiakan. Allah memberikan kehidupan yang lebih baik dari yang aku pinta sebelumnya. Yang tak kuminta pun semuanya Allah berikan.
***
Salah satunya adalah tentang "Mengenal Hati"
Saat yang lain ramai membicarakan tentang 9 April 2014, aku sendiri sedang perjalanan menyentuh hati-hati mereka yang ada di sekitar. Persoalan hati memang rumit, tapi indah jika kita telah mengenalnya dengan baik. Seindah pelangi yang terlihat setelah Allah turunkan hujan ke bumi ini.
"Mintalah fatwa ke dalam hatimu.." Begitu kira-kira kalimat yang aku baca pada sinopsis sebuah buku.
Ada banyak orang yang memakai kalimat ini jika ingin melakukan semacam pembenaran.
"Hatiku berkata seperti itu, kan hati ga pernah berbohong.." mungkin seperti ini yang sering orang-orang katakan.
Apakah memang segala kebenaran muncul dari dalam hati seseorang?
Apakah segala yang dikatakan oleh hati menjadi sebuah kebenaran?
Apakah itu jawaban dari Allah atas segala permasalahan yang ada? Dari hati?
Berbagai pertanyaan mungkin muncul di benak seseorang ketika menyadari keberadaan hati. Tapi apakah memang seperti itu adanya?
Dan dalam perjalanan ini aku menemukan jawabannya. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
***
Sedikit cerita ya..
Jadi saat itu, saya dengan seorang teman sedang merasa benci dengan seseorang yang sama. Sangat tidak suka. Karena tutur katanya, sikapnya, maupun pendapatnya tentang seseorang yang lain. Hati kami sama-sama tak menyukainya. Dan saat itu, parahnya orang yang kami berdua sayangi pun menjadi korban (dalam tanda kutip) atas apa yang dia perbuat.
Lalu, bisa dibayangkan bagaimana sikap kami terhadapnya?
Tentu bisa dibayangkan ya, bagaimana sikap seseorang yang sedang tidak suka dengan seseorang yang lain.
Begitulah, kami berusaha untuk menghindarinya, selalu menghindarinya, tapi tahukah? Allah menginginkan yang lain. Saat kami berusaha untuk menjauhinya, tiba-tiba seperti kebanjiran duren, semua kegiatan kami selalu ada dia disana.
Bagaimana tambah nggak sebel coba?
Sampai suatu hari, ada yang menegur dan menasihati, "Kalian berusaha menghindar dan tidak menyukainya itu atas dasar apa? Karena Allah atau karena emosional kalian sendiri?"
Kata-kata "karena Allah atau karena emosional kalian sendiri" itu menjadi cambuk bagi saya. Malam itu pun saya tersadar dan mencoba membenahi hati. Segera saya sms teman yang ada di seberang sana dan mencoba memberikan suatu pilihan terbaik.
"Coba sekarang kita benahi hati masing-masing. Saat ini baru tersadar, mungkin ada yang salah disana. Dalam minimal 30 hari ini, coba kita sama-sama benahi diri kita terlebih dahulu. Kita Qiyamul Lail, kita Dhuha, kita tilawah minimal 1 juz per hari, kita coba hafalkan ayat Allah minimal 5 ayat per harinya, dan amalan lainnya. Maka nantinya mungkin akan terjawab, apakah kita tidak menyukainya karena Allah, atau itu hanya emosi kita semata."
Tapi nyatanya, hanya dalam 7 hari berjalan, hati kami berkata lain, memang sejatinya kami tak suka dengan sikapnya, tapi ternyata hati ini memberikan cerita positif tentangnya, memberikan aura kebaikan yang pernah dia lakukan.
Dari satu cerita itu, membuktikan bahwa hati yang bersih saja yang bisa menjawab. Mungkin pernah kita tak suka dengan seseorang dengan berbagai alasan, tapi coba kita telisik lagi lebih jauh, apakah kita pun sudah menjadi sempurna seperti kita ingin dia sempurna?
Karena orang di sekitar kita itu adalah cerminan dari diri kita sendiri. Ada 3 faktor, pertama, Cermin, kita sama-sama buruknya dengannya. Kedua, Hidayah, mungkin kita adalah perantara Allah untuknya. Ketiga, Perbaikan, mungkin dengannya, kita bisa menjadi lebih baik lagi dan menuju tingkatan yang lebih tinggi. Karena Allah akan sediakan berbagai sarana prasarana untuk kita memperbaiki diri, dengan masalah-masalah itulah Allah mengasah hati kita.
"Suara hati seorang mukmin, dasarnya adalah panggilan fitrah. Itu sebabnya, Rasulullah SAW menyebutkan, 'istafti qalbak' (mintalah fatwa pada hatimu). Hati dan jiwa seorang mukmin memang istimewa. Dia bisa menyuarakan sesuatu yang selaras dengan keimanan. Dia bisa memanggil dengan panggilan ruh keinsyafan. Dan karenanya, hati atau jiwa ini penting diperhatikan hingga diajak berdialog."
Maka hati-hati berbicara tentangnya. Lisan kita harus dijaga untuk slalu mengucap kebenaran. Langkah kita harus selalu dijaga untuk menuju kebaikan. Telinga kita dijaga untuk selalu mendengar perkataan-perkataan yang ahsan. Dan itu artinya,
Kita harus MENJAGA HATI.
Karena segala yang kita lakukan asalnya adalah hati kita sendiri. Semuanya bermuara dari sana.
Kebaikan itu ada jikalau hati kita bersih..
Dan hati hanya bisa disentuh dengan hati :)
Seperti nasyid dari Snada yang ini,
"Hati kalau selalu bersih
Pandangannya akan menembus hijjab
Hati jika sudah bersih
Firasatnya tepat karena Allah
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran"
Nah, kapan lagi? Ayo perbaiki dulu diri dan hati kita sendiri, sebelum memandang seseorang dengan pandangan yang tidak-tidak. Karena semua bermula dari hati, maka jagalah ia agar tetap bersih, tetap dekat dengan Allah, tetap bisa menerima feeling yang tepat, yang sumbernya adalah Allah..
Jadikan hatimu bercahaya.. dengan cahaya Allah.. :)
***
Salah satunya adalah tentang "Mengenal Hati"
Saat yang lain ramai membicarakan tentang 9 April 2014, aku sendiri sedang perjalanan menyentuh hati-hati mereka yang ada di sekitar. Persoalan hati memang rumit, tapi indah jika kita telah mengenalnya dengan baik. Seindah pelangi yang terlihat setelah Allah turunkan hujan ke bumi ini.
"Mintalah fatwa ke dalam hatimu.." Begitu kira-kira kalimat yang aku baca pada sinopsis sebuah buku.
Ada banyak orang yang memakai kalimat ini jika ingin melakukan semacam pembenaran.
"Hatiku berkata seperti itu, kan hati ga pernah berbohong.." mungkin seperti ini yang sering orang-orang katakan.
Apakah memang segala kebenaran muncul dari dalam hati seseorang?
Apakah segala yang dikatakan oleh hati menjadi sebuah kebenaran?
Apakah itu jawaban dari Allah atas segala permasalahan yang ada? Dari hati?
Berbagai pertanyaan mungkin muncul di benak seseorang ketika menyadari keberadaan hati. Tapi apakah memang seperti itu adanya?
Dan dalam perjalanan ini aku menemukan jawabannya. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
***
Sedikit cerita ya..
Jadi saat itu, saya dengan seorang teman sedang merasa benci dengan seseorang yang sama. Sangat tidak suka. Karena tutur katanya, sikapnya, maupun pendapatnya tentang seseorang yang lain. Hati kami sama-sama tak menyukainya. Dan saat itu, parahnya orang yang kami berdua sayangi pun menjadi korban (dalam tanda kutip) atas apa yang dia perbuat.
Lalu, bisa dibayangkan bagaimana sikap kami terhadapnya?
Tentu bisa dibayangkan ya, bagaimana sikap seseorang yang sedang tidak suka dengan seseorang yang lain.
Begitulah, kami berusaha untuk menghindarinya, selalu menghindarinya, tapi tahukah? Allah menginginkan yang lain. Saat kami berusaha untuk menjauhinya, tiba-tiba seperti kebanjiran duren, semua kegiatan kami selalu ada dia disana.
Bagaimana tambah nggak sebel coba?
Sampai suatu hari, ada yang menegur dan menasihati, "Kalian berusaha menghindar dan tidak menyukainya itu atas dasar apa? Karena Allah atau karena emosional kalian sendiri?"
Kata-kata "karena Allah atau karena emosional kalian sendiri" itu menjadi cambuk bagi saya. Malam itu pun saya tersadar dan mencoba membenahi hati. Segera saya sms teman yang ada di seberang sana dan mencoba memberikan suatu pilihan terbaik.
"Coba sekarang kita benahi hati masing-masing. Saat ini baru tersadar, mungkin ada yang salah disana. Dalam minimal 30 hari ini, coba kita sama-sama benahi diri kita terlebih dahulu. Kita Qiyamul Lail, kita Dhuha, kita tilawah minimal 1 juz per hari, kita coba hafalkan ayat Allah minimal 5 ayat per harinya, dan amalan lainnya. Maka nantinya mungkin akan terjawab, apakah kita tidak menyukainya karena Allah, atau itu hanya emosi kita semata."
Tapi nyatanya, hanya dalam 7 hari berjalan, hati kami berkata lain, memang sejatinya kami tak suka dengan sikapnya, tapi ternyata hati ini memberikan cerita positif tentangnya, memberikan aura kebaikan yang pernah dia lakukan.
Dari satu cerita itu, membuktikan bahwa hati yang bersih saja yang bisa menjawab. Mungkin pernah kita tak suka dengan seseorang dengan berbagai alasan, tapi coba kita telisik lagi lebih jauh, apakah kita pun sudah menjadi sempurna seperti kita ingin dia sempurna?
Karena orang di sekitar kita itu adalah cerminan dari diri kita sendiri. Ada 3 faktor, pertama, Cermin, kita sama-sama buruknya dengannya. Kedua, Hidayah, mungkin kita adalah perantara Allah untuknya. Ketiga, Perbaikan, mungkin dengannya, kita bisa menjadi lebih baik lagi dan menuju tingkatan yang lebih tinggi. Karena Allah akan sediakan berbagai sarana prasarana untuk kita memperbaiki diri, dengan masalah-masalah itulah Allah mengasah hati kita.
"Suara hati seorang mukmin, dasarnya adalah panggilan fitrah. Itu sebabnya, Rasulullah SAW menyebutkan, 'istafti qalbak' (mintalah fatwa pada hatimu). Hati dan jiwa seorang mukmin memang istimewa. Dia bisa menyuarakan sesuatu yang selaras dengan keimanan. Dia bisa memanggil dengan panggilan ruh keinsyafan. Dan karenanya, hati atau jiwa ini penting diperhatikan hingga diajak berdialog."
Maka hati-hati berbicara tentangnya. Lisan kita harus dijaga untuk slalu mengucap kebenaran. Langkah kita harus selalu dijaga untuk menuju kebaikan. Telinga kita dijaga untuk selalu mendengar perkataan-perkataan yang ahsan. Dan itu artinya,
Kita harus MENJAGA HATI.
Karena segala yang kita lakukan asalnya adalah hati kita sendiri. Semuanya bermuara dari sana.
Kebaikan itu ada jikalau hati kita bersih..
Dan hati hanya bisa disentuh dengan hati :)
Seperti nasyid dari Snada yang ini,
"Hati kalau selalu bersih
Pandangannya akan menembus hijjab
Hati jika sudah bersih
Firasatnya tepat karena Allah
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran
Tapi hati jika dikotori
Bisikannya bukan lagi kebenaran"
Nah, kapan lagi? Ayo perbaiki dulu diri dan hati kita sendiri, sebelum memandang seseorang dengan pandangan yang tidak-tidak. Karena semua bermula dari hati, maka jagalah ia agar tetap bersih, tetap dekat dengan Allah, tetap bisa menerima feeling yang tepat, yang sumbernya adalah Allah..
Jadikan hatimu bercahaya.. dengan cahaya Allah.. :)
13 November 2012
Nampak Kuat, Sebenarnya Lemah
Islamedia – Langit diatas tiba tiba saja mendung. Dunia seolah
berhenti sementara. Saat lelaki yang bernama Tegar itu ternyata tak
setegar namanya. Kepribadiannya nampak sempurna, bacaan tilawahnya
indah, menjaga pandangan serta aktif dalam aktivitas dakwah. Itulah
cerita masa lalunya. Kini Tegar tak pernah muncul lagi dalam kafilah
dakwah, sekalinya terlihat ia langsung pergi menghindar. Apa yang
sebenarnya terjadi??
Dibalik kesempurnaan yang nampak dari dzahirnya, ada penyakit bathin yang pandai disembunyikannya. Penyakita inilah yang tak pernah nampak darinya. Dibalik keshalihannya, ada kemunafikan yang terpendam.
Tegar menjadi orang yang sholih saat berjamaah namun menjadi manusia lalai saat seorang diri. Dibalik sikapnya yang selalu menundukan pandangan, ternyata ada seorang wanita yang bernama kekasih dihatinya. Tegar tengah memadu kasih dengan seorang wanita yang jelas itu adalah sebuah bentuk kelemahan iman dalam hatinya, karena tak mampu menahan gejolak hasrat dalam hati, sedangkan Tegar tahu, bahwa pacaran dalam Islam adalah terlarang bagi muslim yang taat.
Sejak gerak tersembunyinya terbogkar, Tegar kian menjauh dan menghilang. Tegar yang semula nampak kuat ternyata lemah sebenarnya. Nampak seolah ahli ibadah, nyatanya hanyalah ahli maksiat yang pandai mengumpat.
Kasus yang lain tak kalah memprihatinkan. Seorang ustadz begitu indah menyamapaikan ceramah di khalayak umum, tiap kata yang mengalir dari mulutnya seolah membius perhatian seluruh jamaáh. Ustadz itu begitu pandai memberi tausiyah, begitu lancar dan fasih menyampaikan dakwahnya. Tapi sayang, setelah meninggalkan mimbar, ustadz itu telah lupa dengan apa yang ia sampaikan sendiri kepada jamaáhnya. Ia pandai menyampaiakan namun tak pandai mengamalkan. Orang yang dipanggil ustadz itu menyampaikan kewajiban menutup aurat bagi muslim yang sudah baligh dengan begitu indah dan mengena, esoknya ia bersantai dihalaman rumahnya hanya dengan menggunakan celana pendek yang tak menutupi batas auratnya yakni lutut. Ustadz itu tak sehebat dipanggung umum, ia teramat rapuh dengan dirinya sendiri.
Ustadz-ustadz yang lain tak kalah hebatnya memeberi tausiyah, termasuk para pejuang dakwah ini. Lantang menasihati saudaranya yang tengah melemah semangatnya atau tengah rusak ruhiyahnya, ia sendiri sebenarnya rapuh hanya saja tersembunyi rapih kerapuhannya. Kenyataannya ia sendiri lebih banyak menonton televisi ketimbang tilawah atau saling mengulang hafalan dirumah. Ia nampak kuat dimata saudaranya, namun sebenarnya ia sadar akan kerapuhan dirinya. ia sadar bahwa ruhinyah tengah ringkih, bahwa hubungannya sedang tak baik dengan Rabb nya. akhirnya iapun menjadi aktivis yang bermalas-malasan dalam dakwah.
Sederetan kasus lain pun tak kalah heboh dari dua kasus diatas, ada manusia yang nampak hebat namun sebenarnya ia lemah dari segala sisi. Ada pula manusia nampak tahu segalanya namun sebenarnya ia hanyalah manusia yang sok tahu. Semuanya terlihat kuat namun sebenarnya rapuh.
Ini adalah penyakit yang harus segera diobati. Mendiamkannya akan menjalar merusak seluruh organ tubuh yang akan membuatnya lumpuh. Tak jujur pada diri sendiri hanyalah menyisakan penderitaan bathin yang tak akan hilang selamanya kecuali jika bangkit menyadari kekeliruan diri. kejujuran yang bijaksana adalah, saat sadar dirinya tak sekuat apa yang dilihat orang, ia bangkit untuk memperbaikinya. kembali menjadi insan pemburu cinta-Nya yang tak pernah punah. memaksa diri untuk segera kembali ke jalan-Nya dan melawan kemalasan yang tengah memeranginya. itulah kejujuran yang bijaksana.
Siapa saja bisa membohongi siapapun, siapa saja bisa nampak terlihat hebat dan kuat di mata manusia. Namun Allah, Tuhan yang tak pernah tidur sangat tahu siapa manusia yang nampak kuat itu. Kebususkan apa yang tersembunyi di hatinya. Prilaku apa yang ia perbuat kala ia sendiri. DIA tahu semuanya tentang hamba-Nya.
Bagi seorang aktivis dakwah, nampak kuat lahir dan bathin adalah sebuah keharusan. Tak ada kata yang disampaikan kepada orang lain kecuali telah melaksanakannya. Tak ada perbedaan kualitas ibadah baik dalam keadaan sendiri maupun berjamaáh.
Ikhwan yang benar selalu menempatkan Allah di hatinya. Manakala syetan mengganggunya untuk bermaksiat, ia tersadar ada Allah yang selalu mengawasinya. wallahuálam [ar]
*copas dari http://www.islamedia.web.id/2012/11/nampak-kuat-sebenarnya-lemah.html
persis seperti keadaan kader-kader sekarang ini. Semoga perlahan-lahan akan kuat kembali.
Dibalik kesempurnaan yang nampak dari dzahirnya, ada penyakit bathin yang pandai disembunyikannya. Penyakita inilah yang tak pernah nampak darinya. Dibalik keshalihannya, ada kemunafikan yang terpendam.
Tegar menjadi orang yang sholih saat berjamaah namun menjadi manusia lalai saat seorang diri. Dibalik sikapnya yang selalu menundukan pandangan, ternyata ada seorang wanita yang bernama kekasih dihatinya. Tegar tengah memadu kasih dengan seorang wanita yang jelas itu adalah sebuah bentuk kelemahan iman dalam hatinya, karena tak mampu menahan gejolak hasrat dalam hati, sedangkan Tegar tahu, bahwa pacaran dalam Islam adalah terlarang bagi muslim yang taat.
Sejak gerak tersembunyinya terbogkar, Tegar kian menjauh dan menghilang. Tegar yang semula nampak kuat ternyata lemah sebenarnya. Nampak seolah ahli ibadah, nyatanya hanyalah ahli maksiat yang pandai mengumpat.
Kasus yang lain tak kalah memprihatinkan. Seorang ustadz begitu indah menyamapaikan ceramah di khalayak umum, tiap kata yang mengalir dari mulutnya seolah membius perhatian seluruh jamaáh. Ustadz itu begitu pandai memberi tausiyah, begitu lancar dan fasih menyampaikan dakwahnya. Tapi sayang, setelah meninggalkan mimbar, ustadz itu telah lupa dengan apa yang ia sampaikan sendiri kepada jamaáhnya. Ia pandai menyampaiakan namun tak pandai mengamalkan. Orang yang dipanggil ustadz itu menyampaikan kewajiban menutup aurat bagi muslim yang sudah baligh dengan begitu indah dan mengena, esoknya ia bersantai dihalaman rumahnya hanya dengan menggunakan celana pendek yang tak menutupi batas auratnya yakni lutut. Ustadz itu tak sehebat dipanggung umum, ia teramat rapuh dengan dirinya sendiri.
Ustadz-ustadz yang lain tak kalah hebatnya memeberi tausiyah, termasuk para pejuang dakwah ini. Lantang menasihati saudaranya yang tengah melemah semangatnya atau tengah rusak ruhiyahnya, ia sendiri sebenarnya rapuh hanya saja tersembunyi rapih kerapuhannya. Kenyataannya ia sendiri lebih banyak menonton televisi ketimbang tilawah atau saling mengulang hafalan dirumah. Ia nampak kuat dimata saudaranya, namun sebenarnya ia sadar akan kerapuhan dirinya. ia sadar bahwa ruhinyah tengah ringkih, bahwa hubungannya sedang tak baik dengan Rabb nya. akhirnya iapun menjadi aktivis yang bermalas-malasan dalam dakwah.
Sederetan kasus lain pun tak kalah heboh dari dua kasus diatas, ada manusia yang nampak hebat namun sebenarnya ia lemah dari segala sisi. Ada pula manusia nampak tahu segalanya namun sebenarnya ia hanyalah manusia yang sok tahu. Semuanya terlihat kuat namun sebenarnya rapuh.
Ini adalah penyakit yang harus segera diobati. Mendiamkannya akan menjalar merusak seluruh organ tubuh yang akan membuatnya lumpuh. Tak jujur pada diri sendiri hanyalah menyisakan penderitaan bathin yang tak akan hilang selamanya kecuali jika bangkit menyadari kekeliruan diri. kejujuran yang bijaksana adalah, saat sadar dirinya tak sekuat apa yang dilihat orang, ia bangkit untuk memperbaikinya. kembali menjadi insan pemburu cinta-Nya yang tak pernah punah. memaksa diri untuk segera kembali ke jalan-Nya dan melawan kemalasan yang tengah memeranginya. itulah kejujuran yang bijaksana.
Siapa saja bisa membohongi siapapun, siapa saja bisa nampak terlihat hebat dan kuat di mata manusia. Namun Allah, Tuhan yang tak pernah tidur sangat tahu siapa manusia yang nampak kuat itu. Kebususkan apa yang tersembunyi di hatinya. Prilaku apa yang ia perbuat kala ia sendiri. DIA tahu semuanya tentang hamba-Nya.
Bagi seorang aktivis dakwah, nampak kuat lahir dan bathin adalah sebuah keharusan. Tak ada kata yang disampaikan kepada orang lain kecuali telah melaksanakannya. Tak ada perbedaan kualitas ibadah baik dalam keadaan sendiri maupun berjamaáh.
Ikhwan yang benar selalu menempatkan Allah di hatinya. Manakala syetan mengganggunya untuk bermaksiat, ia tersadar ada Allah yang selalu mengawasinya. wallahuálam [ar]
*copas dari http://www.islamedia.web.id/2012/11/nampak-kuat-sebenarnya-lemah.html
persis seperti keadaan kader-kader sekarang ini. Semoga perlahan-lahan akan kuat kembali.
Label:
hikmah,
muhasabah,
Tazkiyatun Nafs
Lokasi:
Semarang, Indonesia
02 Oktober 2012
KAMMI Merah :)
KAMMI itu merah..
api yg membara, menyulut semangat para kader yg ada di dalamnya,
KAMMI itu mereka yg cinta..
bkn hnya skedar ‘cinta2an’ belaka, yg hny krn dunia yg fana..
tp cintanya pd Allah SWT, cintanya pd Al-Qur’an, & cintanya brkumpul dlm majelis ilmu..
tp jgnlah merah itu dicampur dg putih trlalu byk, hingga akhirnya warnanya brubah mjd merah jambu..
krn jkalau dmikian, warna ketegasan itu akan hilang..
Tetaplah istiqomah..
Aku sebenernya bikin kata2 ini cuma tiba2 aja, iseng2 aja, hehe. Tapi bagus juga sih, makanya tak buat lebih panjang nih jadi catetan
Kenapa bikin kata2 ini? pasti banyak orang yang akan bertanya, dan aku pun sebenarnya ga ngerti kenapa bisa bikin kata2 ini #nah kan jd mbulet -_-” … #oya, kisah tentang Ramadhan kemarin, nyusul dah…
KAMMI… Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Jika dijabarkan pun, seharusnya organisasi ini memiliki “Kesatuan”, ada “Action” nya, seorang “Mahasiswa”, warga “Indonesia”, dan yang perlu dicatat adalah dia seorang “MUSLIM”.
Kenapa kata MUSLIM sangat mencolok disini? karena jika digambarkan, organisasi ini bukan hanya organisasi biasa, karena ia adalah jundi-jundi dakwah, ia telah rela menjadi pasukan Allah, dan ia harusnya telah mengenal Allah dan Islam seperti ia mengenal dirinya sendiri.
Merah Jambu???
Satu hal yang biasanya ‘meracuni’ para aktivis yang lagi ‘galau’. Disini yang dimaksud bukan galau-galau yang biasanya diomongin orang, bukan juga galau yang terlalu melankolis atau apa, tapi ini lebih-lebih daripada ‘galau’! Kau tahu kenapa kawan aku berkata seperti ini? Ya, karena ini ini galaunya para aktivis, yang biasanya mereka adalah anak2 rohis. Tapi, mengapa mereka bisa-bisanya ‘kejebak’ dalam permainan ini?
Karena dzat Allah telah jauh dari mereka, & karena mereka nya yang lambat laun menjauhi Allah…
Nah, ini yang saya maksud sebagai ‘segalau-galaunya galau’ -_-” #pertanyaannya, bolehkah kader KAMMI galau yang beginian? jikalau boleh, apakah diizinkan berlarut2 dalam kegalauan? jawaban yang pasti adalah TIDAK
Masa futur itu pasti ada, hal itu tak bisa dibantah. Tapi, jangan lah berlarut-larut dalam kefuturan.
Seperti kata Ustadz Rahmat Abdullah…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH Rahmat Abdullah).”
Minimalkan rasa itu laah, INGET, Allah tidak tidur kawan!
Malulah pada-Nya jika seseorang dari kita berbuat yang tak terpuji. Kalau orang aja bisa cemburu, bahkan bisa sampai marahan berhari-hari bin bencinya minta ampun, apalagi Allah kawan… Jika Allah ‘cemburu’ pada seseorang yang dekat dengan kita, tapi dengan cara yang Allah tak suka, tak sesuai syari’at, BAYANGKAN! Allah marah sama kita, Allah ngejauhin kita, Allah ga ridho sama kita, bla bla bla…
**aku aja ga bisa bayangin itu hidup kayak gimana jadinya
, Yaa Allah… ighfirlii… Mesti kering banget tuh, ga bermanfaat setiap
harinya, dan mungkin hati kita jadi ngerasa jauuhh banget dari rahmatnya
Allah…
Jika kemarin ada isu2 ga bener tentang ‘Islam itu teroris’, maka jangan kita tambah-tambahin lah islam itu dengan sesuatu yang tidak ‘ahsan’, yang sebenarnya hal itu sama sekali tidak tertulis dalam surat cinta Allah, Al-Qur’an.
Ruh itu penting! Tidakkah kalian merasa, bahwa pancaran ruh seorang anggota itu dapat mempengaruhi sekelilingnya. Kalau ada 1 orang aja yang ga aktif, jarang keliatan, maka ia dapat mempengaruhi yang lain untuk tidak datang juga. Bahkan seorang pemimpin, semoga ulil amri kita (siapapun itu, dimanapun itu) di dalam dirinya memiliki pancaran ruh yang dekat dengan Allah. Bersyukurlah kawan…
Seorang mukmin itu bersaudara, maka sudah sepantasnyalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tidakkah kita ingin masuk Jannatul Firdaus-Nya bareng dengan saudara/i kita? Bersenda gurau disana, menikmati balasan cintanya Allah pada kita.?
Teruntuk kawan2ku di KAMMI, sama2 yukk jalan ke Jannatul Firdaus
Ya Allah… jagalah ka(m)mi dari fitnah buruk itu…
berikan ka(m)mi saudara-saudari yang slalu ada niat berjuang di jalan-Mu…
berikan ka(m)mi rasa cinta yang sangat pada surat cinta-Mu…
jadikan ka(m)mi mereka yang menjadi sahabat bahkan hafidz/ah Qur’an…
lalu sandingkan ka(m)mi dengan Rasulullah, para sahabat, shabiyyah, ‘alim, serta orang-orang yang Engkau cintai…
Sungguh… Segala kepenatan dan kesibukan hari ini akan terasa “indah” jika tetap masih meluangkan bersama Al-Qur’an… Allahummaj’alqur’analana fiddunya qorina wa filqiyamati syafia…
Perbanyaklah aktivitas kita dengan Al-Qur’an… Karena ialah obat hati, ialah pengikat antara kita dengan Allah SWT. Jangan lupakan, kalau Allah-lah Sang Pembolak-balik hati…
Jadi, mintalah telaga yang luas, penuh dengan cintanya Allah –jangan dipenuhin dg cintanya kita pada dunia yang fana ini—
Fastaqim! Istiqomah ya…
api yg membara, menyulut semangat para kader yg ada di dalamnya,
KAMMI itu mereka yg cinta..
bkn hnya skedar ‘cinta2an’ belaka, yg hny krn dunia yg fana..
tp cintanya pd Allah SWT, cintanya pd Al-Qur’an, & cintanya brkumpul dlm majelis ilmu..
tp jgnlah merah itu dicampur dg putih trlalu byk, hingga akhirnya warnanya brubah mjd merah jambu..
krn jkalau dmikian, warna ketegasan itu akan hilang..
Aku sebenernya bikin kata2 ini cuma tiba2 aja, iseng2 aja, hehe. Tapi bagus juga sih, makanya tak buat lebih panjang nih jadi catetan
Kenapa bikin kata2 ini? pasti banyak orang yang akan bertanya, dan aku pun sebenarnya ga ngerti kenapa bisa bikin kata2 ini #nah kan jd mbulet -_-” … #oya, kisah tentang Ramadhan kemarin, nyusul dah…
KAMMI… Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Jika dijabarkan pun, seharusnya organisasi ini memiliki “Kesatuan”, ada “Action” nya, seorang “Mahasiswa”, warga “Indonesia”, dan yang perlu dicatat adalah dia seorang “MUSLIM”.
Kenapa kata MUSLIM sangat mencolok disini? karena jika digambarkan, organisasi ini bukan hanya organisasi biasa, karena ia adalah jundi-jundi dakwah, ia telah rela menjadi pasukan Allah, dan ia harusnya telah mengenal Allah dan Islam seperti ia mengenal dirinya sendiri.
Merah Jambu???
Satu hal yang biasanya ‘meracuni’ para aktivis yang lagi ‘galau’. Disini yang dimaksud bukan galau-galau yang biasanya diomongin orang, bukan juga galau yang terlalu melankolis atau apa, tapi ini lebih-lebih daripada ‘galau’! Kau tahu kenapa kawan aku berkata seperti ini? Ya, karena ini ini galaunya para aktivis, yang biasanya mereka adalah anak2 rohis. Tapi, mengapa mereka bisa-bisanya ‘kejebak’ dalam permainan ini?
Karena dzat Allah telah jauh dari mereka, & karena mereka nya yang lambat laun menjauhi Allah…
Nah, ini yang saya maksud sebagai ‘segalau-galaunya galau’ -_-” #pertanyaannya, bolehkah kader KAMMI galau yang beginian? jikalau boleh, apakah diizinkan berlarut2 dalam kegalauan? jawaban yang pasti adalah TIDAK
Masa futur itu pasti ada, hal itu tak bisa dibantah. Tapi, jangan lah berlarut-larut dalam kefuturan.
Seperti kata Ustadz Rahmat Abdullah…
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Teruslah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu (KH Rahmat Abdullah).”
Minimalkan rasa itu laah, INGET, Allah tidak tidur kawan!
Malulah pada-Nya jika seseorang dari kita berbuat yang tak terpuji. Kalau orang aja bisa cemburu, bahkan bisa sampai marahan berhari-hari bin bencinya minta ampun, apalagi Allah kawan… Jika Allah ‘cemburu’ pada seseorang yang dekat dengan kita, tapi dengan cara yang Allah tak suka, tak sesuai syari’at, BAYANGKAN! Allah marah sama kita, Allah ngejauhin kita, Allah ga ridho sama kita, bla bla bla…
**aku aja ga bisa bayangin itu hidup kayak gimana jadinya
Jika kemarin ada isu2 ga bener tentang ‘Islam itu teroris’, maka jangan kita tambah-tambahin lah islam itu dengan sesuatu yang tidak ‘ahsan’, yang sebenarnya hal itu sama sekali tidak tertulis dalam surat cinta Allah, Al-Qur’an.
Ruh itu penting! Tidakkah kalian merasa, bahwa pancaran ruh seorang anggota itu dapat mempengaruhi sekelilingnya. Kalau ada 1 orang aja yang ga aktif, jarang keliatan, maka ia dapat mempengaruhi yang lain untuk tidak datang juga. Bahkan seorang pemimpin, semoga ulil amri kita (siapapun itu, dimanapun itu) di dalam dirinya memiliki pancaran ruh yang dekat dengan Allah. Bersyukurlah kawan…
Seorang mukmin itu bersaudara, maka sudah sepantasnyalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tidakkah kita ingin masuk Jannatul Firdaus-Nya bareng dengan saudara/i kita? Bersenda gurau disana, menikmati balasan cintanya Allah pada kita.?
Teruntuk kawan2ku di KAMMI, sama2 yukk jalan ke Jannatul Firdaus
Ya Allah… jagalah ka(m)mi dari fitnah buruk itu…
berikan ka(m)mi saudara-saudari yang slalu ada niat berjuang di jalan-Mu…
berikan ka(m)mi rasa cinta yang sangat pada surat cinta-Mu…
jadikan ka(m)mi mereka yang menjadi sahabat bahkan hafidz/ah Qur’an…
lalu sandingkan ka(m)mi dengan Rasulullah, para sahabat, shabiyyah, ‘alim, serta orang-orang yang Engkau cintai…
Sungguh… Segala kepenatan dan kesibukan hari ini akan terasa “indah” jika tetap masih meluangkan bersama Al-Qur’an… Allahummaj’alqur’analana fiddunya qorina wa filqiyamati syafia…
Perbanyaklah aktivitas kita dengan Al-Qur’an… Karena ialah obat hati, ialah pengikat antara kita dengan Allah SWT. Jangan lupakan, kalau Allah-lah Sang Pembolak-balik hati…
Fastaqim! Istiqomah ya…
Label:
cerita,
Tazkiyatun Nafs
Lokasi:
Semarang, Indonesia
04 Juli 2012
Do'a Robithoh
Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu…
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya…
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya…
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar…
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu…
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu…
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu…
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong…
Ya Allah… Aamiiin… Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan…
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu…
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya…
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya…
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar…
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu…
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu…
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu…
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong…
Ya Allah… Aamiiin… Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan…
Label:
cerita,
Nasyid,
Tazkiyatun Nafs
Lokasi:
Semarang, Indonesia
Aku Rindu-Puisi Cinta Ust. Rahmat Abdullah
Aku Rindu Dengan Zaman Itu…
Aku rindu zaman ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan
Aku rindu zaman ketika “membina” adalah kewajiban,
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan
Aku rindu zaman ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan
Aku rindu zaman ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan
Aku rindu zaman ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan
Aku rindu zaman ketika “nasihat” menjadi kesenangan,
bukan su’udzon atau menjatuhkan
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini
Aku rindu zaman ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan
Aku rindu zaman ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian
Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah
Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan
Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya
Aku rindu zaman itu,..
Aku rindu…Ya ALLAH,..
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami…
Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama…
- – Puisi Cinta Ustadz Rahmat Abdullah – -
Aku rindu zaman ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan
Aku rindu zaman ketika “membina” adalah kewajiban,
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan
Aku rindu zaman ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan
Aku rindu zaman ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan
Aku rindu zaman ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan
Aku rindu zaman ketika “nasihat” menjadi kesenangan,
bukan su’udzon atau menjatuhkan
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini
Aku rindu zaman ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan
Aku rindu zaman ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian
Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh dakwah di desa sebelah
Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur’an terjemahan ditambah sedikit hafalan
Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat berita kumpul subuh harinya
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya
Aku rindu zaman itu,..
Aku rindu…Ya ALLAH,..
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami…
Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama…
- – Puisi Cinta Ustadz Rahmat Abdullah – -
Label:
Tazkiyatun Nafs
Lokasi:
Semarang, Indonesia
30 Mei 2012
Tazkiyatun Nafs
Roda kehidupan terus menggelinding. Banyak cerita dan episode yang
dilewati pada setiap putarannya. Ada sedih, ada senang. Ada derita, ada
bahagia. Ada suka, ada duka. Ada kesempitan, ada keluasan. Ada
kesulitan, dan ada kemudahan. Tidak ada manusia yang tidak melewatinya.
Hanya kadarnya saja yang mungkin tidak selalu sama. Maka, situasi apapun
yang tengah engkau jalani saat ini, tenangkanlah hatimu ..
Manusia bukan pemilik kehidupan. Tidak ada manusia yang selalu berhasil meraih keinginannya. Hari ini bersorak merayakan kesuksesan, esok lusa bisa jadi menangis meratapi kegagalan. Saat ini bertemu, tidak lama kemudian berpisah. Detik ini bangga dengan apa yang dimilikinya, detik berikutnya sedih karena kehilangannya. Maka, episode apapun yang sedang engkau lalui pada detik ini, tenangkanlah hatimu ..
Cerita tidak selalu sama. Episode terus berubah. Berganti dari satu situasi kepada situasi yang lain. Berbolak-balik. Bertukar-tukar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang maju, kadang mundur. Itulah kehidupan. Namun, satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah pada kita; yaitu, hati yang selalu tenang dan tetap teguh dalam kebenaran …
Saudaraku, ketenangan sangat kita butuhkan dalam menghadapi segala situasi dalam hidup ini. Terutama dalam situasi sulit dan ditimpa musibah. Jika hati dalam kondisi tenang, maka buahnya lisan dan anggota badan pun akan tenang. Tindakan akan tetap pada jalur yang dibenarkan dan jauh dari sikap membahayakan. Kata-kata akan tetap hikmah dan tidak keluar dari kesantunan, sesulit dan separah apa pun situasi yang sedang kita hadapi. Dan dengan itu lah kemudian –insya Allah- kita akan meraih keuntungan.
Ketenangan Milik Orang yang Beriman
Ketenangan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Tentang hal ini Allah berfirman:
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)
Syaikh Abdurrahman As-Si’dy rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan tentang karunia-Nya atas orang-orang yang beriman dengan diturunkan kepada hati mereka sakinah. Ia adalah ketenangan dan keteguhan dalam kondisi terhimpit cobaan dan kesulitan yang menggoyahkan hati, mengganggu pikiran dan melemahkan jiwa. Maka diantara nikmat Allah atas orang-orang yang beriman dalam situasi ini adalah, Allah meneguhkan dan menguatkan hati mereka, agar mereka senantiasa dapat menghadapi kondisi ini dengan jiwa yang tenang dan hati yang teguh, sehingga mereka tetap mampu menunaikan perintah Allah dalam kondisi sulit seperti ini pun. Maka bertambahlah keimanan mereka, semakin sempurnalah keteguhan mereka.” (Taisir al Karim: 791)
ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)
Senjata Orang Beriman
Jiwa yang tenang dan hati yang teguh adalah senjata orang-orang shaleh dari sejak dahulu dalam menghadapi kondisi sulit yang mereka temui dalam kehidupan mereka.
Ashabul Kahfi adalah diantaranya. Saat mereka mengumandangkan kebenaran tauhid dan orang-orang pun berusaha untuk menyakiti mereka, sehingga mereka terusir dari tempat mereka dengan meninggalkan keluarga dan kenyamanan hidup yang sedang mereka nikmati, serta tinggal di gua tanpa makanan dan minuman, ketenangan dan keteguhanlah yang membuat mereka mampu bertahan. Allah berfirman tentang mereka,
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al Kahfi [18]: 14)
Dalam perjalanan dakwah dan jihad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingat kisah perjalanan hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya yang mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika mereka berdua masuk ke dalam gua, berlindung dari kejaran orang-orang musyrik yang saat itu tengah dalam kemarahan yang memuncak dan dengan pedang-pedang yang terhunus, hingga Abu Bakar berkata, “Jika salah satu mereka menundukkan pandangannya ke arah kedua sandalnya, niscaya ia akan melihat kita.” Dalam kondisi genting itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh ketenangan berkata, “Bagaimana menurutmu tentang dua orang, yang Allah ketiganya.” (Lihat Shahîh al Bukhâri no: 3653, Shahîh Muslim no: 2381)
Allah berfirman:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.” (QS. Al Taubah [9]: 40)
Kisah lain yang sangat menakjubkan adalah kisah pada hari perang badar. Musuh dalam kondisi sangat kuat dan digdaya, dengan persenjataan yang cukup lengkap di depan mata, menghadapi tentara Allah yang sedikit, persenjataan kurang dan tanpa persiapan untuk berperang. Akan tetapi ketenangan bersemayam dalam hati-hati mereka. Maka Allah memenangkan mereka dengan kemenangan yang jelas.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, “Oleh karena itu, Allah mengabarkan tentang turunnya ketenangan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman dalam situasi-situasi sulit.” (Madâriju al Sâlikîn: 4/392 cet. Dâr al Thîbah)
Meraih Ketenangan
Jika demikian penting ketenangan dalam hidup kita, karena kesuksesan juga sangat bergantung kepadanya, maka bagaimanakah cara untuk meraih ketenangan itu? Sebagian orang mencari ketenangan dengan perbuatan sia-sia, sebagian mereka bahkan mencari ketenangan di tempat-tempat kemaksiatan. Semua itu keliru dan fatal akibatnya. Alih-alih ketenangan, semua itu justru akan semakin membuat hati diliputi kesedihan. Jika pun ketenangan didapatkannya, namun ia adalah ketenangan yang palsu dan sesaat.
Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir al Syatsry –semoga Allah menjaganya- dalam kitabnya “Hayâtu al Qulûb” menyebutkan arahan-arahan yang terdapat dalam al Qur`an dan sunnah untuk meraih ketenangan tersebut:
1. Berkumpul dalam rangka mencari ilmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:
« مَا اجتمعَ قَوم في بيت من بُيُوتِ الله تباركَ وتعالى يَتْلُونَ كتابَ الله عزَّ وجلَّ ، ويَتَدَارَسُونَهُ بينهم ، إِلا نزلت عليهم السكينةُ ، وَغَشِيَتْهم الرحمةُ ، وحَفَّتْهم الملائكة ، وذكرهم الله فيمن عنده »
“Tidaklah suatu kaum berkumpul sebuah rumah Allah tabaraka wa ta’ala, mereka membaca Kitabullah azza wa jalla, mempelajarinya sesama mereka, melainkan akan turun kepada mereka sakinah, rahmat akan meliputi mereka, para malaikan akan mengelilingi mereka dan Allah senantiasa menyebut-nyebut mereka dihadapan malaikan yang berada di sisi-Nya.” (HR Muslim no. 2699)
2. Berdoa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah mengulang-ulang kalimat doa berikut dalam perang ahzab:
فَأَنْزِلَنَّ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتِ الأَقْدَامِ إِنْ لَاقِينَا
“Maka turunkanlah ketenangan kepada kami
Serta teguhkan lah kaki-kaki kami saat kami bertemu (musuh)”
Maka Allah memberikan mereka kemenangan dan meneguhkan mereka.
3. Membaca al Qur`an.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ »
“Ia adalah ketenangan yang turun karena al Qur`an.” (HR Bukhari: 4839, Muslim: 795)
4. Memperbanyak dzikrullah.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du [13]: 28)
5. Bersikap wara’ (hati-hati) dari perkara syubhat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ
“Kebaikan itu adalah yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tentram kepadanya. Sementara dosa adalah yang jiwa meresa tidak tenang dan hati merasa tidak tentram kepadanya, walaupun orang-orang mememberimu fatwa (mejadikan untukmu keringanan).” (HR Ahmad no. 17894, dishahihkan al Albani dalam Shahîh al Jâmi no: 2881)
6. Jujur dalam berkata dan berbuat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu keragu-raguan.” (HR Tirmidzi no: 2518)
Begitu pun semua ketaatan kepada Allah dan sikap senantiasa bersegera kepada amal shaleh adalah diantara faktor yang akan mendatangkan ketenangan kepada hati seorang mukmin. Jika kita selalu mendengar dan berusaha untuk mentaati Allah dan rasul-Nya, maka hati kita akan kian tenang dan teguh. Allah berfirman:
“…Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (QS. An Nisâ [4]: 68)
Saudaraku, jika kita dapat mempertahankan ketenangan hati sehingga senantiasa teguh berada dalam jalan Allah, apa pun yang terjadi kepada kita, maka bergembiralah, karena kelak saat kita meninggalkan dunia yang fana ini, akan ada yang berseru kepada kita dengan seruan ini:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]: 27-30) (Lihat Hayâtu al Qulûb: 90-91)
Wallâhu ‘alam, wa shallallâhu ‘alâ nabiyyinâ Muhammad.
[Meteri ilmiah dalam tulisan ini banyak diispirasi oleh Kitab Madâruju al Sâlikîn karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh, cet. Dâr al Thîbah dan Kitab Hayâtu al Qulûb cet. Dâr Kunûz Isybîliyâ karya Syaikhunâ Dr. Sa’ad bin Nâshir al Syatsry hafidzahullâh]
Riyadh, 27 Jumada Tsani 1433 H
Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc (Alumni Universitas Al Azhar Mesir dan da’i di Maktab Jaliyat Bathah Riyadh KSA)
Artikel Muslim.Or.Id
Dari artikel Tenangkanlah Hatimu — Muslim.Or.Id by null
Manusia bukan pemilik kehidupan. Tidak ada manusia yang selalu berhasil meraih keinginannya. Hari ini bersorak merayakan kesuksesan, esok lusa bisa jadi menangis meratapi kegagalan. Saat ini bertemu, tidak lama kemudian berpisah. Detik ini bangga dengan apa yang dimilikinya, detik berikutnya sedih karena kehilangannya. Maka, episode apapun yang sedang engkau lalui pada detik ini, tenangkanlah hatimu ..
Cerita tidak selalu sama. Episode terus berubah. Berganti dari satu situasi kepada situasi yang lain. Berbolak-balik. Bertukar-tukar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang maju, kadang mundur. Itulah kehidupan. Namun, satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah pada kita; yaitu, hati yang selalu tenang dan tetap teguh dalam kebenaran …
Saudaraku, ketenangan sangat kita butuhkan dalam menghadapi segala situasi dalam hidup ini. Terutama dalam situasi sulit dan ditimpa musibah. Jika hati dalam kondisi tenang, maka buahnya lisan dan anggota badan pun akan tenang. Tindakan akan tetap pada jalur yang dibenarkan dan jauh dari sikap membahayakan. Kata-kata akan tetap hikmah dan tidak keluar dari kesantunan, sesulit dan separah apa pun situasi yang sedang kita hadapi. Dan dengan itu lah kemudian –insya Allah- kita akan meraih keuntungan.
Ketenangan Milik Orang yang Beriman
Ketenangan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Tentang hal ini Allah berfirman:
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)
Syaikh Abdurrahman As-Si’dy rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan tentang karunia-Nya atas orang-orang yang beriman dengan diturunkan kepada hati mereka sakinah. Ia adalah ketenangan dan keteguhan dalam kondisi terhimpit cobaan dan kesulitan yang menggoyahkan hati, mengganggu pikiran dan melemahkan jiwa. Maka diantara nikmat Allah atas orang-orang yang beriman dalam situasi ini adalah, Allah meneguhkan dan menguatkan hati mereka, agar mereka senantiasa dapat menghadapi kondisi ini dengan jiwa yang tenang dan hati yang teguh, sehingga mereka tetap mampu menunaikan perintah Allah dalam kondisi sulit seperti ini pun. Maka bertambahlah keimanan mereka, semakin sempurnalah keteguhan mereka.” (Taisir al Karim: 791)
ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)
Senjata Orang Beriman
Jiwa yang tenang dan hati yang teguh adalah senjata orang-orang shaleh dari sejak dahulu dalam menghadapi kondisi sulit yang mereka temui dalam kehidupan mereka.
Ashabul Kahfi adalah diantaranya. Saat mereka mengumandangkan kebenaran tauhid dan orang-orang pun berusaha untuk menyakiti mereka, sehingga mereka terusir dari tempat mereka dengan meninggalkan keluarga dan kenyamanan hidup yang sedang mereka nikmati, serta tinggal di gua tanpa makanan dan minuman, ketenangan dan keteguhanlah yang membuat mereka mampu bertahan. Allah berfirman tentang mereka,
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al Kahfi [18]: 14)
Dalam perjalanan dakwah dan jihad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingat kisah perjalanan hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya yang mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika mereka berdua masuk ke dalam gua, berlindung dari kejaran orang-orang musyrik yang saat itu tengah dalam kemarahan yang memuncak dan dengan pedang-pedang yang terhunus, hingga Abu Bakar berkata, “Jika salah satu mereka menundukkan pandangannya ke arah kedua sandalnya, niscaya ia akan melihat kita.” Dalam kondisi genting itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh ketenangan berkata, “Bagaimana menurutmu tentang dua orang, yang Allah ketiganya.” (Lihat Shahîh al Bukhâri no: 3653, Shahîh Muslim no: 2381)
Allah berfirman:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.” (QS. Al Taubah [9]: 40)
Kisah lain yang sangat menakjubkan adalah kisah pada hari perang badar. Musuh dalam kondisi sangat kuat dan digdaya, dengan persenjataan yang cukup lengkap di depan mata, menghadapi tentara Allah yang sedikit, persenjataan kurang dan tanpa persiapan untuk berperang. Akan tetapi ketenangan bersemayam dalam hati-hati mereka. Maka Allah memenangkan mereka dengan kemenangan yang jelas.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, “Oleh karena itu, Allah mengabarkan tentang turunnya ketenangan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman dalam situasi-situasi sulit.” (Madâriju al Sâlikîn: 4/392 cet. Dâr al Thîbah)
Meraih Ketenangan
Jika demikian penting ketenangan dalam hidup kita, karena kesuksesan juga sangat bergantung kepadanya, maka bagaimanakah cara untuk meraih ketenangan itu? Sebagian orang mencari ketenangan dengan perbuatan sia-sia, sebagian mereka bahkan mencari ketenangan di tempat-tempat kemaksiatan. Semua itu keliru dan fatal akibatnya. Alih-alih ketenangan, semua itu justru akan semakin membuat hati diliputi kesedihan. Jika pun ketenangan didapatkannya, namun ia adalah ketenangan yang palsu dan sesaat.
Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir al Syatsry –semoga Allah menjaganya- dalam kitabnya “Hayâtu al Qulûb” menyebutkan arahan-arahan yang terdapat dalam al Qur`an dan sunnah untuk meraih ketenangan tersebut:
1. Berkumpul dalam rangka mencari ilmu.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:
« مَا اجتمعَ قَوم في بيت من بُيُوتِ الله تباركَ وتعالى يَتْلُونَ كتابَ الله عزَّ وجلَّ ، ويَتَدَارَسُونَهُ بينهم ، إِلا نزلت عليهم السكينةُ ، وَغَشِيَتْهم الرحمةُ ، وحَفَّتْهم الملائكة ، وذكرهم الله فيمن عنده »
“Tidaklah suatu kaum berkumpul sebuah rumah Allah tabaraka wa ta’ala, mereka membaca Kitabullah azza wa jalla, mempelajarinya sesama mereka, melainkan akan turun kepada mereka sakinah, rahmat akan meliputi mereka, para malaikan akan mengelilingi mereka dan Allah senantiasa menyebut-nyebut mereka dihadapan malaikan yang berada di sisi-Nya.” (HR Muslim no. 2699)
2. Berdoa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah mengulang-ulang kalimat doa berikut dalam perang ahzab:
فَأَنْزِلَنَّ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتِ الأَقْدَامِ إِنْ لَاقِينَا
“Maka turunkanlah ketenangan kepada kami
Serta teguhkan lah kaki-kaki kami saat kami bertemu (musuh)”
Maka Allah memberikan mereka kemenangan dan meneguhkan mereka.
3. Membaca al Qur`an.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ »
“Ia adalah ketenangan yang turun karena al Qur`an.” (HR Bukhari: 4839, Muslim: 795)
4. Memperbanyak dzikrullah.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du [13]: 28)
5. Bersikap wara’ (hati-hati) dari perkara syubhat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ
“Kebaikan itu adalah yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tentram kepadanya. Sementara dosa adalah yang jiwa meresa tidak tenang dan hati merasa tidak tentram kepadanya, walaupun orang-orang mememberimu fatwa (mejadikan untukmu keringanan).” (HR Ahmad no. 17894, dishahihkan al Albani dalam Shahîh al Jâmi no: 2881)
6. Jujur dalam berkata dan berbuat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu keragu-raguan.” (HR Tirmidzi no: 2518)
Begitu pun semua ketaatan kepada Allah dan sikap senantiasa bersegera kepada amal shaleh adalah diantara faktor yang akan mendatangkan ketenangan kepada hati seorang mukmin. Jika kita selalu mendengar dan berusaha untuk mentaati Allah dan rasul-Nya, maka hati kita akan kian tenang dan teguh. Allah berfirman:
“…Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (QS. An Nisâ [4]: 68)
Saudaraku, jika kita dapat mempertahankan ketenangan hati sehingga senantiasa teguh berada dalam jalan Allah, apa pun yang terjadi kepada kita, maka bergembiralah, karena kelak saat kita meninggalkan dunia yang fana ini, akan ada yang berseru kepada kita dengan seruan ini:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]: 27-30) (Lihat Hayâtu al Qulûb: 90-91)
Wallâhu ‘alam, wa shallallâhu ‘alâ nabiyyinâ Muhammad.
[Meteri ilmiah dalam tulisan ini banyak diispirasi oleh Kitab Madâruju al Sâlikîn karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh, cet. Dâr al Thîbah dan Kitab Hayâtu al Qulûb cet. Dâr Kunûz Isybîliyâ karya Syaikhunâ Dr. Sa’ad bin Nâshir al Syatsry hafidzahullâh]
Riyadh, 27 Jumada Tsani 1433 H
Penulis: Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc (Alumni Universitas Al Azhar Mesir dan da’i di Maktab Jaliyat Bathah Riyadh KSA)
Artikel Muslim.Or.Id
Dari artikel Tenangkanlah Hatimu — Muslim.Or.Id by null
Label:
curcol,
hikmah,
muhasabah,
Tazkiyatun Nafs
Lokasi:
Semarang, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)

