Tiba-tiba, suara dering HP-ku terdengar nyaring, memecah keheningan yang ada di ruangan saat itu.
Seketika aku buka tombol terkuncinya. Dan satu nama tercinta terpampang di layar. IBU.
Aku buka pesan di dalamnya, dan dalam beberapa detik bibirku mengulum senyum, seketika hati dan diri ini ingin menangis..
"Asswrwb nduk vi ibu sangat bersyukur nduk. Barusan ibu sms sm wali kelas dek rahma tanya gimana hasil seleksi OSN Matematikanya. Alhamdulillah, adik bisa lolos seleksi dari 17 orang, diambil 5. Ya Allah moga jadi berkah.."
"Ibu juga sekalian sms musrifahnya dek rahma yang pertama kemarin, yang masih ngajar Al-Qur'an di SMP-nya, Alhamdulillah katanya dek rahma hafalannya bagus. Ibu bersyukur banget, nduk."
(15-11-13 ; 14.19)
Ya Rabb... air mata ini serasa mengalir dengan derasnya. Hati ini gembira, bersyukur rasanya bukan main. Sementara bibir ini mengembangkan senyum dengan sempurna.
Ya Allah.. inikah yang disebut bahagia?
Bahagia ketika saudarinya mendapatkan sesuatu yang sebelumnya kita inginkan tapi belum tercapai?
Ahh.. indahnya bahagia itu jika ini maknanya.. :)
Bersyukur karena Allah telah mengabulkan sedikit demi sedikit do'a-do'aku. Bersyukur, Allah memberikan kesempatan itu padamu, adik tercinta. Bersyukur, syukur, dan syukur.. Hati ini tak dapat memendam rasa bahagianya mendapat kabar baik yang ibu sampaikan..
Do'aku untukmu.. Catatan ini hanya sedikit sebagai tanda syukurku. Catatan ini hanya sebagian kecil dari besarnya rasa bahagiaku memiliki adik sepertimu. Kuharap ini bukan catatan terakhirku tentangmu.. Tentangmu dan segala bentuk syukurku pada-Nya..
Rahma Aulia Kholidina.. Semoga persis seperti namamu, yang slalu mendapat rahmat Allah, slalu menjadi kekasih Allah, untuk selamanya :)
Slamat berjuang kembali.. Raih cita-cita tertinggi itu, nak.. *aku pun disini sedang sama-sama berjuang sepertimu, hanya saja tingkatannya berbeda*
Setiap kemenangan dan ujian, adalah 2 mata uang yang saling melengkapi. Melengkapi kesuksesan kita di hadapan Allah. Semoga kita adalah salah satu dari yang Allah pilih untuk bisa memanajemen itu semua :)
#Semangat & Sukses untuk OSN besok! ^^
**Sebongkah senyum di tengah banyaknya prahara**
apa yang kualami, apa yang kutulis, semua atas rencana-Nya. Allah Sutradara Terbaik! Percayalah ^_^
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
16 November 2013
29 Oktober 2013
Tentang Aku---Arti Sebuah Nama
Ya, karena ceritanya lagi nggak ada kerjaan, malem ini mau ngeborong tulisan sendiri, hehe.
Tulisan ini tentang aku. Ya, tentang diriku.
Namaku Ovi Annisa Qurrota A'yun.
Ingin sekedar menulis walaupun hanya aku seorang yang membacanya.
Mungkin kali ini masih tersadar dengan ingatan yang kuat,
Mungkin sekarang masih bisa menulis dengan rapi, teratur, tak kesulitan dalam mengetik huruf demi huruf yang ada,
Mungkin juga saat ini terakhir kali ingatanku masih jernih.
Mungkin dan mungkin..
Namun tak dapat dipungkiri bahwa ada saatnya nanti aku akan lupa satu demi satu ingatanku.
Dan di saat itulah tulisan ini berguna untuk sekedar mengenang yang telah lalu, terutama tentang diriku sendiri :)
Ingin sedikit bercerita tentang asal muasal namaku. Kenapa bisa Ovi Annisa Qurrota A'yun?
Banyak orang yang bilang, namaku seperti kereta, panjangnya bukan main.
Dari SD sampai sekarang, pasti yang baca bakal komentar, "Namanya panjang banget mbak, kayak kereta."
wkwk.. mungkin itu dulu yang kebanyakan orang Jawa memberi nama dengan nama yang simpel, paling hanya 2 kata.
Tapi sekarang, banyak kutemui nama-nama yang lebih panjang dan lebih ribet dari namaku. :D
Ya, Ovi, ini sebuah nama panggilan. Dari arti namanya pun tak ada makna tersendiri. Jadi dulu ceritanya ibuku punya saudara, nah anaknya diberi nama Shofiyah. Tapi nama panggilannya Ovi.
Mbaknya tuh pas kecilnya cerdas banget, sumeh (red: gampang senyum), supel, suka cerita, cerewet banget pokoknya. Dan saat itu ibuku lagi mengandungku, lalu terinspirasi dengan nama kecil itu.
Shofiyah dalam bahasa arab artinya jernih, suci. Terus kalau kata ibuku, Ovi jika ditulis dengan tulisan arab, jadinya 'Aufiya'. Itu pun ada ari tersendiri, yang artinya Sehat.
Itu asal muasal nama panggilanku, terlahir dari seorang bocah cilik yang manis, cantik, dan cerdas. Subhanallah.. aku bersyukur mendapat nama ini. Pernah juga aku bertemu dengan mbak Ovi satu kali, dan memang cerdasnya bukan main. Dan beliau seorang dokter. Semoga tertular pada diriku sendiri :)
Lalu kata Annisa, pasti udah familiar di kalangan masyarakat. Artinya adalah 'anak perempuan'
Qurrota A'yun, nah ini yang biasanya pada nanya, artinya apa.. hhe
Padahal di khutbah jum'at atau do'a-do'a, banyak yang memperdengarkan kata ini.
Kalau mau lihat kata ini tercantum dalam doa apa, buka saja Q.S. Al-Furqon:74, yang artinya
"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
Nah tuh, Qurrota A'yun = Penyenang hati, kalau ibuku sendiri bilang, Penyejuk Mata Hati.. ^^
Jadi kalau digabung jadi satu, artinya Ovi seorang anak perempuan yang menjadi peyejuk mata hati. Atau 'anak yang sehat lagi menyejukkan hati', atau 'anak yang suci lagi penyejuk mata hati'
Hehe, sekian saja perkenalan dari arti kata nama saya dan asal muasalnya.
Berat banget kalau dilihat dari artinya, semoga saja diri ini bisa benar-benar mencerminkan sesuai dengan nama yang ada.
Aamiiin...
Karena nama adalah doa, jadi panggillah seseorang dengan nama yang baik, dan berilah nama dengan nama yang baik pula, sehingga saat ada yang memanggilnya, menjadi doa baginya. :)
Tulisan ini tentang aku. Ya, tentang diriku.
Namaku Ovi Annisa Qurrota A'yun.
Ingin sekedar menulis walaupun hanya aku seorang yang membacanya.
Mungkin kali ini masih tersadar dengan ingatan yang kuat,
Mungkin sekarang masih bisa menulis dengan rapi, teratur, tak kesulitan dalam mengetik huruf demi huruf yang ada,
Mungkin juga saat ini terakhir kali ingatanku masih jernih.
Mungkin dan mungkin..
Namun tak dapat dipungkiri bahwa ada saatnya nanti aku akan lupa satu demi satu ingatanku.
Dan di saat itulah tulisan ini berguna untuk sekedar mengenang yang telah lalu, terutama tentang diriku sendiri :)
Ingin sedikit bercerita tentang asal muasal namaku. Kenapa bisa Ovi Annisa Qurrota A'yun?
Banyak orang yang bilang, namaku seperti kereta, panjangnya bukan main.
Dari SD sampai sekarang, pasti yang baca bakal komentar, "Namanya panjang banget mbak, kayak kereta."
wkwk.. mungkin itu dulu yang kebanyakan orang Jawa memberi nama dengan nama yang simpel, paling hanya 2 kata.
Tapi sekarang, banyak kutemui nama-nama yang lebih panjang dan lebih ribet dari namaku. :D
Ya, Ovi, ini sebuah nama panggilan. Dari arti namanya pun tak ada makna tersendiri. Jadi dulu ceritanya ibuku punya saudara, nah anaknya diberi nama Shofiyah. Tapi nama panggilannya Ovi.
Mbaknya tuh pas kecilnya cerdas banget, sumeh (red: gampang senyum), supel, suka cerita, cerewet banget pokoknya. Dan saat itu ibuku lagi mengandungku, lalu terinspirasi dengan nama kecil itu.
Shofiyah dalam bahasa arab artinya jernih, suci. Terus kalau kata ibuku, Ovi jika ditulis dengan tulisan arab, jadinya 'Aufiya'. Itu pun ada ari tersendiri, yang artinya Sehat.
Itu asal muasal nama panggilanku, terlahir dari seorang bocah cilik yang manis, cantik, dan cerdas. Subhanallah.. aku bersyukur mendapat nama ini. Pernah juga aku bertemu dengan mbak Ovi satu kali, dan memang cerdasnya bukan main. Dan beliau seorang dokter. Semoga tertular pada diriku sendiri :)
Lalu kata Annisa, pasti udah familiar di kalangan masyarakat. Artinya adalah 'anak perempuan'
Qurrota A'yun, nah ini yang biasanya pada nanya, artinya apa.. hhe
Padahal di khutbah jum'at atau do'a-do'a, banyak yang memperdengarkan kata ini.
Kalau mau lihat kata ini tercantum dalam doa apa, buka saja Q.S. Al-Furqon:74, yang artinya
"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
Nah tuh, Qurrota A'yun = Penyenang hati, kalau ibuku sendiri bilang, Penyejuk Mata Hati.. ^^
Jadi kalau digabung jadi satu, artinya Ovi seorang anak perempuan yang menjadi peyejuk mata hati. Atau 'anak yang sehat lagi menyejukkan hati', atau 'anak yang suci lagi penyejuk mata hati'
Hehe, sekian saja perkenalan dari arti kata nama saya dan asal muasalnya.
Berat banget kalau dilihat dari artinya, semoga saja diri ini bisa benar-benar mencerminkan sesuai dengan nama yang ada.
Aamiiin...
Karena nama adalah doa, jadi panggillah seseorang dengan nama yang baik, dan berilah nama dengan nama yang baik pula, sehingga saat ada yang memanggilnya, menjadi doa baginya. :)
Random-Tentang Tulisan
Pengen nulis.. tapi bingung mau nulis apa.
Ide di kepala udah banyak banget, ngantri buat dituangkan dalam tulisan.
Draft di blog pun nggak kalah banyak, nunggu buat di-publish, tapi gajadi-jadi.
Hfftt..
Beginilah kalau menulis bukan dijadikan kebutuhan sehari-hari, ujung-ujungnya lupa gimana caranya nulis. Bingung gimana mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Nyambungin kabel dari hati-pikiran ke tulisan dengan segala uneg-uneg, bahasanya jadi semakin ribet.
Hmm... teguran banget ini. Diminta buat semakin produktif dalam menulis. Kode-kode disuruh produktif lagi buat baca-baca.
Teguran banget!
Aktivitas bukan hanya di luar. Yang kerjanya main ke kampus, dengerin dosen, pulang, ikut majelis ilmu, syuro', ngumpul bareng temen-temen, beresin kosan, dan lain-lain.
Tapi dituntut lebih dari itu. Aktivitas baca buku, nulis, harus setiap hari juga. Harus selalu diasah biar semakin tajam. Biar semakin mahir dalam merangkai kata. Dan tentunya nggak bingung-bingung lagi harus menuangkan tulisan dalam hal apa. Karena setiap yang dirasa ada catatannya, setiap ide yang muncul langsung diolah dalam sebuah rangkaian kata.
Teguran banget!
Mentang-mentang anak planologi, kalau udah survey, kecapekan, terus ilang sense nulisnya.
Seharusnya pengalaman saat berkeliling itulah yang harus diikat dalam sebuah tulisan. Tercatat sebagai rekam jejak pengalaman.
Hobi nulis bukan hadir dengan sendirinya, ia hadir karena kebiasaan.
Kebiasaan pun bukan dengan mudah kita melakukannya, tapi harus ada satu paksaan terlebih di awalnya.
Seperti kata-kata yang saya dengar minggu lalu, "sebenarnya bukan waktu kita yang terbatas, tapi NIAT kita yang terbatas."
Nge-jleebb banget lah pokoknya.
Harus pinter-pinter ngatur waktu, terlebih ngatur niat! :)
Mulai saat ini, nulis harus jadi bagian dari kebutuhan, bukan hanya sebuah paksaan.
Mulai saat ini nulis jangan dijadiin beban. Apapun yang ada, tulis-tulis-tulis. Sejelek apapun tulisan kita, sejelek apapun tata bahasa kita, yang penting NULIS!
Nggak ada kata-kata 'Nggak bakat nulis'.
Apapun harus ditulis. Kata 'ngedit' itu bagian akhir sajalah.
Seiring berjalannya waktu, insyaAllah tulisan kita bakal terasah, bahasa kita bakal nambah kosa katanya, dan ilmu tentang kepenulisan, bisa kita pelajari secara otodidak berdasarkan pengalaman yang ada.
So, Ayo semangat nulis lagiii!!!
Hadirkan kebutuhan nulis dari sekarang. Kapan lagi? :)
Random banget beneran tulisannya, ckck. Gini nih syndrome jarang nulis T.T
Ide di kepala udah banyak banget, ngantri buat dituangkan dalam tulisan.
Draft di blog pun nggak kalah banyak, nunggu buat di-publish, tapi gajadi-jadi.
Hfftt..
Beginilah kalau menulis bukan dijadikan kebutuhan sehari-hari, ujung-ujungnya lupa gimana caranya nulis. Bingung gimana mengungkapkan apa yang ada di pikiran. Nyambungin kabel dari hati-pikiran ke tulisan dengan segala uneg-uneg, bahasanya jadi semakin ribet.
Hmm... teguran banget ini. Diminta buat semakin produktif dalam menulis. Kode-kode disuruh produktif lagi buat baca-baca.
Teguran banget!
Aktivitas bukan hanya di luar. Yang kerjanya main ke kampus, dengerin dosen, pulang, ikut majelis ilmu, syuro', ngumpul bareng temen-temen, beresin kosan, dan lain-lain.
Tapi dituntut lebih dari itu. Aktivitas baca buku, nulis, harus setiap hari juga. Harus selalu diasah biar semakin tajam. Biar semakin mahir dalam merangkai kata. Dan tentunya nggak bingung-bingung lagi harus menuangkan tulisan dalam hal apa. Karena setiap yang dirasa ada catatannya, setiap ide yang muncul langsung diolah dalam sebuah rangkaian kata.
Teguran banget!
Mentang-mentang anak planologi, kalau udah survey, kecapekan, terus ilang sense nulisnya.
Seharusnya pengalaman saat berkeliling itulah yang harus diikat dalam sebuah tulisan. Tercatat sebagai rekam jejak pengalaman.
Hobi nulis bukan hadir dengan sendirinya, ia hadir karena kebiasaan.
Kebiasaan pun bukan dengan mudah kita melakukannya, tapi harus ada satu paksaan terlebih di awalnya.
Seperti kata-kata yang saya dengar minggu lalu, "sebenarnya bukan waktu kita yang terbatas, tapi NIAT kita yang terbatas."
Nge-jleebb banget lah pokoknya.
Harus pinter-pinter ngatur waktu, terlebih ngatur niat! :)
Mulai saat ini, nulis harus jadi bagian dari kebutuhan, bukan hanya sebuah paksaan.
Mulai saat ini nulis jangan dijadiin beban. Apapun yang ada, tulis-tulis-tulis. Sejelek apapun tulisan kita, sejelek apapun tata bahasa kita, yang penting NULIS!
Nggak ada kata-kata 'Nggak bakat nulis'.
Apapun harus ditulis. Kata 'ngedit' itu bagian akhir sajalah.
Seiring berjalannya waktu, insyaAllah tulisan kita bakal terasah, bahasa kita bakal nambah kosa katanya, dan ilmu tentang kepenulisan, bisa kita pelajari secara otodidak berdasarkan pengalaman yang ada.
So, Ayo semangat nulis lagiii!!!
Hadirkan kebutuhan nulis dari sekarang. Kapan lagi? :)
Random banget beneran tulisannya, ckck. Gini nih syndrome jarang nulis T.T
Label:
cerita
24 Agustus 2013
Selalu Mewarna #Lingkaran#
-21 Juni 2013-
Halaqoh, pertemuan yang sangat dirindukan. Disini saya
pengen cerita tentang indahnya lingkaran cinta ini.
“Halaqoh di daerah
jauh beda dengan yang ada di kampus, mbak. Jadi jangan kapok ya. Pertama
mungkin kaget, tapi seiring berjalan insyaAllah bisa menyesuaikan.”
Hei… iya itu dia yang saya rasain pertama kali menghadiri
halaqoh yang bukan di lingkungan kampus. Mungkin kaget, ya banget-banget.
Karena mungkin jika di kampus paling ekstrimnya sekelompok sama mbak-mbak
seniornya, atau sama adik tingkatnya. Itupun hanya melihat yang lain, karena
berkali-kali ya masih pada angkatan yang sama.
Tapi jika di kampus, sesuatu itu sudah menjadi hal yang
besar (ini dalam pandangan anak yang awam ya, hehe). Tapi ternyata di luar
kampus, hal itu menjadi hal yang biasa. Ya, ketika seseorang keluar dari zona
nyaman (kampus termasuk di dalamnya), terkadang hal seperti yang saya alami ini
menjadi sesuatu yang menggoyahkan.
Pertama kali menghadiri pertemuan itu, saya berangkat dengan
salah seorang di anggota halaqoh, janjian di sebuah TKIT. Dan setelah
berkenalan ternyata mbaknya kalo di kampus seumuran dengan angkatan 2008. Ya,
pikir saya mungkin banyak yang masih seumuran dengannya karena daerah ini
mahasiswinya pun banyak.
Sampai pada tempat halaqoh, berdatanganlah anggota lingkaran
ini satu per satu. Dan tak dinyana tak disangka. Saat perkenalan, di dalam
kelompok itu ada seorang teman dari bulik saya. Beliau berkata, “Dulu saya
pernah main ke tempat buliknya mbak, bulik mb teman kami dulu (sambil menunjuk rekan
di sampingnya). Trus ibunya mbak dulu guru saya, sekarang jadi rekan kerja di
MTs. Eh, nggak taunya mbak jadi teman di halaqoh saya. Dunia memang sempit.”
Kata beliau sambil tersenyum.
Ya Allah… Subhanallah.. Memang rencana-Mu tak pernah dapat
dijangkau dengan akal. Engkau eratkan kembali tali silaturahim itu. Makanya
sepertinya saya mengenal wajah-wajah di hadapan saya. Tapi siapa? Saya pun
masih berpikir kapan dan dimana ketemunya. Ternyata saat itu memang saya masih
kecil, SD atau SMP mungkin, hehe.
Disana juga ada ustadzah TKIT, SDIT yang dulu pernah jadi
pembimbing adik saya yang hampir lulus ini. Walaupun ini hanya sementara
(karena nantinya akan balik lagi ke kampus), tapi semuanya jadi pelajaran
berharga. Ada nasihat tersirat bahwa jangan pernah berangan-angan akan selalu
berada pada ‘zona nyaman’.
Tapi yang nyenengin, setiap Liqo disini pasti ketemu sama
adek-adek kecil yang lucu-lucu banget! :D Walaupun beda jauh dengan suasana
lingkaran dikampus sana yang bisa dibilang masih unyu-unyu banget, ketemunya
sama temen seorganisasi mungkin, bahasannya seputar kampus, wisma, dan wajihah.
Maka disini saya temukan hal baru yang lebih mengarah pada dakwah secara
keseluruhan.
Sehari setelah pertemuan pertama itu pun saya kembali
dihadapkan pada kenyataan. Ada seseorang yang berpesan,”sesuk mbak, ojo lali bali deso mbangun deso”. Ya, mengingat banyak
‘penurunan’ yang terjadi disini karena hampir semua pemuda-pemudinya pada
merantau ke kota lain. Selalu miris jika membandingkan suasana sekarang dengan
saat masih kecil. Kalau pengen memutar waktu tak mungkin, yang ada harus
memperbaikinya.
Darisini saya tarik kesimpulan bahwa Allah memberi saya
istirahat (yang sebenarnya tidak saya inginkan) ini, salah satunya menyadarkan
saya bahwa kedepan jangan pernah berharap akan terus bertahan di zona nyaman,
karena lambat laun pasti akan keluar dari itu semua. Jangan pernah meninggalkan
kampung halaman karena disanalah ladang amal yang harus digarap.
Kalau kata orang, “buat apa cari ilmu jauh-jauh, dapet
pendidikan yang baik & layak, tapi tidak menularkan kebaikannya pada
kampung halamannya.”
Saya sering dapet wejangan ini disadari atau tidak, “Besok kalau sudah sukses, jangan lupakan
daerah yang sudah mendidikmu waktu kecil. Bangun daerah itu, karena itu
kewajibanmu. Jangan terlena dengan suasana nyaman di daerah rantaumu itu karena
disana memang sudah banyak orang-orang pinter.” Kata beliau-beliau dengan
logat & bahasa jawanya.
Sungguh sangat berarti pelajaran ini, Rabbi… Memang benar,
siapapun itu harus ada yang memperbaikinya. Kalau bukan saya mungkin akan
digarap oleh orang lain. Tapi yang terpenting pesan itu sudah disampaikan,
tinggal bagaimana sang empu menanggapinya.
Dan itulah proses kaderisasi. Jika hanya berputar pada
mereka yang ‘mengerti’ saja, maka semua itu ya sama saja. Memang jika telah
tumbuh benih-benih baru, harus disebar ke tempat lain yang membutuhkan
kerindangannya. Disebar sesuai dengan porsi dan kebutuhan..
Sekian, 1 pertemuan yang banyak cerita, yang bakal ada
cerita-cerita lain yang lebih bisa diambil pelajarannya lagi. Bismillah..
Allah… Engkau Maha Penyayang, selalu ada kejutan dan kejutan… :)
20 Juni 2013
Datang-Pergi.. Itu Sunnatullah...
31-5-2013
RoQu. Hei, aku suka banget sama kata itu. Singkatan dari 2
kata, Robbatul Qulub--Ikatan Hati-Hati.
Bukan hanya bermakna sebuah kelompok, namun juga sebuah
jama’ah. Bukan hanya antara 2 hati, namun himpunan dari banyaknya hati setiap
muslim di dunia ini.
Pintaku hanya satu, “Rabbi… tolong ikatkan hati-hati kami,
agar slalu berhimpun dalam naungan cinta-Mu..”
Ya, ketika aku mendengar kisahnya malam itu, hatiku
teriris-iris. Obrolan 2 jam yang membuatku menahan tangis dalam diam. Inikah
rasa yang disebut kehilangan? Sakit rasanya.
Kalau diingat satu tahun yang lalu, ada yang sms gini,
“alhamdulillah..selamat kembali di perantauan yang indah, semoga bisa lebih
pulih lagi.. insyaAllah hari ini kita liqo..”
Semoga sms itu bukan hanya kenangan yang bisa dikenang. Aku
hanya berpikir, siapa nanti yang akan sms seindah itu padaku nanti saat
waktunya kembali ke rumah keduaku..
Ahh..smsku terakhir yang tak dibalas sudah memberikan
jawaban atas sesuatu yang agak kuragukan itu. Entah, aku hanya berharap apa
yang dikatakan hanya isu yang beredar dengan cepatnya.
Rabbi..inikah jawaban atas pertanyaan keresahanku minggu
itu?
Aku yang belum diijinkan pergi, namun tekadku benar-benar
ingin pergi kesana. Pergi ke tempat yang disana berkumpul dengan banyak saudara
dalam satu waktu. Banyak banget yang nggak ngizinin, banyak banget yang sampe
marah-marah padaku karena kebandelan satu ini. “udah kamu ga usah datang aja.”
Tapi yang kejadian sebaliknya, aku yang biasanya ‘agak nurut’, tapi saat itu
benar-benar nekat pergi. Yang ada dalam doa hanya, “Ya Allah, lindungi hamba-Mu
yang lemah ini.”
Aku saat itu benar-benar ngrasa ada yang akan pergi jauh.
Entah pergi untuk selamanya, atau hanya sementara. Entah itu aku yang akan
pergi, atau orang di sekitarku yang pergi. Tapi yang jelas aku ngrasa akan
ditinggal pergi. Dan niatku saat itu hanya satu, bertemu mengucap maaf
pada saudara-saudaraku. Aku tak ingin kehilangan momen ini. Dan yang jelas, aku
takut tak ada kesempatan lagi ramadhan nanti.
Tapi saat itu aku tak menyadari bahwa seseorang yang
benar-benar aku cari tak ada disana. Seseorang yang Allah berikan tanda padaku
tak muncul dihadapanku. Saat itu aku belum menyadarinya. Hingga malam itu tiba,
cerita mengalir begitu cepat tanpa aku menyadari akan kepergiannya.
Rabbi… aku ingin menangis, tapi sesak dada ini mendengar
cerita itu. Aku ingin berlari ke rumah keduaku saat itu juga, tapi tak bisa.
Ya, inilah kehidupan. Aku tahu bahwa hal ini akan terjadi.
Tak ada yang tak mungkn, semua menjadi mungkin.
Ada yang datang, ada yang pergi.. Itu Sunnatullah..
Tapi yang jelas kereta ini akan terus berjalan. Ada yang
naik, ada yang turun. Dan aku berharap suatu saat nanti dia akan naik kembali
ke dalam kereta yang aku tumpangi. Atau gerbong kami akan menjadi satu pada
saatnya nanti. :)
Walaupun aku habiskan malam-malam panjang untuk menangis,
tapi yang jelas aku ingin tersenyum saat bertemu dengannya. Silaturahim ini tak
boleh putus ya sahabatku.. Aku cinta & sayang bangeet kamu karena Allah
Ta’ala. Mungkin saat ini ada yang ‘berbeda’ dari kita, tapi tak lantas
memisahkan hati-hati kita, InsyaAllah.
Aku slalu memohon agar Allah senantiasa menjaga kita dalam
peluk ridho-Nya. :)
Kata-kata ini slalu mengingatkanku padamu, kawan..“ayo kita
berjuang bersama, berjama’ah. Kalo butuh bantuan atau ada sesuatu yang harus
dikerjain, bilang aja.InsyaAllah dibantu semaksimal yang kubisa.”
Kusenandungkan do'a Robithoh untukmu...
"dan
Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak
dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana." (Al-Anfal
: 63)
08 Mei 2013
Sepenggal Cerita Tentang Kalian :)
“Ya Rabb.. hamba ingin
bercerita dimana kami memiliki saudara yang hatinya penuh dengan cinta ukhuwah,
mulutnya slalu berhias doa, senyumnya slalu mengembang di setiap saat, serta
memiliki kasih sayang yang tak pernah lekang. Terkadang bila kami lama tak saling
jumpa, ia kirim kata-kata beruntai doa sebagai tanda bahwa ia tak pernah lupa
dengan ukhuwahnya. Hamba sebagai manusia yang lemah tak memiliki apa-apa untuk
membalasnya..
Ya Rabb.. jika boleh
hamba meminta, tolong bukakan pintu surga mana saja yang Engkau ridhai untuknya
karena hamba mengetahui akan adanya tempat di surga-Mu bagi siapa saja yang
menjaga ikatan ukhuwah karena Engkau semata. Sebagaimana janji-Mu, cukuplah
Engkau sebagai tempat kami meminta kala sang diri tak mampu memberi dengan
sempurna.” -121304-
***
Disini aku ingin bercerita tentang indahnya forum angkatan.
Allah yang telah mempertemukan, Allah pula yang telah mengeratkan, maka aku pun
berharap Allah jua yang akan mempertemukan kami dalam surga Firdaus-Nya :)
Aku disini banyak belajar. Ya, belajar tentang banyak hal.
Dan Allah telah memberikan padaku 3 hal disini, Cinta,
Persaudaraan, dan Keluarga ^_^
Kenapa?
Cinta… Entahlah,
aku merasakan betapa besar cinta yang Allah berikan ketika aku didalamnya.
Disini aku kebanjiran cinta dari Allah ^^.
Dan tentunya banyak hal yang mengajariku untuk
mencintai-Nya,
lebih mencintai-Nya,
dan menyadarkanku bahwa Allah slalu mengujiku sampai sejauh
mana diri ini mencintai-Nya.
Takkan pernah bisa tersampaikan lewat untaian kata, karena
cinta hanya terdefinisikan oleh hati mereka yang memiliki cinta-Nya. :)
Ingat kata-kata, “Jika
Allah telah menaruh cinta pada seorang hamba, maka Dia perintahkan kepada
seluruh penduduk langit dan bumi untuk mencintainya..” Semoga Allah slalu
mencurahkan cinta-Nya pada kita, yaa shahabaty :)
Persaudaraan…
Indah rasanya memiliki saudara yang terikat karena iman pada Allah Ta’ala. Aku
takkan banyak berkata, karena satu kalimat ini telah menjelaskan segalanya, “ukhuwah (persaudaraan) itu akibat dari
iman..” Ya Rabb… jaga imanku, agar ia tak jatuh terlalu jauh, karena aku
ingin bersama mereka hingga akhirnya Engkau pertemukan kembali di surga
Firdaus-Mu.
Keluarga… Ya,
inilah keluarga baruku. Merantau ke kota asing yang tak ada saudara &
lingkungan yang semuanya berbeda dari sebelumnya, itu merupakan hal baru. Maka
siapa yang mengisi kekosongan hati ini pertama kali, yang menenangkannya,
itulah yang memberikanku sebuah warna. Dan ternyata, keluarga itu adalah kalian
yang tersenyum padaku ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Senyuman
yang hangat, bahkan bahasa smsnya yang akrab padahal kita baru saja ingin
bertemu.
Subhanallah.. maka aku ingin berkata dalam setiap doaku, “aku ingin slalu bersama mereka sampai
Engkau mempertemukan kami kembali. Karena aku tak ingin ada kata perpisahan,
walaupun jarak memisahkan raga, tapi dalam doa aku ingin slalu bersama mereka.
Bersama dalam menasehati & menuju pribadi yang lebih baik lagi”
***
Tak usah banyak berkata, karena kata-kata di bawah ini cukup
menjelaskan segalanya, tentang cinta, ukhuwah, dan keluarga ^^
Banyak warna dan kata dalam mengenangnya, dan ini hanya ‘sedikit’
dari banyaknya kata yang telah kalian tuliskan padaku :)
***
“Karena Allah cinta,
maka slalu ada ujian yang mendewasakan kita. Karena Allah sayang, maka di saat
terpentinglah pertolongan-Nya datang. Karena Allah tahu, maka yang terbaiklah
untukmu. Terkadang kita merasa diabaikan, tanpa menyadari bahwa tiada satu
peluh pun juang yang Allah siakan.. Jadikan TANYA momen yang sangat penting
dalam hidup kalian. Ingatlah bahwa masalah-masalah inilah yang akan mengokohkan
kalian. Tak perlu mengeluh, yakinlah pada pertolongan Allah.. Semangat TANYA..”
-121304-
“Ada yang bertanya tentang penempatan seorang aktivis
terhadap suatu amanah karena keterpaksaan, tidak ada orang lain, ataupun seseorang
yang merasa tidak cocok dengan kelompoknya.
Maka jawaban Ustadz, “You can’t change wind direction but
you can change wing direction.. Cause you are the pilot.” Dalam kondisi ini,
sudut pandang kitalah yang perlu dirubah, kitalah yang menciptakan kenyamanan
itu. Seperti halnya faktor yang menentukan bidikan yang indah fotografi. Bukan
karena kamera yang canggih, bukan pula karena pengalaman sang fotografer, namun
lebih kepada angle, sudut pandang..” -122501-
“Lelahku serasa lebih
besar dari berat tubuhku. Sampai aku terduduk, hampir tergeletak saking tak
kuatnya menyangga amanah. Mereka pun hanya bisa memberiku nasehat normatif.
Tahu apa mereka soal bebanku? Jangankan empati, untuk duduk memahami saja
mereka tak pernah mau mencoba! Menurut mereka, aku begitu tegar. Tapi tak tahu,
tangisku di setiap malam mampu menggetarkan tenangnya dunia. Sungguh hanya
Allah yang memahamiku.. Yang Tahu, sebatas apa aku sanggup menanggung
semuanya..” -120504-
“menangislah.. karena air mata memang diciptakan untuk itu,
karena ketika air mata itu keluar, maka ia memberi ketenangan saat semuanya
terasa sempit.” -120504-
“apakah Allah pernah
salah dalam memilih orang? Apakah merasa tertukar amanah? Allah Maha
Pengkader.. kamu orang terpilih yang berjalan di depan. Tengoklah ke belakang,
lihat betapa banyak orang yang mendukung, apa gunanya kita disini, klo bukan
untuk saling memikul beban dakwah ini bersama, jangan pernah merasa sendiri.”
-120504-
“yang jelas, semua proses itu membentuk kamu lebih kuat dan
lebih kuat lagi untuk menahan tangis dan menjejaki tingkatan yang lebih
tinggi.” -120504-
“Ketika jiwa lelah
dihantam masalah, maka beristighfarlah..
Ketika datang resah
gelisah, tataplah alam semesta lalu bertasbihlah..
Ketika orientasi hidup
kacau tidak karuan, maka bertahlillah..
Ketika tantangan
rintangan semakin besar, maka bertakbirlah..
Ketika pundak tak
kuasa memikul masalah, maka bersujudlah..
Ketika kita sadari
setiap masalah ada hikmah, maka bertahmidlah..” -112612-
“Ketika kerjamu tidak dihargai, disitu kau belajar ikhlas..
“bekerjalah, maka biarlah Allah dan Rasul-Nya yang melihat pekerjaanmu..”
Ketika kerja kita tidak terbayar di dunia, yakinlah bahwa kerja itu hanya
pantas dibayar oleh-Nya dengan sesuatu yang lebih baik dari dunia seisinya.” -120502-
“jangan kamu merasa
sendirian,karena Allah slalu bersamamu, kita tidak butuh manusia, yang kita
butuhkan cuma Allah..” -121802-
“karena Allah tidak membebankan diluar batas kemampuan.
Kemenangan ada bersama kesabaran, dan kemudahan datang setelah kesulitan (H.R.
Tirmidzi)” -122302-
“baca lagi Al-Baqorohnya 286” -122302-
“Bukankah engkau telah
melihat bahwa setelah malam puas dengan gelap gulitanya, maka mentari pagi pun
pasti datang dengan sinar cahayanya? Dan itu tidak akan lama, insyaAllah..” -120503-
“setiap kesalahan yang kita lakukan adalah bagian dari
proses pembentukan kepribadian. Jangan menyesali semua kesalahan, tapi
sesalilah jika semua itu tidak berdampak adanya perubahan. Mendung diciptakan
bukan untuk membuat langit gelap, tapi ia hadir untuk memberi kabar gembira
akan sejuknya air hujan J”
-122003-
“Amanah menunjukkan
kualitas. Makin banyak ditempa, makin mulus dan berkualitas.” -120104-
“hal yang terindah dari seorang wanita bukan ketika ia
tersenyum karena bahagia, tapi saat butiran air matanya terjatuh dalam doa.
Bukan karena kata-katanya yang indah tapi saat ia diam dalam dzikir.” -120204-
“sehat itu investasi
terbesar. Ia bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk orang sekitar dan menunjang
keberjalanan dakwah.” -120504-
“ketika dakwah itu
adalah cinta, maka ia akan meminta segalanya darimu. Ketika cinta itu hanya di
bibir saja, maka dalam perjalanannya kita akan terseok-seok berjalan di jalan
terjal dan berbatu.” -120604-
***
Uhibbukum fillah… :D
02 Mei 2013
Dialog Hati dengan Kenyataan #1
Sering saya bertanya-tanya apa sebenarnya inginnya Allah.
Terlalu klise memang..
Buat apa bertanya, menyalahkan, mengandaikan, toh semuanya telah dirancang. Tak usahlah dipikirkan terlalu dalam.
Mungkin banyak orang yang menganggap saya sebagai orang yang kurang kerjaan..
Mungkin juga banyak orang yang menyepelekan apa yang saya pikirkan..
Ya, semua punya persepsi masing-masing terhadap suatu permasalahan..
Dan inilah saya,
yang selalu berdialog antara hati dan kenyataan :D
***
A: Dahulu aku tak pernah merasa selelah ini, kenapa sekarang? Dikit-dikit ngrasa capek, dah nggak tahan langsung drop. Darimana aku harus beradaptasi?
B: Ya, mungkin Allah inginkan aku istirahat. Allah ingin aku seimbang dalam aktivitas makanya Dia beri aku rasa lelah yang lebih dari sebelumnya. Bersyukurlah karena Allah masih memberikan waktu bagiku untuk istirahat.
A: Ya Allah.. kenapa Engkau beri aku sakit yang begitu sangat. Sejak kecil aku tak pernah Engkau beri sakit, tapi kenapa sekalinya Engkau beri, sakit itu yang teramat sangat dan membatasi seluruh aktivitasku? Mengapa???
B: Janganlah mengeluh, Allah tahu apa yang terbaik. Dia hanya ingin menguji sampai mana aku belajar tentang arti syukur itu :)
A: Teman-temanku, kenapa mereka semua pergi saat aku butuhkan? :( Padahal kalau mereka bercerita aku slalu ada untuk mereka.
B: Allah ingin tahu sampai mana aku belajar ikhlas. Semua berawal dari niat, apa coba niatku untuk mendengarkan mereka, toh aku juga senang kalau mendengarkan mereka bercerita.
A: Hmm.. bete banget sih, aku lagi suntuk pengen cerita. Eeh malah dianya duluan yang merengek cerita di depanku -,-
B: Bersyukurlah.. itu tandanya dipercaya. Jadikan ceritta mereka itu pelajaran saja untukku kedepan. Toh, aku sendiri belum pernah mengalaminya kan?
A: Hmm.. Kenapa Allah ngasihnya aku kesini ya? Padahal kan aku paling nggak suka sama yang namanya teori. Udah istikhoroh, dapetnya ini lagi ini lagi..
B: Hei, kenapa aku jadi nyalahin takdir Allah sih. Sudahlah, Allah tahu apa yang terbaik. Percaya, yakin deh. Allah takkan menguji lebih dari apa yang bisa aku lakukan. Udah istikhoroh? ya berarti ini jawabannya :)
A: Aaaahh... kenapa lingkunganku kayak giniii.. masa harus sendirian terus berjalan disini, aku nggak akan kuaaat :(
B: Hmm.. kok baru gini aja ngeluh sih.. Jangan futur terlalu cepat lah. Ayoo berusaha lagi. Deketin mereka. Bisa jadi lho Allah ngasi di lingkungan yang kayak gini biar jadi cahaya bagi mereka. Emang nggak curiga apa? "Bisa jadi Allah tempatkan kamu disini justru untuk menjadi cahaya di tengah kegelapan, atau mewarna di tengah pekatnya kehidupan."
A: Ya Allah.. kenapa amanah ini lagi, amanah ini lagi :( aku nggak bisa..
B: Ckckck. Emang udah tau apa kesanggupan sampe mana? Allah yang ngasi masalah, Allah yang ngasi amanah, nggak mungkin Allah nggak ngasi kekuatan buatmu. Tenanglah.. insyaAllah bisa, siapa sih yang bisa nandingin kekuatannya Allah.. Percaya aja deh :)
A: Orang-orang klo ngliat aku perasaan gitu banget sih. Emang mereka tahu apa yang aku rasain sekarang? Gampang emang ngomong aku baik-baik saja. Kenyataannya? Yang ngrasain aku nih.. >,<
B: Hmm.. nggak boleh gitu ih, bagus dong kalo ternyata kamu dianggep baik-baik aja sama mereka, berarti julukanmu "pinter nyembunyiin sesuatu" masih terpatri sampai sekarang hehe. Diambil hikmahnya aja, berarti kamu yang harus terus merhatiin mereka :)
A: Aaaa... Nggak enak ya ternyata punya perasaan yang peka banget.. Dikit-dikit kena, padahal mungkin mereka nggak maksud buat ke aku nyindirnya.
B: Haha, punya perasaan yang lebih peka itu anugerah, jangan disesali. Itu berarti Allah pengen kamu lebih dewasa. Mengamati orang-orang di sekitarmu. Mungkin mereka ada yang butuh bantuan, kan kalo kamu bisa tahu langsung kamu kasi bantuan. Perkara mereka yang nggak peka sama kamu, ya udah sih, itu pahala buat kamu berarti. Mereka yang rugi karena nggak ngerti gimana keadaanmu hehe.
A: Ya ampuun.. enak banget ya jadi dia. Pengen banget, kenapa aku nggak dikasi kesempatan kayak dia? Udah ceria dapet, temen banyak, pinter lagi.
B: Allah menciptakan makhluk itu dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Siapa saja bisa kok mengubahnya asalkan ada usahanya. Ayo lebih banyak lagi usahanya buat perbaikan diri! :)
***
masih banyak lagi. yah, itu hanya masalah hati saja sih.
Kenyataan yang ada memang tak semuanya sejalan dengan inginnya hati.
Jadi PR nya, sugestiin terus hatinya biar selalu memandang positif terhadap segala sesuatu :)
Semangaat! :D
Terlalu klise memang..
Buat apa bertanya, menyalahkan, mengandaikan, toh semuanya telah dirancang. Tak usahlah dipikirkan terlalu dalam.
Mungkin banyak orang yang menganggap saya sebagai orang yang kurang kerjaan..
Mungkin juga banyak orang yang menyepelekan apa yang saya pikirkan..
Ya, semua punya persepsi masing-masing terhadap suatu permasalahan..
Dan inilah saya,
yang selalu berdialog antara hati dan kenyataan :D
***
A: Dahulu aku tak pernah merasa selelah ini, kenapa sekarang? Dikit-dikit ngrasa capek, dah nggak tahan langsung drop. Darimana aku harus beradaptasi?
B: Ya, mungkin Allah inginkan aku istirahat. Allah ingin aku seimbang dalam aktivitas makanya Dia beri aku rasa lelah yang lebih dari sebelumnya. Bersyukurlah karena Allah masih memberikan waktu bagiku untuk istirahat.
A: Ya Allah.. kenapa Engkau beri aku sakit yang begitu sangat. Sejak kecil aku tak pernah Engkau beri sakit, tapi kenapa sekalinya Engkau beri, sakit itu yang teramat sangat dan membatasi seluruh aktivitasku? Mengapa???
B: Janganlah mengeluh, Allah tahu apa yang terbaik. Dia hanya ingin menguji sampai mana aku belajar tentang arti syukur itu :)
A: Teman-temanku, kenapa mereka semua pergi saat aku butuhkan? :( Padahal kalau mereka bercerita aku slalu ada untuk mereka.
B: Allah ingin tahu sampai mana aku belajar ikhlas. Semua berawal dari niat, apa coba niatku untuk mendengarkan mereka, toh aku juga senang kalau mendengarkan mereka bercerita.
A: Hmm.. bete banget sih, aku lagi suntuk pengen cerita. Eeh malah dianya duluan yang merengek cerita di depanku -,-
B: Bersyukurlah.. itu tandanya dipercaya. Jadikan ceritta mereka itu pelajaran saja untukku kedepan. Toh, aku sendiri belum pernah mengalaminya kan?
A: Hmm.. Kenapa Allah ngasihnya aku kesini ya? Padahal kan aku paling nggak suka sama yang namanya teori. Udah istikhoroh, dapetnya ini lagi ini lagi..
B: Hei, kenapa aku jadi nyalahin takdir Allah sih. Sudahlah, Allah tahu apa yang terbaik. Percaya, yakin deh. Allah takkan menguji lebih dari apa yang bisa aku lakukan. Udah istikhoroh? ya berarti ini jawabannya :)
A: Aaaahh... kenapa lingkunganku kayak giniii.. masa harus sendirian terus berjalan disini, aku nggak akan kuaaat :(
B: Hmm.. kok baru gini aja ngeluh sih.. Jangan futur terlalu cepat lah. Ayoo berusaha lagi. Deketin mereka. Bisa jadi lho Allah ngasi di lingkungan yang kayak gini biar jadi cahaya bagi mereka. Emang nggak curiga apa? "Bisa jadi Allah tempatkan kamu disini justru untuk menjadi cahaya di tengah kegelapan, atau mewarna di tengah pekatnya kehidupan."
A: Ya Allah.. kenapa amanah ini lagi, amanah ini lagi :( aku nggak bisa..
B: Ckckck. Emang udah tau apa kesanggupan sampe mana? Allah yang ngasi masalah, Allah yang ngasi amanah, nggak mungkin Allah nggak ngasi kekuatan buatmu. Tenanglah.. insyaAllah bisa, siapa sih yang bisa nandingin kekuatannya Allah.. Percaya aja deh :)
A: Orang-orang klo ngliat aku perasaan gitu banget sih. Emang mereka tahu apa yang aku rasain sekarang? Gampang emang ngomong aku baik-baik saja. Kenyataannya? Yang ngrasain aku nih.. >,<
B: Hmm.. nggak boleh gitu ih, bagus dong kalo ternyata kamu dianggep baik-baik aja sama mereka, berarti julukanmu "pinter nyembunyiin sesuatu" masih terpatri sampai sekarang hehe. Diambil hikmahnya aja, berarti kamu yang harus terus merhatiin mereka :)
A: Aaaa... Nggak enak ya ternyata punya perasaan yang peka banget.. Dikit-dikit kena, padahal mungkin mereka nggak maksud buat ke aku nyindirnya.
B: Haha, punya perasaan yang lebih peka itu anugerah, jangan disesali. Itu berarti Allah pengen kamu lebih dewasa. Mengamati orang-orang di sekitarmu. Mungkin mereka ada yang butuh bantuan, kan kalo kamu bisa tahu langsung kamu kasi bantuan. Perkara mereka yang nggak peka sama kamu, ya udah sih, itu pahala buat kamu berarti. Mereka yang rugi karena nggak ngerti gimana keadaanmu hehe.
A: Ya ampuun.. enak banget ya jadi dia. Pengen banget, kenapa aku nggak dikasi kesempatan kayak dia? Udah ceria dapet, temen banyak, pinter lagi.
B: Allah menciptakan makhluk itu dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Siapa saja bisa kok mengubahnya asalkan ada usahanya. Ayo lebih banyak lagi usahanya buat perbaikan diri! :)
***
masih banyak lagi. yah, itu hanya masalah hati saja sih.
Kenyataan yang ada memang tak semuanya sejalan dengan inginnya hati.
Jadi PR nya, sugestiin terus hatinya biar selalu memandang positif terhadap segala sesuatu :)
Semangaat! :D
Lokasi:
Semarang, Indonesia
27 April 2013
Ashabul Ukhdud :)
Semilir angin pagi ini memberikan semangat
tersendiri.
Bertemu dengan mereka, pancaran cahaya iman
yang kuat.
Subhanallah.. Beruntung saya memasuki majelis
ini..
Ditambah dengan tafsir Al-Buruj yang
memberikan banyak hikmah pada kami yang mendengarkannya..
Dan kini akan saya ringkas tentang pengalaman
di majelis ini, hanya sedikit, tapi semoga memberikan hikmah tersendiri bagi yang
membacanya :D
***
Al-Buruj, surat Makkiyah, surat
ke-85 dalam Al-Qur’an, dan termasuk ke dalam juz ‘amma/juz 30.
Pada awal suratnya, Allah SWT
bersumpah dengan 3 benda, yaitu:
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Dan
demi hari yang dijanjikan. Demi yang menyaksikan & yang disaksikan.” (ayat
1-3)
Ya, di atas ada 3 poin penting, 3 yang menjadi suatu keutamaan besar, bintang-hari
akhir-peristiwa ashabul ukhdud (para pembuat lubang berapi).
3 ayat pertama dalam surat ini telah
menjelaskan bahwa apa yang akan Allah sampaikan pada surat ini adalah sesuatu
yang sangat besar, banyak hikmah, pelajaran, dan kisah yang dapat dipelajari dari
surat ini.
Harusnya kita bertanya-tanya, ada apakah
gerangan Allah sampai bersumpah dengan sesuatu yang kita tahu besarnya
keutamaan ketiganya?
Lalu Allah jawab pada ayat ke-4-7, “Binasalah
orang-orang yang membuat parit (yaitu para pembesar Najran di Yaman). Yang
berapi (yang mempunyai) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang
mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin.”
Disana jelas tersurat, peristiwa pembesar Najran di Yaman.
Oke, saya ceritakan sedikit tentang
kisah ini. Jadi pada zaman sebelum Rasulullah diutus, ada sebuah kerajaan di
Yaman, dipimpin oleh seorang raja bernama Dzu Nuwas. Disana ada seorang
penyihir yang sudah sangat tua. Maka raja tersebut ingin merekrut seorang pemuda yang dapat menggantikan penyihir itu pada
saatnya nanti.
Seorang pemuda itupun menaati
perintah orang tuanya yang diminta oleh raja agar belajar sihir kepada Sang
Penyihir di istana. Namun setiap kali perjalanan dari rumah menuju istana
pemuda ini mampir ke seorang pendeta, ahli ibadah yang rumahnya di
tengah-tengah rumah pemuda dengan istana.
Tapi lama-lama pemuda ini bingung,
setiap kali terlambat sampai di istana, ia dipukuli oleh orang-orang yang ada
di istana, sama dengan yang terjadi di rumahnya. Maka pemuda ini pun bertanya
kepada sang pendeta,
“Setiap kali aku terlambat ke istana aku slalu dipukuli, dan
setiap kali aku terlambat sampai rumah aku juga dihukum. Apa yang harus aku
lakukan?”
Maka pendeta itupun menjawab, “Jika kamu terlambat memasuki istana, maka jelaskanlah
kalau kamu ditahan karena keperluan keluargamu. Dan jika kamu terlambat sampai
rumah, jelaskanlah jika kamu ditahan karena urusan istana.”
Sampai akhirnya berapa lama
berselang pemuda itu menimba ilmu pada pendeta (ahli ibadah) dan penyihir, ia
berpapasan dengan binatang besar di hadapannya, yang menghalangi jalannya saat
perjalanan menuju ke istana. Pada saat itu pemuda berkata, “inilah saatnya aku membuktikan ilmu siapa yang benar, apakah dari
pendeta atau dari penyihir.”
Pemuda itu memegang sebuah batu lalu
ia berucap, “ya Allah, jika memang benar ilmu yang diberikan oleh pendeta itu benar
adanya maka bunuhlah hewan raksasa ini dengan batu yang akan aku lempar.”
Dan benar, binatang raksasa itu
akhirnya mati hanya karena lemparan batu seorang pemuda itu sehingga
orang-orang yang akan melalui jalan itu dapat beraktivitas kembali. Saat ia
kembali pada ahli ibadah, pendeta itupun berkata kepada sang pemuda, “sesungguhnya engkau telah mendapatkan kebenaran & ilmumu
sudah melebihi diriku. Maka bersiaplah untuk menerima ujian yang lebih besar
nantinya. Dan saat kau sudah dikenal banyak orang jangan sebutkan namaku kepada
mereka.”
Setelah peristiwa itulah, pemuda ini
mendapat mukjizat dari Allah SWT, ia bisa menyembuhkan orang sakit. Sampai akhirnya
ada seorang keluarga raja yang saat itu menderita sakit dan meminta untuk
disembuhkan. Pemuda ini pun berkata, “Sesungguhnya
bukanlah aku yang dapat menyembuhkanmu, tapi Allah. Maka berimanlah kepada
Allah, niscaya engkau akan diberi kesembuhan atas perantaraku.”
Setelah orang itu beriman kepada
Allah, penyakitnya perlahan-lahan sembuh. Dan itu menjadi berita besar yang
sampai kepada istana raja. Pemuda ‘alim itu akhirnya dipanggil raja dan ditanya
darimana ia mempelajari ajaran agama itu. Saat pemuda itu tak mau menjawab, ia
disiksa dan terus disiksa oleh pengawal istana. Sampai akhirnya ia menjawab
bahwa yang mengajarinya adalah seorang pendeta yang sering ia kunjungi.
Pendeta itupun akhirnya ditangkap
dan dibawa ke istana. Saat diminta untuk kembali kepada ajaran Yahudi, ia
menolak. Akhirnya ia pun dibunuh dengan cara yang mengenaskan, yaitu dengan
digergaji tubuhnya. Begitulah perlakuan terhadap mereka yang tidak mau kembali
kepada ajaran Yahudi.
Namun berbeda perlakuan terhadap
sang pemuda yang satu ini. Ia tidak langsung dibunuh, tapi dibawa ke suatu
tempat yang jauh. Yang pertama ia dibawa ke atas gunung dan akan dijatuhkan
dari atas gunung itu kalau memang tak ingin kembali pada ajaran Yahudi.
Subhanallah.. pemuda ini pun berdo’a
kepada Allah SWT, “ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini dengan
cara-Mu..” dan akhirnya gunung itu bergetar sehingga pasukan
yang membawanya jatuh dan mati.
Lalu yang kedua ia dibawa ke laut
dan dan ditenggelamkan disana. Namun pemuda ini berdo’a kembali kepada Allah SWT,
“ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini dengan
cara-Mu..” dan akhirnya pasukan yang membawanya tenggelam dan mati.
Pemuda ini selamat & akhirnya
kembali ke istana sseraya berkata, “wahai
raja, sesungguhnya para pengawalmu takkan bisa membunuhku. Kecuali engkau mau
melakukan permintaanku.”
Raja bertanya, “apa itu?”
“Engkau bisa membunuhku jika aku diikat di
sebuah pohon, lalu engkau panah aku tepat di keningku. Tapi engkau harus
mengumpulkan seluruh rakyat di negerimu. Dan saat engkau lepaskan panah, katakanlah
secara lantang, “Bismillah
(dengan nama Allah –Tuhan pemuda ini-) aku membunuh pemuda ini.”
“
Tanpa pikir panjang Sang Raja segera
memerintahkan pasukan untuk mengumpulkan rakyatnya dan mempersiapkan segala
sesuatunya untuk membunuh pemuda ini.
Dan benar, saat raja memanah pemuda
ini dengan asma Allah, pemuda ini pun meninggal. Rakyat berseru heboh. Pengawal
Raja mendekat pada Raja Dzu Nuwas dan memberitahukan bahwa sang Raja telah
melakukan sesuatu hal yang fatal. Ia menyebut Asma Allah, itu berarti ia
mengimani Tuhan pemuda yang sudah dibunuhnya.
Bergegas Sang Raja memberikan
pengumuman kepada seluruh rakyatnya, “Aku
ingin agar kalian bermusyawarah dan kembali kepada agama kalian sebelumnya,
yaitu Yahudi. Kalau tidak, maka aku akan menyerang kalian dan tidak akan
tersisa seorangpun!"
Dzu Nuwas sedang berkhayal bahwa
karena kekuatannya, dengan mudah masyarakat akan menyerah padanya. Dengan sombong ia memandang
kebesaran pasukannya. Tiba-tiba para pembesar Najran mengoyak khayalannya dan
berkata, "Kami tidak butuh
musyawarah. Dengan kedatangan utusan Allah, masa agama Yahudi telah berakhir.
Kami telah menemukan kebenaran dan siap mengorbankan jiwa dan anak-anak kami
untuk mempertahankannya!"
Saat itu juga, raja Dzu Nuwas
benar-benar marah karena tidak menyangka akan mendapatkan jawaban telak seperti
itu. Ia berjalan menuju ke barisan pasukannya dan berteriak seraya berkata, "Galilah lubang dan nyalakan api di
dalamnya! Aku ingin berdiri menyaksikan manusia-manusia yang serius menyembah
Allah!"
Kondisi kota menjadi kacau dan tidak
karuan. Para pasukan Dzu Nuwas menyereti orang-orang dan memasukkannya ke dalam
lubang. Selain itu orang-orang Yahudi membantu para pasukan dengan cara
melaporkan identitas orang-orang Kristen kepada mereka.
Dzu Nuwas berdiri di tepi lubang
sambil tertawa terbahak-bahak mengejek orang-orang Mukmin. Namun ketika ia
menyaksikan sebagian orang mukmin secara sukarela masuk ke dalam kobaran api
demi menyelamatkan keimanannya, Dzu Nuwas semakin marah dan memperparah siksaannya.
Dengan penuh kekejaman Dzu Nuwas
telah membakar banyak orang dan membunuh sebagian yang lainnya.
Di saat itu ada seorang ibu yang
menggendong anaknya yang masih bayi. Ibu itu kelihatan agak bingung dan bimbang
untuk memasuki parit (lubang) api itu, namun Allah memberikan petunjuk. Anak
bayi itu berkata, “Ibu, tenanglah, kita berada dalam kebenaran.” Maka ibu itupun
yakin dan akhirnya ia melompat ke dalam parit itu, sehingga menjadi syahid
bersama mukmin lainnya.
***
Ya, itulah sepenggal kisah. Kisah yang
menceritakan tentang banyak hal dan banyak hikmah, diantaranya:
- Keteguhan iman seseorang, yang rela mengorbankan jiwa raganya untuk Islam (keyakinan terhadap kebenaran).
- Bahwa tak ada kesombongan yang nyata kecuali hanya milik Allah SWT.
- Jangan pernah kagum terhadap seseorang terlalu berlebihan, namun kembalikan lagi kepada Allah SWT.
- Allah-lah Yang Maha Berkehendak atas apapun. Diterangkan dalam ayat yang ke-9, “Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
- Dan disini Allah memperlihatkan kekejian kaum kafir terhadap kaum mukmin. Dalam ayat ke-8, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”
- Allah memberitahukan dari surat ini, bahwa kemenangan yang nyata itu adalah kemenangan akhirat, Allah akan memberikan balasan-Nya kelak di Yaumil Akhir. Diterangkan dalam ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” --> balasan bagi orang kafir
Dalam
ayat ke 11“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal
yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah
keberuntungan yang besar.” --> balasan bagi orang mukmin
- Pertolongan Allah sesungguhnya sangatlah dekat. Ada pada penjelasan ayat-ayat berikutnya. Termasuk kisah tentang kaum Tsamud dan Fir’aun.
- Iman itu haruslah dipertahankan. Bila dapat dianalogikan, “menanam benih keimanan itu mudah, namun untuk memelihara & menumbuhkembangkan keimanan itulah yang sulit.”
Frekuensi
iman itu naik-turun bergantung pada pelakunya. Dan ingat! Keimanan seseorang
itu akan terus diuji. Tapi jangan salah.. Allah menguji itu pasti ada teori
sebelum pengaplikasian, tinggal bagaimana pelakunya mengingat dan menyelesaikan
ujian tersebut :)
Seperti
dalam surat Al-Fajr ayat 15-16, “Adapun
manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya
kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku."
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata:
"Tuhanku menghinakanku".” Sudut pandangnya yang harus diluruskan :)
Ada cerita selanjutnya tentang
Najran, Yaman. Yang akhirnya memperoleh kekalahan walaupun sebelumnya agama
Yahudi kembali berkuasa di Yaman dan Dzu Nuwas merasa memperoleh kemenangan.
Ternyata Allah memang Maha Berkehendak. Ada salah seorang Kristen yang
melarikan diri dari kerusuhan yang terjadi di Najran dan pergi ke istana
kerajaan Romawi. Ia menceritakan peristiwa pembantaian penduduk Najran yang
dilakukan oleh Dzu Nuwas kepada Kaisar Romawi. Kaisar Romawi pun mengirim surat
kepada raja Habasyah dan memintanya agar melakukan balas dendam atas kejahatan
yang dilakukan oleh Dzu Nuwas.
Dalam waktu singkat pasukan Habasyah
pergi menuju Yaman dan berhasil mengalahkan pasukan Dzu Nuwas. Yaman jatuh ke
tangan Negus dan masyarakat memeluk agama baru.
Al-Quran menyebut Dzu Nuwas dan para
sahabatnya sebagai Ashabul Ukhdud dan menceritakan kisah kebinasaan
mereka dalam surat Buruj. Selain itu, untuk menguatkan semangat orang-orang
Mukmin dan perjuangannya al-Quran menyebutkan:
"Sesungguhnya orang-orang yang
menyiksa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak
bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang
membakar.
Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar."(QS. Buruj:
10-11)
Allah memang Maha dari segala Maha.
Maka selalulah meminta kepada Allah, pintalah pertolongan hanya kepada Allah,
niscaya Allah-lah yang akan menolongmu. :)
Langganan:
Postingan (Atom)