Tampilkan postingan dengan label Wisma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisma. Tampilkan semua postingan

21 Juni 2012

Tsabita, Keluarga Pertamaku

Aku ingin bercerita… bercerita kepada kalian tentang sebuah nama…

…Tsabita…

Kusebut keluarga pertamaku disini. Setelah lulus dari SMA dan melanjutkan kuliah di Semarang, pertama kali yang aku kenal adalah wisma Tsabita. Sebuah rumah kontrakan kecil berisikan 10 kamar, dan dari sinilah aku mengenal semuanya.

2 tahun di Tsabita bukanlah waktu yang singkat bagiku untuk mengenal satu sama lain, 1 tahun berlalu berganti pula orang-orang yang ada di dalamnya. Dari sinilah aku belajar untuk memahami satu per satu kepribadian seseorang, karena wisma ini terkenal dengan wisma yang paling banyak penghuninya bila dibandingkan dengan wisma akhwat teknik yang lain. Dan karena banyak penghuninya itu, maka semakin ribetlah waktu untuk kumpul bareng, hehe.

Bisa dibuktikan, selama 2 tahun aku di Tsabita, ga pernah bisa yang namanya ngumpul bareng semuanya dalam satu waktu, baik itu buat foto wisma, jalan2 wisma, makan bareng, syuro, dan lain-lain. Pasti adaa aja yang berhalangan pada hari itu, padahal udah ditentukan jauh-jauh hari… tapi tetep aja kaya gitu, hehe. Pada sibuk semua euy orang-orangnya… :D , tapi insyaAllah sibuk yang bermanfaat… :)

Tapi inilah yang membuatku cinta pada rumah ini :) . Dengan kesibukannya, dengan keheningannya, dengan banyak pro kontra di dalamnya, dari sinilah rasa cinta itu ada. Semua canda-tawa, sedih, senang, tangis-air mata, semuanya terbingkai dalam lingkaran wisma tsabita. Tali persaudaraan yang begitu kuat inilah yang mempersatukan hati-hati kami. Hmm… mungkin aku akan rindu dengan kehangatan di wisma ini.

Tsabita…

Wahana ilmu pertamaku di Semarang.
Dari wisma ini aku belajar tentang kasih sayang, belajar tentang kehangatan sebuah keluarga, belajar tentang arti kedisiplinan, dan tentunya belajar tentang islam.

Tsabita…

Perekat ukhuwah islamiyah antar saudara seiman.
Wisma yang terkenal paling banyak penghuninya, yang pasti pernah ada masalah di dalamnya. Tapi hal inilah yang membuatku kerasan, karena Allah slalu memberikan hikmah di setiap masalah yang ada. Itulah ‘lem perekat’ yang Allah berikan pada kami.

Tsabiters 2011

Tsabita

Dari sini juga aku semakin memaknai arti gotong royong dan lapang dada. Saling membantu satu sama lain, saling berbagi cerita, berbagi canda-tawa, berbagi suka-duka, semuanya ada disini :) .

Tsabita2012 ^_^

Tsabita…

Aku bakal rindu rumah ini, rumah yang slalu ramai dengan tilawah, baik tilawah saudariku yang kusayang sampai tilawah setiap syuro yang ada. Ya, semenjak pertama kali aku melangkahkan kaki disini, setiap hari pasti adaa aja yang nge.tag Tsabita untuk syuro. Pernah sewaktu aku belum terbiasa disini, siang hari saat aku keluar dari kamar terdengar suara ikhwan-akhwat yang mendiskusikan sesuatu.

Pernah kutanya kepada mbak Meike,
“mba, kenapa sih ga syuro di lain tempat? Kok di tsabita, kan jadi rame.” .. “kan kita dapet pahala juga dek kalo memberikan tempat untuk majelis, lagian wisma kita jadi penuh doa, baik itu doa dari mereka yang pernah kesini maupun doa rabithah. Dan yang terpenting banyak tilawah-tasmi’, rumah kita penuh lantunan Qur’an, apa ga seneng? Keberkahan Allah insyAllah datang dengan sendirinya.”

Oh, gitu…baru tahu. Okelah, aku hanya manggut-manggut kala itu. Tapi memang itulah yang kurasakan sekarang. Mungkin karena suara penyejuk qolbu itulah hati-hati kami terikat, dengan doa rabithah yang terlantun setiap al-ma’tsurat, ukhuwah itu pun terasa.

Tsabita…

Sebuah keluarga yang membuatku merasa memiliki seorang ‘kakak’. :) ya, derita anak bungsu nih, Cuma punya adek, ga ada kakak, tapi slalu berperan sebagai kakak :) . Dari sinilah aku merasakan kasih sayang. Ditambah lagi secara umur, aku yang terkecil diantara yang lain, hmm… jadi bener-bener waktuku untuk bermanja2 tahun pertama dulu, hehe.

Tsabita… mungkin tak bisa terungkap dengan kata-kata kenangan yang ada. Kenangan Tsabita itu ada di setiap orang dan tak mungkin aku menulis kenanganku dengan mereka satu persatu (bakal berapa buku yang akan terbit??? hha).

Aku bakal rindu suasana wisma ini. Ramainya wisma,,, sepinya wisma,,, semua ada kenangannya masing-masing. Dari sini aku mendapatkan kakak, teman, dan adik, tentunya saudara senasib sepenanggungan dalam agama Allah. ^_^

Rasa sayang dan cinta ini tak akan pudar, karena ia telah terikat dalam ikatan persaudaraan yang kuat. Ikatan itu ada karena Allah yang mempersatukan. Bagaimanapun nanti, dimanapun aku tinggal selanjutnya, Tsabita tetaplah wismaku :) penuh dengan kenangan dan ilmu (#iyalah 2 tahun cuy :D )

Uhibbukunna fillah ukhti…

Terima kasih telah mengajarkanku arti tarbiyah :)
Rindu ini akan selalu ada untuk kalian…

*1 bulan menjelang kepergian dari tsabita >,<*

19 Juni 2012

Rapuh itu Jauh

detik waktu terus berjalan
berhias gelap dan terang
suka dan duka tangis dan tawa
tergores bagai lukisan

seribu mimpi berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadaMu
yang terindah dalam hidup

meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah padaMu

maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya
diriMu yang bertahta

detik waktu terus berlalu
semua berakhir padaMu
— Opick = Rapuh —

Sebuah lagu yang sering kali kudengarkan kala diri ini rapuh. Rapuh, futur karena merasa jauh dari Allah. Rapuh, tak kuat menahan beban yang Allah berikan di pundakku. Rapuh, kala air mata ini mengalir tanpa ada henti. Rapuh, kala pikiran ini tak menjangkau apa yang telah Allah rencanakan untukku.

Sebenarnya… setiap mereka pasti pernah merasakan ‘jatuh’. Baik itu aktivis dakwah ataupun mereka yang belum terlalu mengenal tentang islam. Sulit untuk mengungkapkan sesuatu yang berkecamuk di dalam pikiran dan hati ini kepada orang lain yang berbeda sekali keadaannya dengan kita. Berbeda dalam hal sifat, berbeda dalam hal pemahaman, berbeda dalam hal memandang suatu masalah.

Semuanya sungguh terasa berat dikala tak ada yang dapat memahami kita. Masalah demi masalah itu serasa tertumpuk tak karuan menjatuhi kita. Tak ada orang di sekeliling kita yang dapat membantu memindah dan menyelesaikan tanggung jawab yang sedang kita pikul. Semua terasa berat… beraatt sekali…

Sendiri… yah, pasti itu yang akan kita rasakan saat ‘rapuh’ itu datang. Merasa dalam kesendirian, padahal banyak orang di sekitar kita. Merasa tak ada yang bisa diajak untuk membantu menyelesaikan masalah, padahal sebenarnya ada banyak orang yang menawarkan bantuan. Merasa bahwa hanya kita yang memiliki masalah ini, padahal di sekitar kita banyak yang juga sedang mengalaminya namun kita yang sering kali tak menyadari karena merasa ‘paling menderita’. Dan masih banyak lagi sesuattu yang dirasa saat ‘rapuh’ ini menyapa.

Sebenarnya banyak yang telah memberikan nasehat tentang ini-itu, tapi kembali pada diri kita masing-masing bagaimana memandang korelasi antara masalah dengan nasehat yang diberikan. Sebuah nasehat itu mudah untuk diberikan, namun kadang sulit untuk direalisasikan. Aku pun menyadari, aku banyak ngasi nasehat kepada seseorang yang sedang ‘rapuh’, tapi saat aku sendiri ‘rapuh’, aku tak bisa berbuat apapun. Pikiran ini serasa bercabang kemana-mana, entah telah sampai mana dan sedang membahas apa, aku pun tak tahu.

Diam… yah, itulah yang paling sering aku lakukan saat masalah dan kerapuhan itu menyapa. Aku tak tahu harus berbuat apa untuk hal ini. Ingin bercerita pun aku tak tahu harus bercerita kepada siapa dan mulai dari mana. Inginnya orang di sekitar itu tahu tanpa aku harus memberi tahu mereka, tapi itu pun tak mungkin. Aku tak mungkin menginginkan semua orang berpikir seperti diriku. Setiap orang punya ciri khas dan kepribadian masing-masing dan sulit bagi kita untuk memaksa mereka mengerti kita.

Pernah aku ingin bercerita kepada orang yang kuanggap kakak, tapi aku tak tahu harus mulai bercerita darimana. Akhirnya aku hanya bisa menangis di hadapannya. Dan beliau pun berkata,

“Janganlah kau berharap bahwa semua orang harus mengerti dirimu, karena itu sama saja pemaksaan. Janganlah kau berpikir bahwa dirimu adalah yang paling menderita, tapi berpikirlah bahwa ada yang lebih memiliki masalah yang lebih besar darimu. Dan janganlah kau menggantungkan dirimu untuk bercerita kepada orang lain, karena sebenarnya yang memberimu masalah itu Allah, jadi berceritalah pada Allah dan mintalah jalan keluar kepada-Nya. Karena tak ada yang lebih mengerti dirimu kecuali IA yang menciptakanmu… :) ”

karena sebenarnya yang memberimu masalah itu Allah, jadi berceritalah pada Allah dan mintalah jalan keluar kepada-Nya. Karena tak ada yang lebih mengerti dirimu kecuali IA yang menciptakanmu…


Ya Allah… tahukah kalian? Serasa bergetar hati ini mendengar kalimat terakhir ini. Serasa diri ini sangat kecil, tapi lupa akan Pencipta yang telah menciptakan. “Allah tak akan memberikan ujian dan cobaan kecuali sesuai dengan kemampuan hamba-Nya”

Tinggal bagaimana kita mencerna apa yang sedang Allah rencanakan untuk kita. Allah pastilah punya misi terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Sayangnya kita belum tahu apa sebenarnya maksud Allah, kenapa Allah memberikan perkara ini?

Aku tahu kenapa ‘dia’ yang kuanggap kakak itu dapat memberikan nasehat itu padahal aku sendiri pun belum bercerita apa masalahku. Semakin banyak pengalaman hidup, pastinya akan semakin banyak hikmah yang dapat diambil, dan aku tahu, beliau pasti dahulu juga pernah mengalaminya bahkan lebih berat daripada aku.

Kala itu hatiku tenang karena nasehatnya, kini aku kembali merasa kering. Mencoba untuk mengingat dan melakukan apa yang beliau katakan, namun tetap saja belum berhasil. Mencoba menyemangati orang lain sembari menyemangati diriku sendiri, namun masih saja belum merasa tersirami. Aku tahu, aku tahu persis bahwa seseorang tidak akan diuji kecuali Allah tahu seberapa kemampuannya. Aku pun tahu, bahwa seseorang akan selalu diuji dengan ujian yang sama jika ia belum lulus dalam ujian itu, dan akan beranjak ke tingkat selanjutnya. Tapi… mengapa?

Aku rindu mereka yang slalu mendengar ceritaku… Aku rindu mereka yang slalu memberikan nasehat padaku…

^^Juni 2012^^

17 Oktober 2011

Pengen tau Ceritaku, kawan??? ^_^


Bismillahirrahmanirrahim…
Setiap pertemuan pasti akan ada sebuah perpisahan, namun ia tak selamanya pergi, tapi ia pergi untuk kembali…
Tak terasa memang waktu setahun itu bergulir. Rasanya baru seminggu kemarin aku diterima di undip, mampir ke wisma tsabita (yang saat itu masih ada harapan buatku untuk diterima STAN, STIS atau univ yang lain), dan bertemu dengan senior-senior yang ada di Semarang. Rasanya baru beberapa hari kemarin aku diospek, ngerjain peta ditemenin mb Ira, Inung, mb Retno, dan Ayu. Rasanya baru kemarin aku mendapat IP pertama.
Tapi ternyata waktu itu telah cepat sekali berputar, dan tak bisa diputar balik lagi. Masa lalu itu sejarah bagi masa mendatang, masa lalu itu pelajaran berharga yang dapat diambil hikmahnya oleh mereka yang berpikir.
Teringat pertemuan pertama dengan anak-anak wisma. Sangat terkenang sekali waktu itu, karena aku memang benar2 buta akan daerah Semarang, tak ada saudara, tak ada teman. Dan tak terpikir bahwa aku akan kuliah di UNDIP Semarang. Tapi mungkin takdir Allah yang akan mempertemukanku dengan kalian, keluarga keduaku J. Pertama kali aku datang ke Tsabita, disana ada mb Yuni, yang dulunya aku takut sama mb nya, ga tau kenapa tapi.hehe. dan beberapa menit kemudian datang mb Iin yang ternyata ngobrol banyak banget sama bapakku sampe hari menjelang sore, akhirnya kupotong juga pembicaraan mereka, hehe (jahat banget aku.wkwkwk)
Dan datangnya aku ke Tsabita untuk yang kedua kalinya ini bukan untuk kunjungan, tapi memang untuk pindahan. Hmm…rasanya berat banget ninggalin Solo, 5 tahun sabane neng Solo ki.
Tapi waktu demi waktu aku mulai merasakan kekeluargaan itu disini, di Tsabita khususnya. Yang mewarnai hidupku di Semarang untuk kali pertama. Dari kalian aku belajar arti kebersamaan, kekeluargaan, dan semua yang sampai saat ini masih kurasakan keberadaan kalian disini.
Bakal kangen mungkin suasana ramainya Tsabita dulu. Pagi rame, siang sepiiiiii, dan kalo dah malem ramenya puoolll…(sampe pernah ditegur tetangga.hehe). Kangen sama dialog NGAPAKnya Inung+Devi. Kangen nge-jail-in mb2nya, hehe, masa besok kalo mau ng-jailin mb tut ism mb retno hrs ke Zukhrufa…hmmm,,ga seru banget!!!
Dan mungkin aku kangen ditegur n dinasehatin mb2 pembina nich..hehe.