Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

27 April 2013

Ashabul Ukhdud :)

Semilir angin pagi ini memberikan semangat tersendiri.
Bertemu dengan mereka, pancaran cahaya iman yang kuat.
Subhanallah.. Beruntung saya memasuki majelis ini..
Ditambah dengan tafsir Al-Buruj yang memberikan banyak hikmah pada kami yang mendengarkannya..
Dan kini akan saya ringkas tentang pengalaman di majelis ini, hanya sedikit, tapi semoga memberikan hikmah tersendiri bagi yang membacanya :D
***

Al-Buruj, surat Makkiyah, surat ke-85 dalam Al-Qur’an, dan termasuk ke dalam juz ‘amma/juz 30.
Pada awal suratnya, Allah SWT bersumpah dengan 3 benda, yaitu:
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Dan demi hari yang dijanjikan. Demi yang menyaksikan & yang disaksikan.” (ayat 1-3)

Ya, di atas ada 3 poin penting, 3 yang menjadi suatu keutamaan besar, bintang-hari akhir-peristiwa ashabul ukhdud (para pembuat lubang berapi).

3 ayat pertama dalam surat ini telah menjelaskan bahwa apa yang akan Allah sampaikan pada surat ini adalah sesuatu yang sangat besar, banyak hikmah, pelajaran, dan kisah yang dapat dipelajari dari surat ini.

Harusnya kita bertanya-tanya, ada apakah gerangan Allah sampai bersumpah dengan sesuatu yang kita tahu besarnya keutamaan ketiganya?

Lalu Allah jawab pada ayat ke-4-7, “Binasalah orang-orang yang membuat parit (yaitu para pembesar Najran di Yaman). Yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin.”
Disana jelas tersurat, peristiwa pembesar Najran di Yaman.

Oke, saya ceritakan sedikit tentang kisah ini. Jadi pada zaman sebelum Rasulullah diutus, ada sebuah kerajaan di Yaman, dipimpin oleh seorang raja bernama Dzu Nuwas. Disana ada seorang penyihir yang sudah sangat tua. Maka raja tersebut ingin merekrut seorang pemuda yang dapat menggantikan penyihir itu pada saatnya nanti.

Seorang pemuda itupun menaati perintah orang tuanya yang diminta oleh raja agar belajar sihir kepada Sang Penyihir di istana. Namun setiap kali perjalanan dari rumah menuju istana pemuda ini mampir ke seorang pendeta, ahli ibadah yang rumahnya di tengah-tengah rumah pemuda dengan istana.

Tapi lama-lama pemuda ini bingung, setiap kali terlambat sampai di istana, ia dipukuli oleh orang-orang yang ada di istana, sama dengan yang terjadi di rumahnya. Maka pemuda ini pun bertanya kepada sang pendeta,
“Setiap kali aku terlambat ke istana aku slalu dipukuli, dan setiap kali aku terlambat sampai rumah aku juga dihukum. Apa yang harus aku lakukan?”

Maka pendeta itupun menjawab, “Jika kamu terlambat memasuki istana, maka jelaskanlah kalau kamu ditahan karena keperluan keluargamu. Dan jika kamu terlambat sampai rumah, jelaskanlah jika kamu ditahan karena urusan istana.”

Sampai akhirnya berapa lama berselang pemuda itu menimba ilmu pada pendeta (ahli ibadah) dan penyihir, ia berpapasan dengan binatang besar di hadapannya, yang menghalangi jalannya saat perjalanan menuju ke istana. Pada saat itu pemuda berkata, “inilah saatnya aku membuktikan ilmu siapa yang benar, apakah dari pendeta atau dari penyihir.”

Pemuda itu memegang sebuah batu lalu ia berucap, “ya Allah, jika memang benar ilmu yang diberikan oleh pendeta itu benar adanya maka bunuhlah hewan raksasa ini dengan batu yang akan aku lempar.”

Dan benar, binatang raksasa itu akhirnya mati hanya karena lemparan batu seorang pemuda itu sehingga orang-orang yang akan melalui jalan itu dapat beraktivitas kembali. Saat ia kembali pada ahli ibadah, pendeta itupun berkata kepada sang pemuda, “sesungguhnya engkau telah mendapatkan kebenaran & ilmumu sudah melebihi diriku. Maka bersiaplah untuk menerima ujian yang lebih besar nantinya. Dan saat kau sudah dikenal banyak orang jangan sebutkan namaku kepada mereka.”

Setelah peristiwa itulah, pemuda ini mendapat mukjizat dari Allah SWT, ia bisa menyembuhkan orang sakit. Sampai akhirnya ada seorang keluarga raja yang saat itu menderita sakit dan meminta untuk disembuhkan. Pemuda ini pun berkata, “Sesungguhnya bukanlah aku yang dapat menyembuhkanmu, tapi Allah. Maka berimanlah kepada Allah, niscaya engkau akan diberi kesembuhan atas perantaraku.”

Setelah orang itu beriman kepada Allah, penyakitnya perlahan-lahan sembuh. Dan itu menjadi berita besar yang sampai kepada istana raja. Pemuda ‘alim itu akhirnya dipanggil raja dan ditanya darimana ia mempelajari ajaran agama itu. Saat pemuda itu tak mau menjawab, ia disiksa dan terus disiksa oleh pengawal istana. Sampai akhirnya ia menjawab bahwa yang mengajarinya adalah seorang pendeta yang sering ia kunjungi.

Pendeta itupun akhirnya ditangkap dan dibawa ke istana. Saat diminta untuk kembali kepada ajaran Yahudi, ia menolak. Akhirnya ia pun dibunuh dengan cara yang mengenaskan, yaitu dengan digergaji tubuhnya. Begitulah perlakuan terhadap mereka yang tidak mau kembali kepada ajaran Yahudi.

Namun berbeda perlakuan terhadap sang pemuda yang satu ini. Ia tidak langsung dibunuh, tapi dibawa ke suatu tempat yang jauh. Yang pertama ia dibawa ke atas gunung dan akan dijatuhkan dari atas gunung itu kalau memang tak ingin kembali pada ajaran Yahudi.

Subhanallah.. pemuda ini pun berdo’a kepada Allah SWT, “ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini dengan cara-Mu..” dan akhirnya gunung itu bergetar sehingga pasukan yang membawanya jatuh dan mati.

Lalu yang kedua ia dibawa ke laut dan dan ditenggelamkan disana. Namun pemuda ini berdo’a kembali kepada Allah SWT, “ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini dengan cara-Mu..” dan akhirnya pasukan yang membawanya tenggelam dan mati.

Pemuda ini selamat & akhirnya kembali ke istana sseraya berkata, “wahai raja, sesungguhnya para pengawalmu takkan bisa membunuhku. Kecuali engkau mau melakukan permintaanku.”
Raja bertanya, “apa itu?”

“Engkau bisa membunuhku jika aku diikat di sebuah pohon, lalu engkau panah aku tepat di keningku. Tapi engkau harus mengumpulkan seluruh rakyat di negerimu. Dan saat engkau lepaskan panah, katakanlah secara lantang, “Bismillah (dengan nama Allah –Tuhan pemuda ini-) aku membunuh pemuda ini.” “

Tanpa pikir panjang Sang Raja segera memerintahkan pasukan untuk mengumpulkan rakyatnya dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk membunuh pemuda ini.

Dan benar, saat raja memanah pemuda ini dengan asma Allah, pemuda ini pun meninggal. Rakyat berseru heboh. Pengawal Raja mendekat pada Raja Dzu Nuwas dan memberitahukan bahwa sang Raja telah melakukan sesuatu hal yang fatal. Ia menyebut Asma Allah, itu berarti ia mengimani Tuhan pemuda yang sudah dibunuhnya.

Bergegas Sang Raja memberikan pengumuman kepada seluruh rakyatnya, “Aku ingin agar kalian bermusyawarah dan kembali kepada agama kalian sebelumnya, yaitu Yahudi. Kalau tidak, maka aku akan menyerang kalian dan tidak akan tersisa seorangpun!"

Dzu Nuwas sedang berkhayal bahwa karena kekuatannya, dengan mudah masyarakat akan  menyerah padanya. Dengan sombong ia memandang kebesaran pasukannya. Tiba-tiba para pembesar Najran mengoyak khayalannya dan berkata, "Kami tidak butuh musyawarah. Dengan kedatangan utusan Allah, masa agama Yahudi telah berakhir. Kami telah menemukan kebenaran dan siap mengorbankan jiwa dan anak-anak kami untuk mempertahankannya!"  

Saat itu juga, raja Dzu Nuwas benar-benar marah karena tidak menyangka akan mendapatkan jawaban telak seperti itu. Ia berjalan menuju ke barisan pasukannya dan berteriak seraya berkata, "Galilah lubang dan nyalakan api di dalamnya! Aku ingin berdiri menyaksikan manusia-manusia yang serius menyembah Allah!"

Kondisi kota menjadi kacau dan tidak karuan. Para pasukan Dzu Nuwas menyereti orang-orang dan memasukkannya ke dalam lubang. Selain itu orang-orang Yahudi membantu para pasukan dengan cara melaporkan identitas orang-orang Kristen kepada mereka.

Dzu Nuwas berdiri di tepi lubang sambil tertawa terbahak-bahak mengejek orang-orang Mukmin. Namun ketika ia menyaksikan sebagian orang mukmin secara sukarela masuk ke dalam kobaran api demi menyelamatkan keimanannya, Dzu Nuwas semakin marah dan memperparah siksaannya.

Dengan penuh kekejaman Dzu Nuwas telah membakar banyak orang dan membunuh sebagian yang lainnya.
Di saat itu ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang masih bayi. Ibu itu kelihatan agak bingung dan bimbang untuk memasuki parit (lubang) api itu, namun Allah memberikan petunjuk. Anak bayi itu berkata, “Ibu, tenanglah, kita berada dalam kebenaran.” Maka ibu itupun yakin dan akhirnya ia melompat ke dalam parit itu, sehingga menjadi syahid bersama mukmin lainnya.
***

Ya, itulah sepenggal kisah. Kisah yang menceritakan tentang banyak hal dan banyak hikmah, diantaranya:
  1. Keteguhan iman seseorang, yang rela mengorbankan jiwa raganya untuk Islam (keyakinan terhadap kebenaran).
  2. Bahwa tak ada kesombongan yang nyata kecuali hanya milik Allah SWT.
  3. Jangan pernah kagum terhadap seseorang terlalu berlebihan, namun kembalikan lagi kepada Allah SWT.
  4. Allah-lah Yang Maha Berkehendak atas apapun. Diterangkan dalam ayat yang ke-9, “Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
  5. Dan disini Allah memperlihatkan kekejian kaum kafir terhadap kaum mukmin. Dalam ayat ke-8, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”
  6. Allah memberitahukan dari surat ini, bahwa kemenangan yang nyata itu adalah kemenangan akhirat, Allah akan memberikan balasan-Nya kelak di Yaumil Akhir. Diterangkan dalam ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” --> balasan bagi orang kafir
Dalam ayat ke 11“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.” --> balasan bagi orang mukmin
  1. Pertolongan Allah sesungguhnya sangatlah dekat. Ada pada penjelasan ayat-ayat berikutnya. Termasuk kisah tentang kaum Tsamud dan Fir’aun.
  2. Iman itu haruslah dipertahankan. Bila dapat dianalogikan, “menanam benih keimanan itu mudah, namun untuk memelihara & menumbuhkembangkan keimanan itulah yang sulit.”
Frekuensi iman itu naik-turun bergantung pada pelakunya. Dan ingat! Keimanan seseorang itu akan terus diuji. Tapi jangan salah.. Allah menguji itu pasti ada teori sebelum pengaplikasian, tinggal bagaimana pelakunya mengingat dan menyelesaikan ujian tersebut :)
Seperti dalam surat Al-Fajr ayat 15-16, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku." Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".”  Sudut pandangnya yang harus diluruskan :)

Ada cerita selanjutnya tentang Najran, Yaman. Yang akhirnya memperoleh kekalahan walaupun sebelumnya agama Yahudi kembali berkuasa di Yaman dan Dzu Nuwas merasa memperoleh kemenangan. Ternyata Allah memang Maha Berkehendak. Ada salah seorang Kristen yang melarikan diri dari kerusuhan yang terjadi di Najran dan pergi ke istana kerajaan Romawi. Ia menceritakan peristiwa pembantaian penduduk Najran yang dilakukan oleh Dzu Nuwas kepada Kaisar Romawi. Kaisar Romawi pun mengirim surat kepada raja Habasyah dan memintanya agar melakukan balas dendam atas kejahatan yang dilakukan oleh Dzu Nuwas.

Dalam waktu singkat pasukan Habasyah pergi menuju Yaman dan berhasil mengalahkan pasukan Dzu Nuwas. Yaman jatuh ke tangan Negus dan masyarakat memeluk agama baru.

Al-Quran menyebut Dzu Nuwas dan para sahabatnya sebagai Ashabul Ukhdud dan menceritakan kisah kebinasaan mereka dalam surat Buruj. Selain itu, untuk menguatkan semangat orang-orang Mukmin dan perjuangannya al-Quran menyebutkan:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar."(QS. Buruj: 10-11)

Allah memang Maha dari segala Maha. Maka selalulah meminta kepada Allah, pintalah pertolongan hanya kepada Allah, niscaya Allah-lah yang akan menolongmu. :)

07 Juli 2012

Misteri Tujuh Pintu Langit

Sebuah hadits yg bersumber dari Al Ghazali, Minhajul Abidin, dan Bidayatul Hidayah.

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Ibnu Mubarak menceritakan bahwa Khalid bin Ma’dan berkata kepada Mu’adz,
“Mohon Tuan ceritakan hadits Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang Tuan hafal dan yang Tuan anggap paling berkesan. Hadits manakah menurut Tuan?”

Jawab Mu’adz, “Baiklah, akan kuceritakan.”

Selanjutnya, sebelum bercerita, beliau pun menangis. Beliau berkata,
“Hmm, Betapa rindunya diriku pada Rasulullah, ingin rasanya diriku segera bertemu dengan beliau.”
Kata beliau selanjutnya,

“Tatkala aku menghadap Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, beliau menunggang unta dan menyuruhku agar naik di belakang beliau. Kemudian berangkatlah kami dengan berkendaraan unta itu. Selanjutnya beliau menengadah ke langit dan bersabda:
Puji syukur ke hadirat Allah Yang Berkehendak atas makhluk-Nya, ya Mu’adz!

Jawabku, “Ya Sayyidi l-Mursalin”

Beliau kemudian berkata,
‘Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu. Apabila engkau menghafalnya, cerita itu akan sangat berguna bagimu. Tetapi jika kau menganggapnya remeh, maka kelak di hadapan Allah, engkau pun tidak akan mempunyai hujjah (argumen).

Hai Mu’adz! Sebelum menciptakan langit dan bumi, Allah telah menciptakan tujuh malaikat. Pada setiap langit terdapat seorang malaikat penjaga pintunya. Setiap pintu langit dijaga oleh seorang malaikat, menurut derajat pintu itu dan keagungannya.

Dengan demikian, malaikat pula-lah yang memelihara amal si hamba. Suatu saat sang Malaikat pencatat membawa amalan sang hamba ke langit dengan kemilau cahaya bak matahari.
Sesampainya pada langit tingkat pertama, malaikat Hafadzah memuji amalan-amalan itu. Tetapi setibanya pada pintu langit pertama, malaikat penjaga berkata kepada malaikat Hafadzah:

“Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengumpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang yang suka mengumpat. Aku tidak mengizinkan ia melewatiku untuk mencapai langit berikutnya!”

Keesokan harinya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal shaleh yang berkilau, yang menurut malaikat Hafadzah sangat banyak dan terpuji.

Sesampainya di langit kedua (ia lolos dari langit pertama, sebab pemiliknya bukan pengumpat), penjaga langit kedua berkata,

“Berhenti, dan tamparkan amalan itu ke muka pemiliknya. Sebab ia beramal dengan mengharap dunia. Allah memerintahkan aku agar amalan ini tidak sampai ke langit berikutnya.” Maka para malaikat pun melaknat orang itu.

Di hari berikutnya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan seorang hamba yang sangat memuaskan, penuh sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan, yang oleh malaikat Hafadzah dianggap sangat mulia dan terpuji. Sesampainya di langit ketiga, malaikat penjaga berkata:

“Berhenti! Tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku malaikat penjaga kibr (sombong). Allah memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak pintuku dan tidak sampai pada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri, ia takabbur di dalam majlis.”

Singkat kata, malaikat Hafadzah pun naik ke langit membawa amal hamba lainnya. Amalan itu bersifat bak bintang kejora, mengeluarkan suara gemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah. Sesampainya pada langit keempat, malaikat penjaga langit berkata:

“Berhenti! Popokkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga ‘ujub (rasa bangga terhadap kehebatan diri sendiri) . Allah memerintahkanku agar amal ini tidak melewatiku. Sebab amalnya selalu disertai ‘ujub.”

Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba yang lain. Amalan itu sangat baik dan mulia, jihad, ibadah haji, ibadah umrah, sehingga berkilauan bak matahari. Sesampainya pada langit kelima, malaikat penjaga mengatakan:

“Aku malaikat penjaga sifat hasud(dengki) . Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka hasud kepada orang lain yang mendapat kenikmatan Allah swt. Berarti ia membenci yang meridhai, yakni Allah. Aku diperintahkan Allah agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku.”

Lagi, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal seorang hamba. Ia membawa amalan berupa wudhu’ yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Sesampai di langit keenam, malaikat penjaga berkata:

“Aku malaikat penjaga rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain, bahkan apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit berikutnya.”

Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit. Dan kali ini adalah langit ke tujuh. Ia membawa amalan yang tak kalah baik dari yang lalu. Seperti sedekah, puasa, shalat, jihad, dan wara’. Suaranya pun menggeledek bagaikan petir menyambar-nyambar, cahayanya bak kilat. Tetapi sesampai pada langit ke tujuh, malaikat penjaga berkata:

“Aku malaikat penjaga sum’at (sifat ingin terkenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran dalam setiap perkumpulan, menginginkan derajat tinggi di kala berkumpul dengan kawan sebaya, ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku dan sampai kepada yang lain. Sebab ibadah yang tidak karena Allah adalah riya. Allah tidak menerima ibadah orang-orang yang riya.”

Kemudian malaikat Hafadzah naik lagi ke langit membawa amal dan ibadah seorang hamba berupa shalat, puasa, haji, umrah, ahlak mulia, pendiam, suka berdzikir kepada Allah. Dengan diiringi para malaikat, malaikat Hafadzah sampai ke langit ketujuh hingga menembus hijab-hijab (tabir) dan sampailah di hadapan Allah. Para malaikat itu berdiri di hadapan Allah. Semua malaikat menyaksikan amal ibadah itu shahih, dan diikhlaskan karena Allah.

Kemudian Allah berfirman:
“Hai Hafadzah, malaikat pencatat amal hamba-Ku, Aku-lah Yang Mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku, tetapi diperuntukkan bagi selain Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk-Ku. Aku lebih mengetahui daripada kalian. Aku laknat mereka yang telah menipu orang lain dan juga menipu kalian (para malaikat Hafadzah). Tetapi Aku tidak tertipu olehnya. Aku-lah Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib. Aku mengetahui segala isi hatinya, dan yang samar tidaklah samar bagi-Ku. Setiap yang tersembunyi tidaklah tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan- Ku atas segala sesuatu yang telah terjadi sama dengan pengetahuan- Ku atas segala sesuatu yang belum terjadi. Pengetahuan- Ku atas segala sesuatu yang telah lewat sama dengan yang akan datang. Pengetahuan- Ku atas segala yang telah lewat sama dengan yang akan datang. Pengetahuan- Ku atas orang-orang terdahulu sama dengan pengetahuan- Ku atas orang-orang kemudian.

Aku lebih mengetahui atas sesuatu yang samar dan rahasia. Bagaimana hamba-Ku dapat menipu dengan amalnya. Mereka mungkin dapat menipu sesama makhluk, tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang gaib. Aku tetap melaknatnya…!”

Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat berkata,

“Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.”

Kemudian semua yang berada di langit mengucapkan,
“Tetaplah laknat Allah kepadanya, dan laknatnya orang-orang yang melaknat.”‘

Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) kemudian menangis tersedu-sedu. Selanjutnya berkata,
“Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa selamat dari semua yang baru engkau ceritakan itu?”

Jawab Rasulullah,
“Hai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam masalah keyakinan (keimanan).”

Tanyaku (Mu’adz),
“Engkau adalah Rasulullah, sedang aku hanyalah Mu’adz bin Jabal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”

Berkatalah Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam,
“Memang begitulah, bila ada kelengahan dalam amal ibadahmu. Karena itu, jagalah mulutmu jangan sampai menjelekkan orang lain, terutama kepada sesama ulama. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu pun penuh aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan orang lain. Janganlah mengorbitkan dirimu dengan menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan riya dalam beramal, dan jangan mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di dalam majlis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka mengungkit-ungkit kebaikan, dan jangan menghancurkan pribadi orang lain, kelak engkau akan dirobek-robek dan dihancurkan anjing Jahannam, sebagaiman firman Allah dalam surat An-Naziat ayat 2.”

Tanyaku selanjutnya, “Ya Rasulallah, siapakah yang bakal menanggung penderitaan seberat itu?”

Jawab Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam,
“Mu’adz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu. Dan bencilah terhadap suatu hal sebagaimana kau benci bila itu menimpa dirimu. Jika demikian engkau akan selamat.”

Khalid bin Ma’dan meriwayatkan,
“Sayyidina Mu’adz sering membaca hadits ini seperti seringnya membaca Al-Qur’an, dan mempelajari hadits ini sebagaimana mempelajari Al-Qur’an di dalam majlis.”
Wallohu a’lam

26 Juni 2012

1 Tamparan untuk 3 Pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, lalu dia kembali ke tanah airnya.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencarikan seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.

Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan seorang kiyai yang diminta oleh anaknya.

Dari sinilah terjadi sebuah perbincangan yang unik.
> Pemuda : Anda siapa? Dan apakah Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
> Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan Anda.
> Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
> Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
> Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan untuk setan.


Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

> Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa Anda marah kepada saya?
> Kiyai : Saya tidak marah. Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
> Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
> Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
> Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
> Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?
> Pemuda : Ya!
> Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!
> Pemuda : Saya tidak bisa.
> Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
> Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
> Pemuda : Tidak.
> Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
> Pemuda : Tidak.
> Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
> Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
> Pemuda : Kulit.
> Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
> Pemuda : Kulit.
> Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
> Pemuda : Sakit.
> Kiyai : Walaupun setan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk setan.
:) pemuda itu pun akhirnya terdiam. Tak dapat dia mengelak lagi.
Subhanallah…Allah Maha Besar…

Dia telah memberikan ‘sedikit ilmu’ ini kepada para hamba-Nya yang terpilih. :)
Sehingga seorang kiyai yang mungkin hanya dipandang sebelah mata oleh mayoritas orang dapat menjawab 3 pertanyaan yang sulit untuk orang-orang pintar bahkan professor.

Namun seorang kiyai ini dapat menjawabnya dengan mudah, hanya dengan 1 JAWABAN.
Memang semuanya ada di dalam Al-Qur’an, dan hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengetahuinya.
—Tunggu pada sesi keajaiban Al-Qur’an ^_^—

06 Juni 2012

Tangisan Rasulullah Mengguncangkan Arsy

Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:

“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

“Tuan ini Nabi Muhammad?!”

“Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:

“Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata:

“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.

Maka orang Arab itu pula berkata:

“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu.

‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan
memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:

“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya.

Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di syurga nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

Subhanallah,,, membaca cerita ini seakan-akan aku berada di dekat Rasulullah SAW saat itu. Surga Allah slalu menanti setiap orang yang mengagungkan nama-Mu, mencintai-Mu, ya Rabb… dan mencintai Rasul-Mu… ^_^

Semoga kita termasuk ke dalamnya… :) Aamiiin…

Nasehat Imam Syafi'i kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

Imam Al-Muzany bercerita, “Aku menemui Imam Asy-Syafi’i menjelang wafatnya, lalu aku berkata, “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai ustadzku?”

Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelakan amalanku. Aku tidak tahu, apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”

Aku berkata, “Nasehatilah Aku.”

Asy-Syafi’i berpesan kepadaku,
“Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat didalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu dan jangan lupa engkau akan berdiri dihadapan Allah. Takutlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah apa-apa yang Dia haramkan, laksanakanlah segala yang Dia wajibkan, dan hendaklah engkau bersama Allah dimanapun engkau berada.

Jangan sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah terhadapmu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzholimimu, sambunglah orang yang memutus silaturrahmi kepadamu, berbuat baiklah kepada siapa yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”

Aku berkata, “Tambahkan (nasehatmu) kepadaku.”

Beliau melanjutkan,
“Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran adalah thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata pencaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harap adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai jilbabmu, shadaqah sebagai pelindungmu dan zakat sebagai bentengmu.

Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tidak tergesa-gesa sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunai sebagai penjaramu dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur’an sebagai pembicaramu dengan kejelasan, dan jadikanlah Allah sebagai penyejukmu. Siapa yang sifatnya seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”

Kemudian Asy-Syafi’i mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir (dengan terjemahan):

Kepada-Mu -wahai ilah segenap makhluk, wahai pemilik anugerah dan kebaikan
kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa.
Tatkalah hati telah membatu dan sempit segala jalanku
Kujadikan harapan pengampunanmu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, namun tatkala dosa-dosa itu kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabbku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar
Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan

Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorangpun ahli ibadah yang tersesat oleh iblis
Bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu Adam
Kalaulah Engkau memaafkan aku, maka Engkau telah memaafkan seorang yang congkak, zholim lagi sewenang-wenang, yang masih terus berbuat dosa
Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa walaupun diriku telah Engkau masukkan kedalam jahannam lantaran dosaku
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang, namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar.”


(Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal 430-431) dan ditulis ulang dari Majalah An-Nasihah Volume 13 tahun 1429 H/2008 M

28 April 2012

Kesabaran Rasulullah

# nyari-nyari sesuatu, akhirnya dapet artikel ini, bagus, mengajari kita tentang arti sabar dan bagaimana nantinya manfaat sabar itu… apakah keuntungannya? yuukk dibaca… ^_^ #

Ketika Rasulullah sedlang duduk-duduk di tengah para sahabatnya, salah seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah masuk menerobos barisan jama’ah yang melingkarinya, seraya menyambar kain Rasulullah dan menghardiknya dengan kasar.

Katanya, “Ya Muhammad! Bayarlah hutangmu. Kamu keturunan Bani Hasyim biasa memperlambat pelunasan.”

Pada waktu itu Rasulullah memang punya hutang kepada orang Yahudi itu, namun belum jatuh tempo. Umar yang melihat peristiwa itu langsung bangkit dan menghunus pedangnya, seraya memohon ijin.

Ucapnya, “Ya Rasulullah, ijinkanlah aku memenggal leher bedebah ini!”

Tetapi Rasulullah bersabda, “Ya Umar, aku tidak disuruh berdakwah dengan cara begitu. Antara aku dan dia memang sedang membutuhkan kebijaksanaanmu. Suruhlah dia menagih dengan sopan dan ingatkanlah aku supaya melunasinya dengan baik.”

Mendengar sabda Rasulullah tersebut, orang Yahudi itu berkata,

“Demi yang mengutusmu dengan kebenaran. Sebenarnya aku tidak datang untuk menagih hutangmu, namun aku datang untuk menguji akhlakmu. Aku tahu, tempo pelunasan utang belum tiba waktunya. Akan tetapi aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat, dan ternyata terbukti semua, kecuali satu sifat yang belum aku uji, yaitu kebijakkanmu bertindak pada waktu marah. Ternyata tindakan bodoh yang ceroboh sekalipun engkau dapat mengatasinya dengan bijaksana.

Itulah yang aku lihat sekarang ini. Maka terimalah Islamku ini, ya Rasulullah, “Asyhadu alaa ilada illallah wa annaka ya Muhammad Rasulullah” “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah.”

Cara bersabar dengan membiarkan orang marah tanpa meladeninya merupakan cara efektif dakwah Rasulullah yang sering beliau lakukan. Kesabaran beliau malah mendapat simpati dari seorang Yahudi sehingga dengan kesadarannya sendiri mau memeluk agama Islam.

(Sumber : Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007, Kisah Orang-Orang Sabar, Republika)

*Subhanallah… sebuah sifat yang dapat mengubah persepsi orang kepada diri kita. SABAR. Mari belajar meneladani sifat-sifat Rasulullah,,, baik itu hanya secuil. Belajarlah dari sabar… :) *

04 Januari 2012

Pesan yang Sangat Bermakna


Bismillahirrahmaanirrahim…
Ada suatu pesan yang harus kusampaikan pada sahabat yang dirahmati Allah…
Ada suatu kisah, cerita, namun ini bukan fiksi tapi cerita nyata. Saat itu ada seorang Nabi (yg kita tahu, bahwa seorang Nabi mendapatkan seorang wahyu untuk dirinya sendiri, tidak seperti Rasul yang harus menyampaikan kepada ummatnya) yang bermimpi mendapatkan sebuah pesan...
Ada beberapa pesan yang diberikan itu, diantaranya:

“Kamu akan menemui 4 peristiwa.
Jika kamu bertemu dengan kejadian pertama, maka TELANLAH…
Jika kamu bertemu dengan benda di kejadian kedua, maka TENGGELAMKANLAH…
Jika kamu bertemu dengan kejadian ketiga, maka SELAMATKANLAH...
Jika kamu menemui kejadian keempat, maka BERLARILAH sekencang-kencangnya…”

Maka Nabi itupun pergi dan memulai perjalanannya. Saat telah lama pemuda itu berjalan, akhirnya dia menemukan suatu benda yang besar sekali menjulang tinggi di hadapannya. Apa itu? Benda besar tinggi itu ternyata GUNUNG… bagaimana bisa manusia menelannya???
Lalu Nabi itu berjalan lagi. Setelah berjalan sekian lama, akhirnya dia menemukan PERMATA yang sangat berkilau.Dengan bingung dia bertanya dalam hati, bagaimana mungkin permata yang sangat berharga itu ditenggelamkan??? Kan sayang klo ditenggelamkan… (mungkin itulah yang terpikir oleh kita saat ini…hhe). Saat ditenggelamkan, tiba-tiba permata itu keluar lagi. Dicoba, keluar lagi. Dan seterusnya seperti itu.
Setelah permata itu, maka Nabi itu melanjutkan perjalanan kembali. Setelah sampai pada suatu tempat, dia memperhatikan kejadian yang ada di hadapannya. Seekor burung pipit yang kecil mungil dihadapannya berkata, “Tuan, tolonglah saya… Di atas ada burung elang yang sedang menuju kesini dan ingin memakan saya. Jika itu terjadi pasti saya akan mati.”Dengan merintih burung pipit itu memohon. Tapi saat Nabi itu ingin menyelamatkan burung pipit, si elang datang dan berkata, “wahai Nabi, serahkan burung pipit itu kepadaku. Jika kamu selamatkan dia, pasti aku akan mati kelaparan.”
 Nabi itu kebingungan, dia harus menyelamatkan jika menemui kejadian ketiga. Tapi mana yang harus dia selamatkan saat ini? Jika dia menyelamatkan burung pipit, maka burung elang akan mati kelaparan. Tapi jika sebaliknya, maka burung pipit yang akan mati. Hmmm…maka Nabi itu mengambil sedikit daging dari tubuh burung pipit dan diserahkan kepada burung elang.
Selesai menyelamatkan kedua burung tersebut, maka Nabi ini melanjutkan perjalanan. Sampai pada suatu tempat, dia menemukan BANGKAI. Maka dia pun BERLARI sekencang-kencangnya dari tempat itu.
Dari keempat kejadian itu, ternyata mengandung hikmah yang sangat unik dan berharga. Apa itu??? ada yang tahu? ^_*
  1. Saat menemukan benda besar, yang berupa gunung, tapi harus ditelan. Disini, gunung dianalogikan seperti AMARAH yang harus ditelan. Dalam Q.S. Ali-Imron : 134 “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang MENAHAN AMARAHNYA dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” Takutlah hanya kepada Allah, Bersabarlah, jangan Cepat Emosi, karena itulah AMARAH.
  2. Permata yang berkilau ini dianalogikan seperti AMAL KEBAIKAN seseorang. Bagaimana bisa dia diTENGGELAMKAN? Ya, disini dimaksudkan bahwa amal kebaikan walaupun kita tutup2i dari orang lain, tapi Allah akan tetap mengetahuinya. Akan selalu terlihat di hadapan Allah dan akan Allah balas dengan balasan yang setimpal dengan amal kita. Dalam Q.S. Az-Zalzalah : 7-8 “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”
  3. Burung pipit dan Burung elang tadi, menyiratkan arti TADHIYAH (Pengorbanan). Harus adaTOTALITAS dalam berdakwah, jangan setengah-setengah. Dalam Risalah Dakwah Imam Syahid Hasan Al-Banna “Karena Dakwah slalu meminta semuanya darimu….” ^_^
  4.  Dan yang terakhir saat melihat BANGKAI. Bangkai disini dianalogikan sebagai MAKSIAT. Jika bertemu dengan MAKSIAT, maka JAUHILAH, Berlarilah sekencang-kencangnya, sampai kau meninggalkannya.
Demikian kisah singkat, namun sangat dalam maknanya. TAHAN AMARAH, berbuatlah AMAL KEBAIKAN, TOTALITAS dalam dakwah, dan JAUHILAH MAKSIAT.

*ditengah derasnya hujan sore hari, @Masjid Kampus… ^_^
9 Nov 2011