Menulislah..
karena itu sebuah kebutuhan
ia yang bisa melegakan, menguatkan, bahkan menjadi lembaran-lembaran yang berarti untuk kedepannya
Menangislah saat ingin menangis
tumpahkan semuanya yang ada di dalam hati
karena Allah memang menciptakan air mata untuk itu..
Tersenyumlah
karena ia akan menguatkanmu
kau tahu? Penghuni langit dan bumi seluruhnya sedang menyambutmu, maka tersenyumlah.. :)
Kuatlah engkau dengan senyummu
karena Allah-lah yang akan menguatkanmu
jangan mudah putus asa, karena Allah tak suka mereka yang gampang menyerah..
"Allah lebih mencintai muslim yang kuat daripada yang lemah"
Seberat apapun bebanmu, itu belum seberapa bila dibandingkan para pendahulumu..
Sebesar apapun bebanmu, itu belum sebesar ujian baginda Rasul kita..
Kuatlah..
karena Allah takkan memberikan cobaan bagi seorang hamba, kecuali sebatas kemampuan hamba-Nya..
Kuatlah..
karena ini baru kerikil yang menghalangi jalanmu ke tujuan..
ini belum sebongkah batu besar ataupun gunung yang sangat sulit kau pindahkan..
Kuatlah..
karena disini banyak saudara-saudari yang akan meringankan beban dari pundakmu..
Kuatlah lalu tersenyumlah..
karena Allah sedang mempersiapkan hadiah untukmu beberapa waktu kedepan yang kau tak pernah tahu apa isi dari hadiah itu..
Tersenyumlah..
karena yakinlah, banyak malaikat yang sedang mendo'akanmu saat ini..
dan berdo'alah..
karena Allah akan slalu mendengar do'amu, Dialah yang Maha Pendengar
dan malaikat-malaikat pun mengaminkan do'a-do'amu..
insyaAllah.. ^_^
apa yang kualami, apa yang kutulis, semua atas rencana-Nya. Allah Sutradara Terbaik! Percayalah ^_^
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritaku. Tampilkan semua postingan
22 April 2013
19 April 2013
Arti Sebuah Pertemuan
Bismillah…
Pertemuan itu indah ya kawan… ^_^
Tapi biasanya ‘pertemuan’ itulah yg terlupa, bagaimana bisa
bertemu, kapan, dan dimana, serta kok bisa sampai ‘saat ini’ ? itulah berbagai
rentetan pertanyaan yang biasanya terlontar. Pertemanan, persahabatan, tak bisa
dinyana dan disangka. Mungkin yang dulunya kita kira dia adalah sahabat,
ternyata tak pernah sejalan dengan kita, pikirannya juga tak searah, dan
akhirnya saling menjauh. Kadang…kadangkala terjadi peristiwa seperti itu dan
mungkin sering dialami.
Namun biasanya orang yang tak kita sangka akan sejalan
dengan kita, dialah yang ternyata mengerti, memahami, dan menemani kita. Jalan
yang Allah gambarkan untuk kita itu tak bisa kita tentukan. Tapi raba-lah
jalan-jalan yang telah Allah siapkan itu.
Karena jalan yang Allah design
itu lebih indah dari yang kita bayangkan. ^_^
Dan aku bersyukur memiliki teman, sahabat, seperti yang aku
dapat saat ini.
Ya Allah… Terima kasih… ^_^
Label:
ceritaku,
Rahasia Allah
Kelompok ini, Luar Biasa! :)
Ada hal yang membuatku senang..
Ada hal yang membuatku sedih..
Ada hal yang membuatku tersenyum..
Ada hal yang membuatku menangis..
Ada juga hal yang membuatku kagum..
Semua hanya ada dalam satu bingkaian. Tahukah kamu apa
bingkaian itu? Ya, itu adalah sebuah wadah, yang sangat rumit, namun itulah
yang membuat kerinduan ini slalu terjaga.. ukhuwah yang sungguh sangat
Subhanallah.. baru aku tahu disini.. Allah, aku bangga menjadi seorang dari
kelompok ini..
Kelompok tarbiyah yang mencakup segalanya. Semua terbingkai
indah dalam satu makna. Masya Allah.. Aku sungguh rindu kumpulan-kumpulan itu.
Yang disana aku dapat tertawa, menangis, terharu, tersentak kagum, tersenyum,
dan berjuang bersama menegakkan dinul Islam. Allah…..aku bersyukur. Engkau
telah menuntunku pada jalan dakwah ini.
Jalan terjal itu mungkin takkan aku kenal jika Engkau tak
mengenalkannya.. Jalan tantangan itu takkan mungkin aku dapati jika tak ada ruh
dari hidayah-Mu. Allah..aku sungguh sangat bersyukur Engkau kenalkan pada
lingkungan ini. Tak ada yang aku lebih syukuri dari ini. Alhamdulillah.. :)
-07032013-
Label:
ceritaku,
Rahasia Allah
02 April 2013
Kejutan Allah 100hari Jelang Ramadhan ^^
Sekedar pengen cerita, sebagai rasa syukur dan pengingat bagi kedepannya (buat yang baca, ntar kalo Ovi “neko-neko” ingetin yaa :D)
Ya, berawal dari sepotong episode, masa aku katanya kena liver, hepatitis atau semacamnya (klo diliat dari indikasinya emang iya sih), dan itu TEPAT di malam sebelum KKL! Pusing ga tuh??? Udah beberapa hari sebelumnya bolak-balik dan muter-muter di Kariadi, tapi belum dapet informasi dari hasil pemeriksaan yang sebelumnya. Dan akhirnya malam itu juga dapet dokter yang bisa bacain ‘hasil’ yang aku pegang saat itu.
Awalnya memang bilangnya gapapa, tapi pas diperiksa katanya kudu ada pemeriksaan lebih lanjut karena mungkin ada hubungannya dengan hati atau saraf tulang belakang (gara-gara aku pernah jatuh). Aaaaa…. Bener-bener pengen teriak rasanya, masa gajadi berangkat KKL gitu? Udah semalaman sampai sehari selanjutnya tuh air mata deras banget ngucurnya :(
Nggak terima, tapi gimana lagi, denger dokternya bilang gitu ngeri juga. “Lha nanti bener mbaknya kuat ndak? Ntar kalo tiba-tiba disana sakit gimana? Sakit di negeri orang susah juga prosesnya nanti. Ini juga mau ngasi obat bingung juga obatnya apa, kan belum tau hasil dan pemeriksaan selanjutnya.”
Nah lo, ini udah 3 dokter ngomong beginian nih, tahun lalu juga cuma diagnosa2, tapi ujung-ujungnya udah kronis, kan saya trauma dokter…:(
Pasien kalo udah dibilang gitu apa pikiran nggak ngalor-ngidul. Udah besoknya berangkat, malemnya malah dapet ceramah yang kayak gini. Tambah lagi ni pasien satu nggak pernah sakit yang begituan dok, pasien amatiran nih, diceritain yang ngeri udah setengah mati dengerinnya. -_-
Akhirnya, sudahlah cerita itu berlalu, di‘seandainya-seandainya’ juga nggak bakalan balik lagi hehe. Sudahlah, ikhlaskan… :)
***
Yap! Disini ada dua kata kunci, Istiqomah & Tawazun.
19 Maret 2013
antara iseng dan ingin menuliskan :)
hanya ingin sekedar bercerita. Tentang beberapa waktu lalu yang mungkin banyak orang yang mempertanyakan, "kenapa dia ga masuk?" "kenapa dia ngilang-ngilang?" "apa dia ga niat kuliah ya" dsb. Banyak banget lah pertanyaan mungkin ditujukan pada saya, yang terdengar dari telinga saya,tapi saat itu memang saya terlalu shock untuk menceritakannya.
Tanda-tanda itu dimulai saat saya kuliah semester kedua disini. Sering merasa sakit, tapi saya sendiri ragu apa ini benar-benar sakit atau saya yang hanya kecapekan. Maka bilangan hari pun berlalu dan alhamdulillah masih bisa menyelesaikan semester 2 dengan baik walaupun ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerbu saya setiap waktu.
Kenapa saya bilang sakit itu menyerbu atau menyerang saya? Karena memang sangat lama saya tak berurusan dengan sakit, obat, bahkan rumah sakit, ke apotek saja mungkin tak pernah, terakhir mungkin kelas 2 SD itupun gejala tipes dan hanya beberapa hari saya izin dari sekolah, sampai SMA pun tak pernah ada tanda absen di presensi akademis saya. Maka dari itu saya benar-benar merasa lain dari biasanya, merasa tapi ragu untuk menyebut diri saya sendiri sakit. Akhirnya hanya saya biarkan, karena memang rasa sakit itu tiba-tiba datang tapi juga tiba-tiba lenyap.
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Saya masih merasa bahwa saya sehat-sehat saja, karena saya banyak menemukan teman-teman yang mungkin bagi saya pernah mengalami hal seperti ini pula. Lama saya
Tanda-tanda itu dimulai saat saya kuliah semester kedua disini. Sering merasa sakit, tapi saya sendiri ragu apa ini benar-benar sakit atau saya yang hanya kecapekan. Maka bilangan hari pun berlalu dan alhamdulillah masih bisa menyelesaikan semester 2 dengan baik walaupun ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerbu saya setiap waktu.
Kenapa saya bilang sakit itu menyerbu atau menyerang saya? Karena memang sangat lama saya tak berurusan dengan sakit, obat, bahkan rumah sakit, ke apotek saja mungkin tak pernah, terakhir mungkin kelas 2 SD itupun gejala tipes dan hanya beberapa hari saya izin dari sekolah, sampai SMA pun tak pernah ada tanda absen di presensi akademis saya. Maka dari itu saya benar-benar merasa lain dari biasanya, merasa tapi ragu untuk menyebut diri saya sendiri sakit. Akhirnya hanya saya biarkan, karena memang rasa sakit itu tiba-tiba datang tapi juga tiba-tiba lenyap.
Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Saya masih merasa bahwa saya sehat-sehat saja, karena saya banyak menemukan teman-teman yang mungkin bagi saya pernah mengalami hal seperti ini pula. Lama saya
12 Februari 2013
Mutiara Surga...
“Kakak….” sapa adik manis itu di belakangku selepas aku mengajar tahsin kelompok mentoringku.
“Eh, ada Aliya. Ada apa Dik? Tumben nggak ada kajian dirimu di masjid? Nggak biasanya.” tanyaku padanya setelah aku bersalaman dengan lingkaran kelompokku. Segera aku temui Aliya yang berada tak jauh dari tempatku tadi.
Agak lengang memang masjid kampus sore itu, tak ada kajian sore ataupun adik-adik TPQ yang biasanya meramaikan suasana masjid sejarahku ini. Tapi walaupun begitu, suasana masjid ini tetap seperti biasanya, tenang, damai, menyejukkan hati para muslim/muslimah yang datang kemari. Putihnya awan dan langit biru sore ini memang indah, tak mendung, tak panas, cerah.
Aku salami Aliya yang telah menungguku sedari tadi, tapi aku tak sadar karena tadi memang sedang khusyu’nya tahsin. Senyumnya manis, maka tak salah jika aku sering memanggilnya ‘ukhty manis’ :). Tingkahnya masih seperti anak kecil, tapi pikirannya dewasa, itulah yang membedakannya dengan teman-temannya yang lain.
“Assalamu’alaykum adikku sayang, mau cerita ya?” tanyaku lembut padanya.
Dia mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya.
“Kita ke pelataran aja yuk, mumpung lagi nggak panas atau hujan. Sambil menikmati ciptaan Allah.” Ajakku padanya sambil membereskan barang-barangku yang masih tercecer.
Sambil menuruni anak tangga dari lantai 2, aku bertanya bagaimana kabarnya, kuliahnya, lalu kelompok mentoringnya. Ya, dia salah satu adik mentoringku dulu saat pertama kali dia masuk kampus. Sekarang sudah pindah kelompok karena ada rekomposisi dan dia masuk kelompok fakultas, bukan lagi jurusan.
Selalu ada cerita dari bibir adik manis parasnya ini, dulu dia adalah adik kelompokku yang paling bandel, masih pakai celana jins, pakaian ketat, rambutnya warna-warni lagi. Tapi hidayah Allah itu memang tak pernah disangka. Siapa yang akan mengira seorang se-tomboy itu sekarang kalemnya bukan main, lembut dan sopan tutur katanya, cantik dalam balutan jilbab yang sekarang menghiasi dirinya.
***
Dia pernah bertanya saat pertama kali mentoring denganku, “Kak, kok kakak mau-maunya sih pake pakaian yang seperti itu, kan jadi riweh, ribet, panas lagi di kota ini. Aku aja sekarang yang cuma pake kerudung kecil gini aja udah kepanasan kak, ga betah.”
Aku hanya tersenyum kala itu. Menjawab pertanyaan ini, artinya memberi sesuatu yang baru padanya. Dan aku lihat, teman-temannya saat itu seperti udah emosi aja mendengar pertanyaannya yang ceplas-ceplos itu.
“Adikku, agamamu apa sayang?” tanyaku.
“Islam lah kak, kalo nggak aku nggak akan disini dong melingkar sama kakak.” Jawabnya santai, masih dengan style nya yang cool.
“Kamu pernah punya prinsip nggak?” tanyaku kembali.
“Selalu dong kak, setiap orang itu harus punya prinsip, biar nggak plin-plan kalo digangguin orang”
“Nah, itu jawaban pertama. Jilbab yang terurai ini termasuk dalam prinsip kakak.” Jelasku.
“Tapi kenapa punya prinsip yang ribet-ribet sih Kak? Kan kita diberi kebebasan, ini kan bukan negara Arab yang harus pake jilbab semua.”
“Memang kita tinggal di negeri yang tak mendikte kita soal jilbab, asal tak melanggar aturan, tak apa. Tapi memangnya jilbab kultur orang Arab? Sekarang Kakak tanya deh, adik kalo baca Al-Qur’an berapa lembar sehari?”
“Hehehe, jarang sih Kak, orang sibuk banget. Pagi sampe malem di luar, ngerjain tugas, nglembur, main bareng temen-temen, udah, nyampe rumah langsung tepar nggak sempet baca Qur’an. Paling banter satu lembar sehari. Orang papa-mama nggak pernah nyuruh baca Qur’an, cuma dulu aku suruh ikut TPQ aja pas masih kecil soalnya rumahku deket banget sama masjid.
Yaudahdeh, aku sih ngikutin aja. Tapi ngapain juga Kak, kan itu cuma kitab, kalo udah selesai bacanya nggak usah dibaca-baca lagi. Aku juga jarang liat orang tuaku baca, aku ngikutin mereka deh, kan orang tua panutan anak J” jawabnya sambil meringis, tak ada rasa bersalah sedikitpun terhadap apa yang baru saja diucapkannya.
Ya Allah… Saat itu hatiku teriris-iris bukan main, ternyata kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di sinetron TV saja, kenyataan pun masih banyak.
“Hmm… Gitu ya, tapi apa Aliya udah ngerti maksud isi Al-Qur’an walaupun mungkin udah pernah khatam?” tanyaku hati-hati, takut ada perkataanku yang menyinggungnya.
Tapi memang orangnya ceria banget, cuek, santai aja dia menjawab pertanyaanku, “belum sih Kak, emang apa Kak maksud dari isi Al-Qur’an? Pernah dulu aku tanya Mamaku, tapi nggak dijawab soalnya pas itu lagi sibuk banget. Nggak ada yang bisa aku tanyain Kak. Pokoknya sehari-harinya aku suruh belajar belajar belajar aja Kak, les semuanya harus aku ikutin. Jadi nggak tau apa itu isi Al-Qur’an…” jelasnya sambil menunduk, suaranya perlahan menjadi pelan tak se-ceria tadi di akhir kalimatnya.
Saat itulah aku terperanjat, seperti baru saja dibangunkan. Ya Allah… Ia butuh pembimbing, ia butuh seorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, menjawab keingintahuannya. Ia ceria, padahal hatinya meronta-ronta. Ia selalu tersenyum, tapi di hatinya tak tenang. Ia pandai, tapi tak pandai menata hatinya sendiri. Allah… mungkinkah Engkau mengirimkanku padanya agar aku dapat selalu tersenyum padanya, mendengarkan kisahnya, dan menjawab segala keresahannya?
Tak berapa lama suaraku memecahkan keheningan yang ter-stel otomatis itu, “Adikku, dalam Al-Qur’an itu ada banyak yang Allah ceritakan pada kita. Banyak orang bilang Al-Qur’an itu surat cinta-Nya Allah untuk kita, para hamba-Nya. Dan memang benar, ia adalah tanda cinta Allah pada kita. Untuk apa Rasulullah bersusah payah dalam menerima wahyu, sampai beliau berkhalwat di Gua Hira’ berhari-hari. Beliau diboikot kaum kafir Quraisy, dicela dimaki oleh mereka, tapi beliau dan para pengikutnya tetap bertahan dalam keteguhan dan kesabarannya. Itu karena Al-Qur’an ini begitu berharga.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan banyak kejadian dan hikmah. Bagaimana dahulu perjuangan Rasulullah dan para Nabi-Rasul sebelum beliau. Bagaimana melewati semua masalah yang datang silih berganti. Ya, semua itu memang butuh pengorbanan, dan dari merekalah kita juga diajarkan untuk berkorban.”
Kedelapan adik-adikku itu masih tetap menanti penjelasanku berikutnya.
“Dan kamu tahu Dik, di Al-Qur’an itu juga menjelaskan tentang jilbab.”
“Ooh… Iya ya Kak. Hmm… Kayaknya aku harus belajar lagi. Tapi kenapa Allah menyuruh kita berjilbab Kak?”
Aku tersenyum, “Allah sayang dan sangat cinta pada kita, makanya Allah menyuruh kita berjilbab.”
“Kok sayangnya Allah ada syaratnya Kak?” tanya salah seorang dari mereka.
“Allah sayang sama kita nggak pake syarat kok. Tapi Allah ingin yang terbaik bagi kita, Allah ingin kita akan selamanya menjadi mutiara yang slalu dinanti surga. J” jawabku singkat.
Ya, mereka bukan selamanya harus digurui dengan penjelasan-penjelasan yang ada, adakalanya aku harus memancing mereka dengan jawaban teka-teki yang membuat mereka penasaran. Hehe.
“Apa hubungannya Kak jilbab sama mutiara?”
“Mutiara itu kalau dipelihara dan dijaga dengan baik, maka ia akan tetap memancarkan kilaunya.
Tapi kalo mutiara itu ditaruh di sembarang tempat, kena sinar matahari, kena hujan, bahkan sering dipegang-pegang orang, berpindah tangan tanpa kita sadari maka mutiara itu tak bernilai lagi.
Makanya mutiara itu harus disimpan dengan baik dalam wadah rahasia yang hanya kita & Allah yang tahu. Sampai waktu yang ditentukan kita serahkan kepada yang berhak menerimanya. Kan yang nantinya menerima juga senang diberi mutiara yang masih indah dan berkilau.:)”
Hiks… hiks… hikss..
Tanpa sadar aku mendengar tangisan mereka, adik-adikku yang baru saja aku temui. Aku tak sadar, karena memang kata-kata barusan berselancar dengan lancarnya keluar dari mulutku. Dan aku tak sadar, aku tak melihat ekspresi mereka saat aku menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba saja tangisan itu terdengar, lama kelamaan menjadi keras.
Aku memandangi mereka satu persatu. Tanpa aku sadari, bulir air mata itu juga menetes ke pipiku. Ya Allah… jika memang ini bukti hidayah-Mu kepada mereka lewat perantara aku, maka balikkan hati mereka Ya Robbi, sebagaimana telah Engkau balikkan hati Umar bin Khottob ke cahaya terang benderang itu.
Ya, saat itu aku menangis, tapi karena terharu. Saat itu aku tersenyum, karena melihat hidayah Allah menyentuh lembut hati mereka. Saat itu juga, aku rangkul mereka satu-per satu. Adik-adikku… Kalian-lah mutiara-mutiara itu…
“Kak, boleh aku belajar Islam darimu?” kata Aliya saat itu juga dengan sesenggukan dan di-iyakan teman-temannya yang lain.
Ya Robb… Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Apalagi yang bisa aku lakukan saat ini selain bersimpuh sebagai tanda syukurku pada-Mu. Bantu hamba-Mu yang lemah ini untuk memberikan sedikit ilmunya ini kepada mereka.
Lingkaran ini… Lingkaran Cinta… Uhibbukunna fillah…
***
Ya, mengenang kejadian 2 tahun silam itu memang membuat hati ini berdesir tak karuan. Antara senang, sedih, takut bercampur menjadi satu.
Sesampainya di pelataran, kami berdua duduk pada salah satu anak tangga. Semilir angin dan suara kicauan burung sore itu menjadi hiasan percakapan kami. Bercanda, tertawa, lalu tangisannya ternyata tak bisa disembunyikan lagi saat bercerita masalah keluarganya. Segera aku rangkul dia. “menangislah… menangislah sepuasnya sekarang, karena air mata memang dibuat untuk itu sayang..”
***
Wahai muslimah, berbanggalah…
Para malaikat Allah tak bertelinga, tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab.
Para malaikat Allah tak memiliki mata, tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab.
Para malaikat Allah tak punya jantung, tapi sanggup mereka rasakan degub kebangkitan jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi.
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya, tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara: Ini tidak main-main! Ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain!
=Emha Ainun Najib=
Karena jilbabku inilah pelindungku, kekasihku, kesetiaanku, kemurnianku, kecantikanku, dan alatku untuk terus mengingat Allah
Saat aku meletakkan jilbab di atas kepalaku,
Aku tahu segala kesesatan yang dibawa oleh setan akan dilenyapkan
Jilbab bukan sekedar pelengkap penampilan
Jilbab juga bukan tameng untuk menutupi kekurangan
Jilbab adalah suatu bentuk pengabdian dan cerminan seorang wanita
Untuk menyamarkan keindahan raganya serta pengamalan dari apa yang ia pelajari
Ya Allah…
Semoga aku bisa menjaga keikhlasannya… ^_^
Barakallah, selamat saudariku… selamat datang dlm dunia surga ini :)
***
Menjelang Hijab’s Day, kutulis ini spesial untuk Mutiara-Mutiara Surga… Engkaulah, saudariku… :D
*11-02-2013.03:02*
“Eh, ada Aliya. Ada apa Dik? Tumben nggak ada kajian dirimu di masjid? Nggak biasanya.” tanyaku padanya setelah aku bersalaman dengan lingkaran kelompokku. Segera aku temui Aliya yang berada tak jauh dari tempatku tadi.
Agak lengang memang masjid kampus sore itu, tak ada kajian sore ataupun adik-adik TPQ yang biasanya meramaikan suasana masjid sejarahku ini. Tapi walaupun begitu, suasana masjid ini tetap seperti biasanya, tenang, damai, menyejukkan hati para muslim/muslimah yang datang kemari. Putihnya awan dan langit biru sore ini memang indah, tak mendung, tak panas, cerah.
Aku salami Aliya yang telah menungguku sedari tadi, tapi aku tak sadar karena tadi memang sedang khusyu’nya tahsin. Senyumnya manis, maka tak salah jika aku sering memanggilnya ‘ukhty manis’ :). Tingkahnya masih seperti anak kecil, tapi pikirannya dewasa, itulah yang membedakannya dengan teman-temannya yang lain.
“Assalamu’alaykum adikku sayang, mau cerita ya?” tanyaku lembut padanya.
Dia mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya.
“Kita ke pelataran aja yuk, mumpung lagi nggak panas atau hujan. Sambil menikmati ciptaan Allah.” Ajakku padanya sambil membereskan barang-barangku yang masih tercecer.
Sambil menuruni anak tangga dari lantai 2, aku bertanya bagaimana kabarnya, kuliahnya, lalu kelompok mentoringnya. Ya, dia salah satu adik mentoringku dulu saat pertama kali dia masuk kampus. Sekarang sudah pindah kelompok karena ada rekomposisi dan dia masuk kelompok fakultas, bukan lagi jurusan.
Selalu ada cerita dari bibir adik manis parasnya ini, dulu dia adalah adik kelompokku yang paling bandel, masih pakai celana jins, pakaian ketat, rambutnya warna-warni lagi. Tapi hidayah Allah itu memang tak pernah disangka. Siapa yang akan mengira seorang se-tomboy itu sekarang kalemnya bukan main, lembut dan sopan tutur katanya, cantik dalam balutan jilbab yang sekarang menghiasi dirinya.
***
Dia pernah bertanya saat pertama kali mentoring denganku, “Kak, kok kakak mau-maunya sih pake pakaian yang seperti itu, kan jadi riweh, ribet, panas lagi di kota ini. Aku aja sekarang yang cuma pake kerudung kecil gini aja udah kepanasan kak, ga betah.”
Aku hanya tersenyum kala itu. Menjawab pertanyaan ini, artinya memberi sesuatu yang baru padanya. Dan aku lihat, teman-temannya saat itu seperti udah emosi aja mendengar pertanyaannya yang ceplas-ceplos itu.
“Adikku, agamamu apa sayang?” tanyaku.
“Islam lah kak, kalo nggak aku nggak akan disini dong melingkar sama kakak.” Jawabnya santai, masih dengan style nya yang cool.
“Kamu pernah punya prinsip nggak?” tanyaku kembali.
“Selalu dong kak, setiap orang itu harus punya prinsip, biar nggak plin-plan kalo digangguin orang”
“Nah, itu jawaban pertama. Jilbab yang terurai ini termasuk dalam prinsip kakak.” Jelasku.
“Tapi kenapa punya prinsip yang ribet-ribet sih Kak? Kan kita diberi kebebasan, ini kan bukan negara Arab yang harus pake jilbab semua.”
“Memang kita tinggal di negeri yang tak mendikte kita soal jilbab, asal tak melanggar aturan, tak apa. Tapi memangnya jilbab kultur orang Arab? Sekarang Kakak tanya deh, adik kalo baca Al-Qur’an berapa lembar sehari?”
“Hehehe, jarang sih Kak, orang sibuk banget. Pagi sampe malem di luar, ngerjain tugas, nglembur, main bareng temen-temen, udah, nyampe rumah langsung tepar nggak sempet baca Qur’an. Paling banter satu lembar sehari. Orang papa-mama nggak pernah nyuruh baca Qur’an, cuma dulu aku suruh ikut TPQ aja pas masih kecil soalnya rumahku deket banget sama masjid.
Yaudahdeh, aku sih ngikutin aja. Tapi ngapain juga Kak, kan itu cuma kitab, kalo udah selesai bacanya nggak usah dibaca-baca lagi. Aku juga jarang liat orang tuaku baca, aku ngikutin mereka deh, kan orang tua panutan anak J” jawabnya sambil meringis, tak ada rasa bersalah sedikitpun terhadap apa yang baru saja diucapkannya.
Ya Allah… Saat itu hatiku teriris-iris bukan main, ternyata kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di sinetron TV saja, kenyataan pun masih banyak.
“Hmm… Gitu ya, tapi apa Aliya udah ngerti maksud isi Al-Qur’an walaupun mungkin udah pernah khatam?” tanyaku hati-hati, takut ada perkataanku yang menyinggungnya.
Tapi memang orangnya ceria banget, cuek, santai aja dia menjawab pertanyaanku, “belum sih Kak, emang apa Kak maksud dari isi Al-Qur’an? Pernah dulu aku tanya Mamaku, tapi nggak dijawab soalnya pas itu lagi sibuk banget. Nggak ada yang bisa aku tanyain Kak. Pokoknya sehari-harinya aku suruh belajar belajar belajar aja Kak, les semuanya harus aku ikutin. Jadi nggak tau apa itu isi Al-Qur’an…” jelasnya sambil menunduk, suaranya perlahan menjadi pelan tak se-ceria tadi di akhir kalimatnya.
Saat itulah aku terperanjat, seperti baru saja dibangunkan. Ya Allah… Ia butuh pembimbing, ia butuh seorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, menjawab keingintahuannya. Ia ceria, padahal hatinya meronta-ronta. Ia selalu tersenyum, tapi di hatinya tak tenang. Ia pandai, tapi tak pandai menata hatinya sendiri. Allah… mungkinkah Engkau mengirimkanku padanya agar aku dapat selalu tersenyum padanya, mendengarkan kisahnya, dan menjawab segala keresahannya?
Tak berapa lama suaraku memecahkan keheningan yang ter-stel otomatis itu, “Adikku, dalam Al-Qur’an itu ada banyak yang Allah ceritakan pada kita. Banyak orang bilang Al-Qur’an itu surat cinta-Nya Allah untuk kita, para hamba-Nya. Dan memang benar, ia adalah tanda cinta Allah pada kita. Untuk apa Rasulullah bersusah payah dalam menerima wahyu, sampai beliau berkhalwat di Gua Hira’ berhari-hari. Beliau diboikot kaum kafir Quraisy, dicela dimaki oleh mereka, tapi beliau dan para pengikutnya tetap bertahan dalam keteguhan dan kesabarannya. Itu karena Al-Qur’an ini begitu berharga.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan banyak kejadian dan hikmah. Bagaimana dahulu perjuangan Rasulullah dan para Nabi-Rasul sebelum beliau. Bagaimana melewati semua masalah yang datang silih berganti. Ya, semua itu memang butuh pengorbanan, dan dari merekalah kita juga diajarkan untuk berkorban.”
Kedelapan adik-adikku itu masih tetap menanti penjelasanku berikutnya.
“Dan kamu tahu Dik, di Al-Qur’an itu juga menjelaskan tentang jilbab.”
“Ooh… Iya ya Kak. Hmm… Kayaknya aku harus belajar lagi. Tapi kenapa Allah menyuruh kita berjilbab Kak?”
Aku tersenyum, “Allah sayang dan sangat cinta pada kita, makanya Allah menyuruh kita berjilbab.”
“Kok sayangnya Allah ada syaratnya Kak?” tanya salah seorang dari mereka.
“Allah sayang sama kita nggak pake syarat kok. Tapi Allah ingin yang terbaik bagi kita, Allah ingin kita akan selamanya menjadi mutiara yang slalu dinanti surga. J” jawabku singkat.
Ya, mereka bukan selamanya harus digurui dengan penjelasan-penjelasan yang ada, adakalanya aku harus memancing mereka dengan jawaban teka-teki yang membuat mereka penasaran. Hehe.
“Apa hubungannya Kak jilbab sama mutiara?”
“Mutiara itu kalau dipelihara dan dijaga dengan baik, maka ia akan tetap memancarkan kilaunya.
Tapi kalo mutiara itu ditaruh di sembarang tempat, kena sinar matahari, kena hujan, bahkan sering dipegang-pegang orang, berpindah tangan tanpa kita sadari maka mutiara itu tak bernilai lagi.
Makanya mutiara itu harus disimpan dengan baik dalam wadah rahasia yang hanya kita & Allah yang tahu. Sampai waktu yang ditentukan kita serahkan kepada yang berhak menerimanya. Kan yang nantinya menerima juga senang diberi mutiara yang masih indah dan berkilau.:)”
Hiks… hiks… hikss..
Tanpa sadar aku mendengar tangisan mereka, adik-adikku yang baru saja aku temui. Aku tak sadar, karena memang kata-kata barusan berselancar dengan lancarnya keluar dari mulutku. Dan aku tak sadar, aku tak melihat ekspresi mereka saat aku menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba saja tangisan itu terdengar, lama kelamaan menjadi keras.
Aku memandangi mereka satu persatu. Tanpa aku sadari, bulir air mata itu juga menetes ke pipiku. Ya Allah… jika memang ini bukti hidayah-Mu kepada mereka lewat perantara aku, maka balikkan hati mereka Ya Robbi, sebagaimana telah Engkau balikkan hati Umar bin Khottob ke cahaya terang benderang itu.
Ya, saat itu aku menangis, tapi karena terharu. Saat itu aku tersenyum, karena melihat hidayah Allah menyentuh lembut hati mereka. Saat itu juga, aku rangkul mereka satu-per satu. Adik-adikku… Kalian-lah mutiara-mutiara itu…
“Kak, boleh aku belajar Islam darimu?” kata Aliya saat itu juga dengan sesenggukan dan di-iyakan teman-temannya yang lain.
Ya Robb… Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Apalagi yang bisa aku lakukan saat ini selain bersimpuh sebagai tanda syukurku pada-Mu. Bantu hamba-Mu yang lemah ini untuk memberikan sedikit ilmunya ini kepada mereka.
Lingkaran ini… Lingkaran Cinta… Uhibbukunna fillah…
***
Ya, mengenang kejadian 2 tahun silam itu memang membuat hati ini berdesir tak karuan. Antara senang, sedih, takut bercampur menjadi satu.
Sesampainya di pelataran, kami berdua duduk pada salah satu anak tangga. Semilir angin dan suara kicauan burung sore itu menjadi hiasan percakapan kami. Bercanda, tertawa, lalu tangisannya ternyata tak bisa disembunyikan lagi saat bercerita masalah keluarganya. Segera aku rangkul dia. “menangislah… menangislah sepuasnya sekarang, karena air mata memang dibuat untuk itu sayang..”
***
Wahai muslimah, berbanggalah…
Para malaikat Allah tak bertelinga, tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab.
Para malaikat Allah tak memiliki mata, tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab.
Para malaikat Allah tak punya jantung, tapi sanggup mereka rasakan degub kebangkitan jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi.
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya, tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara: Ini tidak main-main! Ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain!
=Emha Ainun Najib=
Karena jilbabku inilah pelindungku, kekasihku, kesetiaanku, kemurnianku, kecantikanku, dan alatku untuk terus mengingat Allah
Saat aku meletakkan jilbab di atas kepalaku,
Aku tahu segala kesesatan yang dibawa oleh setan akan dilenyapkan
Jilbab bukan sekedar pelengkap penampilan
Jilbab juga bukan tameng untuk menutupi kekurangan
Jilbab adalah suatu bentuk pengabdian dan cerminan seorang wanita
Untuk menyamarkan keindahan raganya serta pengamalan dari apa yang ia pelajari
Ya Allah…
Semoga aku bisa menjaga keikhlasannya… ^_^
Barakallah, selamat saudariku… selamat datang dlm dunia surga ini :)
***
Menjelang Hijab’s Day, kutulis ini spesial untuk Mutiara-Mutiara Surga… Engkaulah, saudariku… :D
*11-02-2013.03:02*
30 Desember 2012
Tarbiyah, part#1
Kali ini aku ingin bercerita tentang tarbiyah. Tahukah engkau tentang tarbiyah? Ya, pembinaan arti yg kutahu dulu.
Aku teringat saat itu, sekitar 2,5 tahun yang lalu, saat aku baru saja menginjakkan kaki di kota paman Diponegoro ini, Kota Semarang, tempat aku menuntut ilmu sekarang. Tiba-tiba aku mendapatkan sms dari mbak2 UNDIP kenalan bapak-ibuku pertama kali saat di Semarang mencari kos buatku,
“Assalamu’alaikum. Dek, dulu udah pernah liqo’?” singkat, tapi mengena buatku, tak tahu kenapa saat itu hatiku berdesir membaca sms itu, mungkin ini saatnya aku mengenalnya.
Lalu kubalas, “Wa’alaikumsalam. Hmm… belum mbak, tapi pernah denger. Hehe” jawaban Polos dan lugu banget! Haha.
Trus, aku mendapat jawaban lagi, “oke.”
Saat itu aku lagi di warnet abis antri ngambil almamater dll di PKM Tembalang hanya mengulum senyum mendapatkan sms itu. Ya Allah, apakah aku akan mengenalnya sekarang? Setelah sekian lama aku menunggu dan tak ada jawaban. Oke, akan kumulai disini, di kota ini. –Tahukah kalian, dalam hati aku berkata seperti itu, tapi aku juga tak tahu kenapa aku berpikir demikian. Aneh kan. haha—
Tak lama setelah itu, aku mendapat sms dari mbak nya lagi, intinya tentang pertemuan yang diadain di masjid Polines –klo ga salah-, ga ngerti juga tentang apa itu, ga tau acara apa itu, tapi dengan mudah sekali aku iya-kan, tak ada bantahan sama sekali, ga ada pikiran ini aku mau ditarik kemana (haha), soalnya kan saat-saat itu baru marak kasus tentang NII atau semacamnya.
Lalu sore itu, ba’da ashar, saat aku lagi muroja’ah hafalanku –krn emang ga ada kegiatan lain di wisma-, mbaknya datang ke wismaku, “Ayo dek, udah siap?” Aku jawab dengan senyuman dan anggukan, ternyata dari wismaku ada 2 orang lagi yang mau kesana, yang 1 yang di samping kamarku, yang 1 lagi yang kamarnya ada di pojok sana.hehe.
Akhirnya kami berangkat bareng, untung yang temenku satu anak Semarang, walaupun bukan anak Tembalang, tapi setidaknya lebih ngerti lah daripada aku yang bener2 buta Semarang. Sesampainya disana masih sedikit orang yang datang, akhirnya kami ada di barisan depan. Di waktu itu pula aku mendapat kenalan 2 anak FIB. Hmm, dan darisinilah aku merasakan kenyamanan itu hadir kembali, materi sore itu dibawakan oleh Ustadz Ari Purbono –klo aku ga salah-.
Di saat itu aku merasakan pancaran ruh yang sangat kuat.
Di waktu itu aku merasakan persaudaraan itu begitu erat, padahal belum saling mengenal.
Dan saat itu pula aku mendapatkan senyumanku sendiri, senyuman yang beberapa bulan yang lalu
hilang.
Ya, disinilah jalanku. Disinilah keluargaku.
Selama acara itu berlangsung, aku tak banyak berkata-kata, bingung juga harus berkata apa. Aku ingat, saat itu aku ditanya oleh seorang kenalan disana, “Darimana? Dulu kelompokmu ada berapa orang? Kangen sama kelompok liqo’ yang dlu. Akhirnya sekarang dapet lagi” ceritanya dengan wajah berseri-seri. Dan aku? Yang mendengarkan hanya tersenyum dan menjawab, “Dlu aku belum pernah. Hehe. Ini baru pertama.”
Haha. Beneran, klo inget yang dulu dulu tuh, polooss banget kayaknya jawabanku.
Aku ingat, saat presensi itu diputar, lalu ada kolom “nama & cp murobbi”, aku ga ngerti apa yang harus ditulis. Akhirnya yang kosong hanya di namaku saja. Aku ingat lagi (ini yg diinget yang bener-bener “sesuatu”, baru kukenal), saat pemateri menanyakan, siapa yang udah kenal tarbiyah? Berapa tahun?, dan subhanallah, aku merasakan getaran yang kuat, kagum bercampur haru. Ada yang menjawab sejak SMP, SMA, bahkan ada yang semenjak kecilnya.
MasyaAllah… Vi, di sekelilingmu ini orang-orang hebat!
Bener-bener saat itu aku menjadi seorang pemerhati, dari pemerhati itulah berubah menjadi kekaguman, kagum terhadap orang-orang yang baru kukenal ini.
Kenapa aku sangat perhatian dengan acara ini, karena aku sudah menantikan sejak lama sebenarnya, tapi ternyata Allah “pending” hingga aku sampai di Semarang ini. Aku ingat saat itu, saat aku mau masuk ke SMA Negeri –yang notabene aku ga pernah ada di sekolah umum-, saat itu aku benar-benar takut, ga mau, pokoknya ga mau. Yang aku sampe nangis-nangis, minta sama bapak-ibu supaya aku diijinkan nglanjut di SMA Al-Islam, tapi dengan nasehat haluus sekali, beliau berdua intinya pengen aku di SMA N itu.
Ya, jujur, itu pertamanya gara-gara kepengenanku, ‘coba-coba’ ikut tes masuk program akselerasi di SMA itu. Gara-garanya aku dapet cerita dari temen-temen sekelas klo ada dibuka pendaftaran itu. Haha, dan tahukah kalian, sebenernya aku cuma pengen nyoba, beneran, ga ada niatan buat kesana. Jadi sebenernya klo dibilang orang-orang pada ‘galau’ itu krn Ujian Akhir Nasional, klo aku, galaunya sebelum itu, galau sama keputusanku sendiri, 2 SMA, tinggal milih, tapi itu yang sulit!
Dan aku bingung mau nolaknya, soalnya sampe aku alasan “bu, pak, biayanya mahal disana. Ga ah,” ya, itu salah satu alasanku, padahal alasan sbenernya, Aku ga mau kecebur, takut kebawa disana, lagian, bhs arabku sm pelajaran agama gmn, mesti cuma dikit banget disana, adaptasi? Aku susah buat itu. Ya Allah, kudu gimana ini??? Dan aku kalah lagi! Aku lupa klo bpk-ibuku sangat expert dlm hal itung-itungan. -_-”
Oke, aku manut dah (emg dr dlu kn km manutan vi -_-). Tapi yang masih ngganjel itu, akhirnya aku bilang ke ibu. Dan mungkin ini sudah takdirnya, ibuku cerita ke bulikku, dan akhirnya bulikku bilang, “uwis, gapopo nduk, Ovi kan udh 3 tahun di Al-Islam, ya itu nanti yang diamalkan disana yang udah diajarkan. Ntar ada lah jalannya. Bulik ada kenalan kok insyAllah disana. Ntar ovi belajar lagi disana bisa lah,” haha, kalian tahu, jawaban itu udah ga bisa aku tampik lagi. Aku udah ga ada alesan lagi buat ga mau masuk sana.
Tapi setelah beberapa bulan, aku sadar, agak goyang kesadaranku. Aku langsung bilang ke bulik, “Bulik, katanya mau ada temennya bulik di SMA ku, Ovi belum ngrasa nyaman disana..” Akhirnya pecah tangisku, ya, adaptasi di lingkungan baru yang ‘bener2 baru’ buatku, susah.
Ternyata memang disana tak ada tarbiyah, yah, okelah, berarti memang aku harus membentengi sendiri. Untung di kosan, walaupun yang punya non-Islam, tapi yang ng.kos disana kebanyakan anak rohis. Hehe. Ya, klo dibayangin ya, SMA ku itu, depannya Sekolah Kristen, sampingnya Univ Kristen sama SMA Negeri juga, sampingnya lagi jalan menuju kosan ku, itu juga SD Kristen. Dan disana dulunya daerah Kristenisasi. Wah wah wah… Subhanallah, sampe bu Dewi (mualaf) pun cerita di acara kajian yang aku datangi, tentang kisah hidupnya, dan itu di daerah itu. hmm… ya ada hikmahnya lah. ^_^
Dan, kata “Liqo’” itu, aku hanya sering denger, tapi ga ngerti itu apa (kan, bener2 polos emang, ga nanya juga, ya itulah Ovi :p). Sering denger pas bulik main ke rumahku, trus jam 6 pagi tiba-tiba pamit, tapi adikku ditinggal, bilangnya “nduk, nitip adek ya.” aku saat itu juga hanya mengangguk. “Nggih bulik. Lah, ajeng ten pundi?” tanyaku. “Liqo’ nduk.” Batinku, aku tau artinya, tapi apa itu, ‘makanan’ apa itu. haha
Tapi aku mulai menyadari saat aku di SMA ini, mungkin klo aku ga di SMA N ini, aku ga tau betapa berharganya pelajaran-pelajaran islam itu, betapa adem-nya hati klo dapet siraman dari guru-guru ku, yang dlu aku pernah bilang, ini kenapa ga dijadiin 1 aja sih, pelajaran agama aja sampe 6 lebih gini, mana pusing lagi ngapalinnya. Dan akhirnya aku ngrasain yang hanya ada 1 jam pelajaran agama di SMA. Saat itu akupun ditanya temen SMP,
“gmn Ukhti, anti ada halaqoh juga disana?” senyum mengulum di bibirku, bahasanya lembut banget, padahal kayaknya SMP dlu dia ga ‘alim gini banget deh.
Hehe, afwan ya buat yang ngrasa. :) dan dalam hati aku bilang == aku belajarnya langsung sama surat cinta-Nya aja Ukht sekarang… Alhamdulillah di sebelah kamar, dan kamar pojok sana “mendukungku” di lingkungan ini untuk lebih mengenal-Nya lewat surat cinta-Nya ini…==
Nah kan, sebelah kamar sama pojok kamar lagi -_- ckck. Kayaknya klo diceritain semua bakal dapet sesuatu yang unik lagi. Hehe
_ini baru sepenggal…
dan akhirnya saat itu, aku melingkar bersama 3 temanku, yg 2 pas banget anak wismaku, yg 1, ini yang unik, anak jkt, tapi kalemnyaa subhanallah… hhe *nglebihin aku (PeDe bgt)
291212.0800.
Aku teringat saat itu, sekitar 2,5 tahun yang lalu, saat aku baru saja menginjakkan kaki di kota paman Diponegoro ini, Kota Semarang, tempat aku menuntut ilmu sekarang. Tiba-tiba aku mendapatkan sms dari mbak2 UNDIP kenalan bapak-ibuku pertama kali saat di Semarang mencari kos buatku,
“Assalamu’alaikum. Dek, dulu udah pernah liqo’?” singkat, tapi mengena buatku, tak tahu kenapa saat itu hatiku berdesir membaca sms itu, mungkin ini saatnya aku mengenalnya.
Lalu kubalas, “Wa’alaikumsalam. Hmm… belum mbak, tapi pernah denger. Hehe” jawaban Polos dan lugu banget! Haha.
Trus, aku mendapat jawaban lagi, “oke.”
Saat itu aku lagi di warnet abis antri ngambil almamater dll di PKM Tembalang hanya mengulum senyum mendapatkan sms itu. Ya Allah, apakah aku akan mengenalnya sekarang? Setelah sekian lama aku menunggu dan tak ada jawaban. Oke, akan kumulai disini, di kota ini. –Tahukah kalian, dalam hati aku berkata seperti itu, tapi aku juga tak tahu kenapa aku berpikir demikian. Aneh kan. haha—
Tak lama setelah itu, aku mendapat sms dari mbak nya lagi, intinya tentang pertemuan yang diadain di masjid Polines –klo ga salah-, ga ngerti juga tentang apa itu, ga tau acara apa itu, tapi dengan mudah sekali aku iya-kan, tak ada bantahan sama sekali, ga ada pikiran ini aku mau ditarik kemana (haha), soalnya kan saat-saat itu baru marak kasus tentang NII atau semacamnya.
Lalu sore itu, ba’da ashar, saat aku lagi muroja’ah hafalanku –krn emang ga ada kegiatan lain di wisma-, mbaknya datang ke wismaku, “Ayo dek, udah siap?” Aku jawab dengan senyuman dan anggukan, ternyata dari wismaku ada 2 orang lagi yang mau kesana, yang 1 yang di samping kamarku, yang 1 lagi yang kamarnya ada di pojok sana.hehe.
Akhirnya kami berangkat bareng, untung yang temenku satu anak Semarang, walaupun bukan anak Tembalang, tapi setidaknya lebih ngerti lah daripada aku yang bener2 buta Semarang. Sesampainya disana masih sedikit orang yang datang, akhirnya kami ada di barisan depan. Di waktu itu pula aku mendapat kenalan 2 anak FIB. Hmm, dan darisinilah aku merasakan kenyamanan itu hadir kembali, materi sore itu dibawakan oleh Ustadz Ari Purbono –klo aku ga salah-.
Di saat itu aku merasakan pancaran ruh yang sangat kuat.
Di waktu itu aku merasakan persaudaraan itu begitu erat, padahal belum saling mengenal.
Dan saat itu pula aku mendapatkan senyumanku sendiri, senyuman yang beberapa bulan yang lalu
hilang.
Ya, disinilah jalanku. Disinilah keluargaku.
Selama acara itu berlangsung, aku tak banyak berkata-kata, bingung juga harus berkata apa. Aku ingat, saat itu aku ditanya oleh seorang kenalan disana, “Darimana? Dulu kelompokmu ada berapa orang? Kangen sama kelompok liqo’ yang dlu. Akhirnya sekarang dapet lagi” ceritanya dengan wajah berseri-seri. Dan aku? Yang mendengarkan hanya tersenyum dan menjawab, “Dlu aku belum pernah. Hehe. Ini baru pertama.”
Haha. Beneran, klo inget yang dulu dulu tuh, polooss banget kayaknya jawabanku.
Aku ingat, saat presensi itu diputar, lalu ada kolom “nama & cp murobbi”, aku ga ngerti apa yang harus ditulis. Akhirnya yang kosong hanya di namaku saja. Aku ingat lagi (ini yg diinget yang bener-bener “sesuatu”, baru kukenal), saat pemateri menanyakan, siapa yang udah kenal tarbiyah? Berapa tahun?, dan subhanallah, aku merasakan getaran yang kuat, kagum bercampur haru. Ada yang menjawab sejak SMP, SMA, bahkan ada yang semenjak kecilnya.
MasyaAllah… Vi, di sekelilingmu ini orang-orang hebat!
Bener-bener saat itu aku menjadi seorang pemerhati, dari pemerhati itulah berubah menjadi kekaguman, kagum terhadap orang-orang yang baru kukenal ini.
Kenapa aku sangat perhatian dengan acara ini, karena aku sudah menantikan sejak lama sebenarnya, tapi ternyata Allah “pending” hingga aku sampai di Semarang ini. Aku ingat saat itu, saat aku mau masuk ke SMA Negeri –yang notabene aku ga pernah ada di sekolah umum-, saat itu aku benar-benar takut, ga mau, pokoknya ga mau. Yang aku sampe nangis-nangis, minta sama bapak-ibu supaya aku diijinkan nglanjut di SMA Al-Islam, tapi dengan nasehat haluus sekali, beliau berdua intinya pengen aku di SMA N itu.
Ya, jujur, itu pertamanya gara-gara kepengenanku, ‘coba-coba’ ikut tes masuk program akselerasi di SMA itu. Gara-garanya aku dapet cerita dari temen-temen sekelas klo ada dibuka pendaftaran itu. Haha, dan tahukah kalian, sebenernya aku cuma pengen nyoba, beneran, ga ada niatan buat kesana. Jadi sebenernya klo dibilang orang-orang pada ‘galau’ itu krn Ujian Akhir Nasional, klo aku, galaunya sebelum itu, galau sama keputusanku sendiri, 2 SMA, tinggal milih, tapi itu yang sulit!
Dan aku bingung mau nolaknya, soalnya sampe aku alasan “bu, pak, biayanya mahal disana. Ga ah,” ya, itu salah satu alasanku, padahal alasan sbenernya, Aku ga mau kecebur, takut kebawa disana, lagian, bhs arabku sm pelajaran agama gmn, mesti cuma dikit banget disana, adaptasi? Aku susah buat itu. Ya Allah, kudu gimana ini??? Dan aku kalah lagi! Aku lupa klo bpk-ibuku sangat expert dlm hal itung-itungan. -_-”
Oke, aku manut dah (emg dr dlu kn km manutan vi -_-). Tapi yang masih ngganjel itu, akhirnya aku bilang ke ibu. Dan mungkin ini sudah takdirnya, ibuku cerita ke bulikku, dan akhirnya bulikku bilang, “uwis, gapopo nduk, Ovi kan udh 3 tahun di Al-Islam, ya itu nanti yang diamalkan disana yang udah diajarkan. Ntar ada lah jalannya. Bulik ada kenalan kok insyAllah disana. Ntar ovi belajar lagi disana bisa lah,” haha, kalian tahu, jawaban itu udah ga bisa aku tampik lagi. Aku udah ga ada alesan lagi buat ga mau masuk sana.
Tapi setelah beberapa bulan, aku sadar, agak goyang kesadaranku. Aku langsung bilang ke bulik, “Bulik, katanya mau ada temennya bulik di SMA ku, Ovi belum ngrasa nyaman disana..” Akhirnya pecah tangisku, ya, adaptasi di lingkungan baru yang ‘bener2 baru’ buatku, susah.
Ternyata memang disana tak ada tarbiyah, yah, okelah, berarti memang aku harus membentengi sendiri. Untung di kosan, walaupun yang punya non-Islam, tapi yang ng.kos disana kebanyakan anak rohis. Hehe. Ya, klo dibayangin ya, SMA ku itu, depannya Sekolah Kristen, sampingnya Univ Kristen sama SMA Negeri juga, sampingnya lagi jalan menuju kosan ku, itu juga SD Kristen. Dan disana dulunya daerah Kristenisasi. Wah wah wah… Subhanallah, sampe bu Dewi (mualaf) pun cerita di acara kajian yang aku datangi, tentang kisah hidupnya, dan itu di daerah itu. hmm… ya ada hikmahnya lah. ^_^
Dan, kata “Liqo’” itu, aku hanya sering denger, tapi ga ngerti itu apa (kan, bener2 polos emang, ga nanya juga, ya itulah Ovi :p). Sering denger pas bulik main ke rumahku, trus jam 6 pagi tiba-tiba pamit, tapi adikku ditinggal, bilangnya “nduk, nitip adek ya.” aku saat itu juga hanya mengangguk. “Nggih bulik. Lah, ajeng ten pundi?” tanyaku. “Liqo’ nduk.” Batinku, aku tau artinya, tapi apa itu, ‘makanan’ apa itu. haha
Tapi aku mulai menyadari saat aku di SMA ini, mungkin klo aku ga di SMA N ini, aku ga tau betapa berharganya pelajaran-pelajaran islam itu, betapa adem-nya hati klo dapet siraman dari guru-guru ku, yang dlu aku pernah bilang, ini kenapa ga dijadiin 1 aja sih, pelajaran agama aja sampe 6 lebih gini, mana pusing lagi ngapalinnya. Dan akhirnya aku ngrasain yang hanya ada 1 jam pelajaran agama di SMA. Saat itu akupun ditanya temen SMP,
“gmn Ukhti, anti ada halaqoh juga disana?” senyum mengulum di bibirku, bahasanya lembut banget, padahal kayaknya SMP dlu dia ga ‘alim gini banget deh.
Hehe, afwan ya buat yang ngrasa. :) dan dalam hati aku bilang == aku belajarnya langsung sama surat cinta-Nya aja Ukht sekarang… Alhamdulillah di sebelah kamar, dan kamar pojok sana “mendukungku” di lingkungan ini untuk lebih mengenal-Nya lewat surat cinta-Nya ini…==
Nah kan, sebelah kamar sama pojok kamar lagi -_- ckck. Kayaknya klo diceritain semua bakal dapet sesuatu yang unik lagi. Hehe
_ini baru sepenggal…
dan akhirnya saat itu, aku melingkar bersama 3 temanku, yg 2 pas banget anak wismaku, yg 1, ini yang unik, anak jkt, tapi kalemnyaa subhanallah… hhe *nglebihin aku (PeDe bgt)
291212.0800.
Lokasi:
Semarang, Indonesia
01 Desember 2012
Saat Ar-Rahman itu Mengalun Merdu :)
“yuk vi, cepet, dah mau telat nih kita ke lingkaran. Ga enak kan sama yang udah nungguin disana.”
“iya iya bentar… duh, tugas belon dikerjain, hafalan belon lancar pula. Ckck. Gimana nih.” Sambil berbenah diri aku mengoceh sendiri. MasyaAllah… sepertinya sekarang susah banget buat jaga tuh amanah ngafal, susah masuk, susah ngingetnya pula, Ya Allah… maksiat apa yang hamba perbuat???
Dekatkan kembali hamba pada ayat-ayat-Mu, Rabbi…
“ayuk viii….”
“iye iye… sabar napa? Ntar lagi…”
Akhirnya kami berdua pun berangkat ke tempat favorit kami (yah, sering kami membuat lingkaran-lingkaran kecil disana. :)). Sesuatu yang paling susah kami tinggalkan. Sarana pertama kali kami bertemu, kami saling mengenal, kami saling memahami satu sama lain, dan kerinduan itu pasti slalu ada. Yah, inilah moment yang slalu aku tunggu. Sekali dalam sepekan, kami bertemu lagi, slalu aku rindukan.
Buru-buru kami berlari kecil ke pelataran masjid kampus itu. Ya, akhirnya kami telat, disana sudah ada beberapa orang. Hmm… Lain kali in time nduk… -_-
“Yuk… kita mulai aja ya.”
Kujawab hanya dengan senyuman.
ayuukk….hehe
Tasmi’ (memperdengarkan Al-Qur’an) itu pun berlangsung, berputar antara satu ke yang lain. Sampai pada giliranku…
Bismillahirrahmaanirrahiim… Ar-rahmaan… ‘Allamal Qur’an… Kholaqol Insan… ‘Allamahul Bayaan…
“Fabiayyi aa Laaaaa i Rabbikumaa tukadzibaan…”
“Mbak… mbak Ovi… Mbakk…bangun mbak,,, operasinya sudah selesai.”
Perlahan aku membuka mata, tapi sulit rasanya. Bibirku masih saja komat-kamit melanjutkan tasmi’ Q.S. Ar-Rahman itu. Sejenak kemudian aku tersadar. Aku dimana? Kenapa tiba-tiba aku terlempar jauh dari masjid kampus tempatku tadi berada?
Kucoba membuka mataku meski masih sulit untuk itu. Suara berisik orang-orang berbaju putih itu pun mengusik hafalanku. Aku dimana? Kenapa aku terkapar disini? Ada jarum suntik, ada ibu-ibu memakai pakaian dokter, atap putih yang tak kukenal, suara-suara yang asing.
Aku… Aku… Aku di rumah sakit kah?
Kenapa aku bisa disini?
Mataku masih mencoba untuk menerawang, benarkah?
Tiba-tiba saja tanpa disadari aku merasakan sakit yang amat sangat pada badanku. Kenapa sebenarnya ini? kenapa sulit sekali sepertinya badanku ini untuk bergerak?
Masih saja bibir ini berkomat-kamit melanjutkan ayat-ayatnya. Saat oksigen itu dilepas, sulit rasanya untuk mengatur nafas ini. Aku ingin berkata, tapi tak mampu. Ingin menangis, tapi bingung apa yang harus ditangisin. Ingin berteriak, tapi suara ini tak sampai.
Akhirnya ada suara lagi yang mengagetkanku, “mbak, udah selesai kok, dah jangan nangis lagi.” #eh, nangis? Emang aku nangis? Memang tak terasa saat itu ternyata aku sendiri tak merasa jika air mata itu tlah menetes satu per satu.
Lama setelah aku bertanya-tanya itu, akhirnya aku bisa meringis kesakitan, ga bisa gerak, kepala ini pusing, dan belum sadar sepenuhnya aku dimana. Tapi bibirku pun tak berhenti-hentinya bergerak, ia terus saja melantunkan ayat-ayat suci itu, bahkan aku tak tahu, bagaimana aku bisa se-lancar itu menghafalnya.
Kalau boleh aku bilang, ini suatu keajaiban! Aku ingat saat aku dipanggil perawat untuk berkemas dan pergi ke lantai atas dengan menggunakan lift dan aku sendiri duduk di kursi roda. Ada bapak dan ibu yang menemani. Sampai akhirnya aku masuk ke dalam ruangan yang disana banyak yang memakai pakaian putih-putih, dan masker yang menutupi hidung mereka. Ya, aku semakin ketakutan dikala itu. Banyak dokter dan perawat disini. Banyak suntik dan alat kesehatan lain bertebaran disana sini. Aku takut! Aku takut semuanya!
Boleh aku pergi darisini sekarang juga? Aku ingin teriak sekeras-kerasnya! Ibuuu… bolehkah aku menangis di hadapanmu saat ini? Hanya itu yang ada di pikiranku saat itu. Aku tak pernah bisa menangis di hadapanmu ibu…bolehkah sekarang aku menangis???
Ya, di ruangan itu aku terbaring, sesenggukan, tangisan yang tak bisa dihindarkan lagi. Dokter dan perawat disana tersenyum melihatku, entah itu tatapan mengejek, menyemangati, atau apalah, terserah. Yang ada disini aku takut, aku bingung, ga ngerti harus gimana.
Kuingat kata-kata saudariku tadi pagi, “kenapa vi? Kamu takut banget ya? Ini lagi ma’had, kalau ndengerin ziyad patel dlu gimana?” jawabnya saat aku minta dia memperdengarkan bacaan qur’annya padaku. Ya Allah, ijinkan aku memperdengarkan hafalan qur’an ku yang tak seberapa ini untuk diriku sendiri saat ini…
Benar, saat itu juga, aku senandungkan Q.S. Ar-Rahman…. Bius itu disuntikkan ke selang infusku…. Akhirnya cerita tentang lingkaran kecilku itu pun berputar dalam melodi indah Ar-Rahman…
Ya Allah… terima kasih telah Engkau selipkan cerita itu ke dalam mimpiku yang sedemikian singkat ini…
Akankah cerita selanjutnya ada banyak hikmah disini?
Aku harap begitu…
“iya iya bentar… duh, tugas belon dikerjain, hafalan belon lancar pula. Ckck. Gimana nih.” Sambil berbenah diri aku mengoceh sendiri. MasyaAllah… sepertinya sekarang susah banget buat jaga tuh amanah ngafal, susah masuk, susah ngingetnya pula, Ya Allah… maksiat apa yang hamba perbuat???
Dekatkan kembali hamba pada ayat-ayat-Mu, Rabbi…
“ayuk viii….”
“iye iye… sabar napa? Ntar lagi…”
Akhirnya kami berdua pun berangkat ke tempat favorit kami (yah, sering kami membuat lingkaran-lingkaran kecil disana. :)). Sesuatu yang paling susah kami tinggalkan. Sarana pertama kali kami bertemu, kami saling mengenal, kami saling memahami satu sama lain, dan kerinduan itu pasti slalu ada. Yah, inilah moment yang slalu aku tunggu. Sekali dalam sepekan, kami bertemu lagi, slalu aku rindukan.
Buru-buru kami berlari kecil ke pelataran masjid kampus itu. Ya, akhirnya kami telat, disana sudah ada beberapa orang. Hmm… Lain kali in time nduk… -_-
“Yuk… kita mulai aja ya.”
Kujawab hanya dengan senyuman.
Tasmi’ (memperdengarkan Al-Qur’an) itu pun berlangsung, berputar antara satu ke yang lain. Sampai pada giliranku…
Bismillahirrahmaanirrahiim… Ar-rahmaan… ‘Allamal Qur’an… Kholaqol Insan… ‘Allamahul Bayaan…
“Fabiayyi aa Laaaaa i Rabbikumaa tukadzibaan…”
“Mbak… mbak Ovi… Mbakk…bangun mbak,,, operasinya sudah selesai.”
Perlahan aku membuka mata, tapi sulit rasanya. Bibirku masih saja komat-kamit melanjutkan tasmi’ Q.S. Ar-Rahman itu. Sejenak kemudian aku tersadar. Aku dimana? Kenapa tiba-tiba aku terlempar jauh dari masjid kampus tempatku tadi berada?
Kucoba membuka mataku meski masih sulit untuk itu. Suara berisik orang-orang berbaju putih itu pun mengusik hafalanku. Aku dimana? Kenapa aku terkapar disini? Ada jarum suntik, ada ibu-ibu memakai pakaian dokter, atap putih yang tak kukenal, suara-suara yang asing.
Aku… Aku… Aku di rumah sakit kah?
Kenapa aku bisa disini?
Mataku masih mencoba untuk menerawang, benarkah?
Tiba-tiba saja tanpa disadari aku merasakan sakit yang amat sangat pada badanku. Kenapa sebenarnya ini? kenapa sulit sekali sepertinya badanku ini untuk bergerak?
Masih saja bibir ini berkomat-kamit melanjutkan ayat-ayatnya. Saat oksigen itu dilepas, sulit rasanya untuk mengatur nafas ini. Aku ingin berkata, tapi tak mampu. Ingin menangis, tapi bingung apa yang harus ditangisin. Ingin berteriak, tapi suara ini tak sampai.
Akhirnya ada suara lagi yang mengagetkanku, “mbak, udah selesai kok, dah jangan nangis lagi.” #eh, nangis? Emang aku nangis? Memang tak terasa saat itu ternyata aku sendiri tak merasa jika air mata itu tlah menetes satu per satu.
Lama setelah aku bertanya-tanya itu, akhirnya aku bisa meringis kesakitan, ga bisa gerak, kepala ini pusing, dan belum sadar sepenuhnya aku dimana. Tapi bibirku pun tak berhenti-hentinya bergerak, ia terus saja melantunkan ayat-ayat suci itu, bahkan aku tak tahu, bagaimana aku bisa se-lancar itu menghafalnya.
Kalau boleh aku bilang, ini suatu keajaiban! Aku ingat saat aku dipanggil perawat untuk berkemas dan pergi ke lantai atas dengan menggunakan lift dan aku sendiri duduk di kursi roda. Ada bapak dan ibu yang menemani. Sampai akhirnya aku masuk ke dalam ruangan yang disana banyak yang memakai pakaian putih-putih, dan masker yang menutupi hidung mereka. Ya, aku semakin ketakutan dikala itu. Banyak dokter dan perawat disini. Banyak suntik dan alat kesehatan lain bertebaran disana sini. Aku takut! Aku takut semuanya!
Boleh aku pergi darisini sekarang juga? Aku ingin teriak sekeras-kerasnya! Ibuuu… bolehkah aku menangis di hadapanmu saat ini? Hanya itu yang ada di pikiranku saat itu. Aku tak pernah bisa menangis di hadapanmu ibu…bolehkah sekarang aku menangis???
Ya, di ruangan itu aku terbaring, sesenggukan, tangisan yang tak bisa dihindarkan lagi. Dokter dan perawat disana tersenyum melihatku, entah itu tatapan mengejek, menyemangati, atau apalah, terserah. Yang ada disini aku takut, aku bingung, ga ngerti harus gimana.
Kuingat kata-kata saudariku tadi pagi, “kenapa vi? Kamu takut banget ya? Ini lagi ma’had, kalau ndengerin ziyad patel dlu gimana?” jawabnya saat aku minta dia memperdengarkan bacaan qur’annya padaku. Ya Allah, ijinkan aku memperdengarkan hafalan qur’an ku yang tak seberapa ini untuk diriku sendiri saat ini…
Benar, saat itu juga, aku senandungkan Q.S. Ar-Rahman…. Bius itu disuntikkan ke selang infusku…. Akhirnya cerita tentang lingkaran kecilku itu pun berputar dalam melodi indah Ar-Rahman…
Ya Allah… terima kasih telah Engkau selipkan cerita itu ke dalam mimpiku yang sedemikian singkat ini…
Akankah cerita selanjutnya ada banyak hikmah disini?
Aku harap begitu…
Lokasi:
Surakarta, Indonesia
23 Mei 2012
Apakah kita Tahu?? Ramadhan ini...
Tulisan Ramadhan tahun lalu... Masya Allah... masih tersimpan sampai sekarang hhe... Malas itu emang awal dari segala penyakit... :)
Kembali mengenang Ramadhan tahun lalu... 57 hari lagi menuju Ramadhan tahun ini... yukk... istiqomah... :)
Jadikan Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan kemarin... dan bayangkan bahwa ramadhan ini mungkin adalah Ramadhan terakhirmu, maka persiapkan dengan sebaik-baiknya kawan... :D
Allah ciptakan kita ke dunia bukanlah tanpa tujuan.
Kembali mengenang Ramadhan tahun lalu... 57 hari lagi menuju Ramadhan tahun ini... yukk... istiqomah... :)
Jadikan Ramadhan tahun ini lebih baik dari Ramadhan kemarin... dan bayangkan bahwa ramadhan ini mungkin adalah Ramadhan terakhirmu, maka persiapkan dengan sebaik-baiknya kawan... :D
Allah ciptakan kita ke dunia bukanlah tanpa tujuan.
Allah memberi amanah kepada kita tuk jadi khalifah tidaklah tanpa pedoman.
Allah menuntun kita untuk melaksanakan ibadah bukan pula tanpa sebuah makna.
Apakah kita tahu apa yang Allah inginkan?
Pasti hidup manusia akan sejahtera tak kurang suatu apa jika mereka memang telah mengerti apa itu keinginan Allah.
Tapi pada kenyataannya?? Tak sedikit orang yang memeluk Islam hanya karena ia tak punya pilihan lain,
Ada yang masuk Islam karena memang itu agama keturunan dari nenek moyangnya,
Ada yang masuk Islam karena ingin mendapat imbalan..
Ya, jika diruntut masih banyak alasan seseorang masuk Islam.
Tapi kenapa tak ada yang memiliki alasan yang berarti? Itu dia permasalahan aqidah ummat Islam sekarang ini. Mereka berbondong-bondong masuk Islam, tapi tanpa tujuan. Mereka mengaku Islam, tapi tak pernah mengindahkan perintah dan larangan Allah. Dan terlebih lagi, mereka masuk Islam, tapi tak pernah mau tahu apa ajarannya.
Masya Allah.. beginikah ummat jaman sekarang? Hanya menjadikan Islam sebagai topeng?
Hm..sangat disayangkan. Padahal umat Yahudi Nashrani saja sangat mempercayai sebuah hadits Islam. Tapi kenapa kita, Umat Islam sendiri malah tak pernah memperhatikannya? Boro-boro memperhatikan, tahu “hadits” itu apa saja nggak ngerti..
Apa yang akan Rasulullah katakan jika beliau melihat semua ini? Maka benar firman Allah di Surah Al-Waqi’ah.. “ dan orang-orang yang paling dahulu beriman merekalah yang paling dahulu (masuk syurga). Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah). Berada dalam syurga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang terdahulu. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (10-14)”
Maksud dari segolongan orang terdahulu adalah umat sebelum Nabi Muhammad. Sedangkan segolongan kecil itu adalah umat Nabi Muhammad.
Lalu apa yang akan kita katakan kali ini? Yang paling banyak masuk syurga adalah mereka umat sebelum Nabi Muhammad. Lalu kita? Itu menandakan bahwa yang akan masuk syurga dari umat Rasulullah SAS., hanya seper-sekian gelintir orang. Yang mereka pasti adalah yang dekat dengan Allah. Para sahabat, tabi’in-tabi’ut tabi’in, dan para da’i/da’iah yang tak lelah menyebarluaskan ilmu Allah kepada umat manusia.
Disini hanya tempat untuk merenungi betapa kita mengenal Allah. Seberapa dekat sebenarnya kita dengan-Nya. Sejauh manakah kita telah meninggalkan-Nya. Seberapa banyak amalan yang telah kita lakukan. Bagaimana ibadah kita? Khusyu’ kah? Atau malah pikiran kita melayang kesana kemari saat beribadah kepada-Nya?
Astaghfirullah.. betapa banyak dosa yang telah kita perbuat.
Kapan terakhir kita shalat malam?
Bagaimana kabar shalat kita, berjama’ah atau munfarid?
Kapan terakhir kita membaca Al-Qur’an?
Apakah ayat Allah itu hanya kita baca, lalu tak mempelajari maknanya?
Apakah hanya di hafal, namun tak ada aplikasinya di rutinitas sehari-hari?
Kapan kita terakhir shalat dhuha dengan khusyuk? Pasti banyak dari kita yang karena terlalu sibuk, shalat dhuha hanya berapa menit, atau malah lupa melaksanakannya?
Padahal jika direnungi, do’a shalat dhuha sangatlah dalam maknanya.
Lalu jika ditanya, kapan kita terakhir bersedekah? Lalu ditanya lagi apakah niat kita ikhlas atau tidak? Masya Allah.. Allah Maha Tahu Segalanya, baik itu di dalam hati kita..
Kenapa kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya diinginkan Allah? Karena kita yang tak pernah mau tahu apa sebenarnya keinginan Allah.
Jika kita mau menelisik, semua itu ada di dalam ayat Al-Qur’an. Apa yang kita tanyakan ada di dalam sana. Apa yang kita risaukan pasti ada jawabannya disana. Lalu kenapa kita bingung-bingung saat akan bertanya tentang sesuatu? Padahal Allah selalu siap sedia mendengarkan curahan hati kita. Kapan saja, terutama saat sepertiga malam terakhir, Allah turun ke langit dunia.
Di saat itu, kita bercerita, lalu kita menangis di setiap sujud kita pada-Nya, lalu membaca ayat-ayat-Nya, dan yang pasti renungilah ayat-ayat-Nya. Rasulullah yang telah terbebas dari seluruh dosa saja sampai tak mau rela meninggalkan waktu mustajab tersebut. Beliau slalu menyisihkan malam-malam terakhirnya untuk menghadap-Nya, bercerita tentang pelik kehidupan yang sedang dialaminya, dan tak lepas tangisan dari setiap do’anya.
Nah kita? Masih terlelap dalam mimpi-mimpi tidur mungkin ya..
Hm……… Lalu apa sebenarnya sebutan yang tepat bagi diri kita??
Mulai sekarang, jadikan diri kita bermanfaat. Bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Beribadah kepada Allah adalah kebutuhan kita, bukan sekadar kewajiban. Allah tak akan merugi jika kita tak melaksanakan kewajiban. Allah juga tak akan bertambah derajat jika kita melakasanakan perintah-Nya. Tapi kita-lah yang akan merugi jika kita meninggalkan perintahnya dan mendekati larangan-Nya.
Sungguh kita hamba yang hina jika menyia-nyiakan perintah Allah.. Tapi sungguh, kita adalah hamba yang mulia jika kita berhasil dekat dengan Allah. Allah telah siapkan syurga bagi mereka-mereka yang berusaha mendekat pada-Nya……
Mari,, Fastabiqul Khoirot!!! *_*
Sedikit share tentang sesuatu yang biasa kita hadapi....
Semoga bermanfaat....
Hamasah!! Semangat menyambut bulan Ramadhan nan suci....
H-57 hari lagi kawan!!!
Persiapkan dengan sematang-matangnya....
24 Mei 2012
Lama tak membuka2 blog ini. Kangen rasanya... :) Tulisan kesimpen semua di draft, ga dipublish-publish... ckck...
Sepertinya harus mulai istiqomah lagi... menebar cerita... berbagi kisah... di dunia maya ini... :)
FASTAQIM!!!
"Sebaik-baik seseorang adalah ia yang bermanfaat bagi yang lain... :)"
Sepertinya harus mulai istiqomah lagi... menebar cerita... berbagi kisah... di dunia maya ini... :)
FASTAQIM!!!
"Sebaik-baik seseorang adalah ia yang bermanfaat bagi yang lain... :)"
Label:
ceritaku
Lokasi:
Semarang, Indonesia
17 Desember 2011
Menyemangati Seseorang itu Lebih Mudah ^_^
Bismillahirrahmaanirrahiim…
“Allah Engkau dekat… Penuh kasih sayang, takkan pernah Engkau biarkan hamba-Mu menangis… Karena kemurahanmu… karena kasih sayang Mu…”
Hanya Curhat sedikit… ^_^
Ya Allah… hamba yang tak bersyukur, hamba yang terlalu melankolis, atau hamba yang tak mau mengerti apa yg Engkau inginkan? Hamba sendiri kadang bingung dengan keadaan diri sendiri. Masih…saja tidak ikhlas dengan semua amanah yang Engkau berikan… Dari mulai di jurusan, amanah orang tua, amanah teman,dan yang paling sensitive mungkin amanah dalam hal organisasi ya… hmmm…
Aku kadang bingung dengan perasaan Aku, apakah aku sudah menyenangi hidup aku sekarang atau belum. Jika dipikir-pikir kembali, sebenarnya hal yang merugikan aku sangat sedikit. Allah lebih memberikan aku sesuatu yang unik menakjubkan tanpa disangka-sangka. Memang dalam waktu aku lagi senang dan berpikir masalah masa depan, aku sangat bersyukur dengan apa yang Allah berikan pada aku saat ini, karena memang pendidikan perencanaan ini sangat sesuai dengan apa yang aku suka. Tapi pasti permasalahan itu tetap ada. Aku yang dulu ingin jadi ahli di bidang kesehatan lalu Allah memilihkan ke dalam suatu perencanaan, itu pasti aku ungkit-ungkit lagi padahal aku juga kurang suka sebenernya dengan darah.
yang menjadi masalah sebenarnya adalah sosialisasi aku. Aku memang masih seperti anak kecil yang manja, butuh perhatian, dan semuanya. Walaupun kalau dilihat sekilas, aku disebut oleh teman2 bahwa aku itu orangnya dewasa. Iya, kalo aku lagi ada “mood”, dewasanya masyaAllah…sangat! Tapi kalo udah yang berhubungan dengan perasaan, misal diajuhin teman atau banyak lirikan sinis tak jelas, maka aku yang dewasa itu akan berubah menjadi aku yang sangat manja! Bahkan lebih dari anak kecil yang merengek-rengek kepada ibunya.
Aku kadang bingung dengan perasaan Aku, apakah aku sudah menyenangi hidup aku sekarang atau belum. Jika dipikir-pikir kembali, sebenarnya hal yang merugikan aku sangat sedikit. Allah lebih memberikan aku sesuatu yang unik menakjubkan tanpa disangka-sangka. Memang dalam waktu aku lagi senang dan berpikir masalah masa depan, aku sangat bersyukur dengan apa yang Allah berikan pada aku saat ini, karena memang pendidikan perencanaan ini sangat sesuai dengan apa yang aku suka. Tapi pasti permasalahan itu tetap ada. Aku yang dulu ingin jadi ahli di bidang kesehatan lalu Allah memilihkan ke dalam suatu perencanaan, itu pasti aku ungkit-ungkit lagi padahal aku juga kurang suka sebenernya dengan darah.
yang menjadi masalah sebenarnya adalah sosialisasi aku. Aku memang masih seperti anak kecil yang manja, butuh perhatian, dan semuanya. Walaupun kalau dilihat sekilas, aku disebut oleh teman2 bahwa aku itu orangnya dewasa. Iya, kalo aku lagi ada “mood”, dewasanya masyaAllah…sangat! Tapi kalo udah yang berhubungan dengan perasaan, misal diajuhin teman atau banyak lirikan sinis tak jelas, maka aku yang dewasa itu akan berubah menjadi aku yang sangat manja! Bahkan lebih dari anak kecil yang merengek-rengek kepada ibunya.
Ya, karena aku memang kelemahannya di hati… Hati ini tidak bisa dibohongin. Ada masalah sedikit, langsung kena hatinya. Raut wajah seseorang sangat kelihatan. Apalagi dengan sifat aku yang suka menilai ekspresi seseorang. Banyak orang lain yang bisa aku tahu masalahnya dari raut wajahnya dan simple sebenernya kalo aku ngasinasehat ke mereka. Tapi sekali lagi, ternyata tidak se-simple itu dalam pelaksanaannya. Aku sendiri jika memiliki masalah dengan orang lain, yang tidak lain tidak bukan aku tahu, aku raba dari cara pandang dan sikapnya ke aku, walaupun tidak kentara bagi orang lain, tapi sangat kentara di mata aku, maka nasehat-nasehat yang biasanya aku berikan ke orang lain yang memiliki masalah itu, hilang dari pikiran aku. Semuanya tidak bisa dilakukan.
Makanya aku sering bilang, “Menyemangati orang lain itu lebih mudah daripada menyemangati diri sendiri”
Saat aku jatuh, ternyata banyak yang tak menyadari. Atau menyadari tapi takut nanya ke aku ya?
tapi sayang, aku itu orangnya suka mendengarkan, bukan suka bercerita tentang diri sendiri ke orang lain, bahkan seangkatan sekalipun. Aku sukanya cerita ke mb2nya… Tapi sayang, tak semua tahu tentang aku…
tapi sayang, aku itu orangnya suka mendengarkan, bukan suka bercerita tentang diri sendiri ke orang lain, bahkan seangkatan sekalipun. Aku sukanya cerita ke mb2nya… Tapi sayang, tak semua tahu tentang aku…
Langganan:
Postingan (Atom)


