19 Maret 2012

Manajemen Waktu

Rasanya ada yang kurang, biasanya dulu ba’da maghrib, ba’da isya, atau tengah malam slalu dapat bercanda ria dengan pena dan kertas. Hanya 2 alat tulis itu yang kubutuhkan saat itu. menulis lembaran-lembaran kisah yang kualami. Hmm… aku merasa rindu dengan semua itu. Kapan lagi aku bisa meluangkan waktuku sejenak untuk bercerita kepada teman setia ku itu?

Rasanya sekarang waktu pun harus kubeli. Hari pun ingin rasanya agar bertambah lagi. Hehe. Tapi itu tak mungkin. Walaupun hari dalam seminggu bertambah 1 menjadi 8, maka “kemungkinan besar” hari ke delapan itu pun akan menjadi hari tersibuk juga (haha, sok sibuk).

Sering aku bertanya, kapankah diriku dan teman-temanku dapat beristirahat sejenak saja? kapan?
Rasanya raga ini lelah sangat. Bahkan ruhiyah ini terasa kosong. Hari-hari di wisma, kapan-berapa jam aku berada di wisma pun mungkin bisa dihitung. Tak seperti dulu saat masih di bangku SMP atau SMA, walaupun “mampir” di kos tidak seberapa, tapi jika dibandingkan waktu yang ada saat kuliah ini sungguh sangat berbeda.

Dan tahukah kawan apa yang menyebabkan banyak aktivis dakwah yang sering “mengeluh” mengenai “waktu kosong yang dipunyainya”?

Ada beberapa sebab yang menyebabkan para aktivis itu merasa lelah dan sering mengeluh. Kalau boleh aku bilang, mereka (dan aku juga pastinya) sebenarnya bukannya “kekurangan waktu”, tapi “salah me-manage waktu”. Dan hal yang seperti itu sering melanda banyak orang di sekitar kita.

Yap! Disini yang akan dibahas adalah salah satu sebab aktivis merasa lelah, yakni tentang MANAJEMEN WAKTU. Poin-poin yang lain masih banyak, tapi inilah poin yang sekarang banyak membuat para aktivis merasa futur, lelah, tidak bersemangat, sering mengeluh, dan kalian pasti tahu bahasa gaulnya apa, GALAU! ya, sekarang banyak aktivis dakwah yang terjangkit penyakit 5 huruf itu, yang seharusnya mereka dapat menghindarinya karena sebenernya kita para aktivis itu punya Allah tempat bersandar, tempat bercerita segala sesuatu, dan tempat mencari jawaban dan meminta pertolongan (lihat Q.S. Al-Fatihah: 5)…. eittss.. nih malah ngluyur kemana-mana ngomongnya…

Ok, kembali ke topik. MANAJEMEN WAKTU. Seharusnya semua aktivis itu punya JADWAL KESEHARIAN, dari waktu pagi sampai malam tiba dan akhirnya balik ke pagi lagi. itu poin pertama. Sebenarnya jika mereka dapat menaati waktu-waktu yang mereka buat dan tulis, maka semuanya akan berjalan dengan lancar. Sekali lagi aku berbicara bahwa “ajaklah DISIPLIN itu bersamamu, maka kamu pasti akan mudah memaknai kehidupan agar lebih berwarna dan bermakna”. Jika sifat disiplin itu telah melekat dalam diri seseorang, terutama seorang aktivis dakwah, pastinya tak ada yang sia-sia. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana, sesuai dengan jadwalnya masing-masing, bahkan yang terpenting kita tidak mendzolimi diri sendiri, orang lain, bahkan waktu yang kita punya. poin kedua.

Semuanya akan berjalan teratur bersama-sama untuk tujuan kebaikan (pastinya kader dakwah tujuannya untuk kebaikan kan?). Dengan manajemen waktu yang baik dan efisien, maka tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, itu tandanya kita bersyukur kepada Allah SWT atas waktu yang diberikan. itu poin ketiga.

Biasanya, kalau aku bisa mengambil pelajaran dari waktu-waktu aku kuliah saat ini, banyak sekali contohnya. Misal jika ada jadwal kuliah, sudah terpampang di jadwal bahwa kuliah mulai jam 09.55, seharusnya kan ya sebelum jam itu para mahasiswa sudah datang di kampus. Tapi karena banyak dosen yang juga (mohon maap) telat di waktu mengajarnya, maka mahasiswa pun jadi ikut-ikutan telat, dan itu sering berimbas ke jadwal-jadwal kuliah yang lain. Padahal karakter setiap orang berbeda-beda. Ada yang suka IN TIME, ada yang suka ON TIME, dan ada yang sering juga datang OUT TIME alias telat. Dan dalam hal ini aku belajar dari seorang dosen yang sangat menghargai waktu, sampai waktu 1 detik pun dihitung di jam tangannya, jika ada mahasiswa telat 1 detik saja, maka pintu kelas pun tertutup.

Contoh yang lain juga tentang waktu, pasti semua aktivis dakwah memiliki organisasi, biasanya kan ada rapat, nah pertamanya ada yang sering datang in time. Tapi karena melihat teman-temannya yang telat tidak diberi punishment maka dia pun ikut-ikutan. Ada juga yang berpikir bahwa “paling ntar pada telat, ntar aja deh berangkatnya” hmm… dan ini nih yang biasanya menyerang para aktivis. Saking sibuknya dengan tugas kuliah dan organisasi, maka susah pula mereka dalam mengatur waktu.

Padahal jika dapat kalian bermuhasabah, wahai teman-teman aktivis, waktu yang diberikan Allah itu cukup untuk kalian, tinggal bagaimana kalian memandang suatu PRIORITAS! Jika ada yang lebih penting keberadaan kita disana, maka pergilah kesana (itu jika ada 2 atau lebih acara yang bertabrakan), tapi jika hanya ada 1 agenda yang harus diselesaikan, maka datanglah kesana dan JANGAN DITUNDA-TUNDA.

Sebenarnya simple, jika kita dapat menghargai waktu, maka waktu pun akan menghargai aktivitas kita. Hanya saja banyak sekali sekarang ini para aktivis yang tidak mengerti akan hal itu. Mereka terlalu sibuk melihat orang lain yang memiliki waktu banyak dan IRI akan hal tersebut. Tapi mereka lupa tak melihat kepada sosok-sosok pemimpin yang HANYA memiliki waktu SANGAT SEBENTAR dalam istirahatnya. Dan harusnya kita malu kepada mereka yang rela mengorbankan waktunya berjalan bersama dakwah.

Sekali lagi sahabat-sahabatku, poin penting agar kita dapat mensyukuri kehidupan adalah dengan MENGHARGAI WAKTU, lalu MANAJEMEN WAKTU yang kita punya untuk hal-hal yang BERMANFAAT.

Jangan mudah MENGELUH apalagi GALAU, karena banyak pendahulu kita yang tak pernah mengeluh dalam setiap aktivitasnya.

Teladani Rasulullah, para sahabat, para tabi’in, tabiut tabi’in, dan para pejuang islam.
Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud bertanya pada Rasulullah SAW: ” Wahai Rasulullah pekerjaan apakah yang paling Allah cintai?”, Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya“. Ia bertanya: “Lalu apalagi Ya Rasul?”, Beliau menjawab: “Taat pada orang tua”. Ia bertanya: “Lalu apalagi Ya Rasul?”, Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.”

Hadis di atas diriwayatkan lebih dari satu imam, sebut saja Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ahmad, Dârul Quthni dan yang lainnya.

SHALAT PADA WAKTUNYA, tepat waktu, sangat ditekankan Rasulullah disini. Ada lagi 4 tips manajemen waktu yang terinspirasi oleh hadits Rasulullah saw seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, yakni :
1. Memiliki mentalitas pengembara atau perantau
2. Memiliki sikap penyebrang jalan
3. Tidak pernah menunda-nunda pekerjaan
4. Memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun untuk kebaikan

Yuk, bersemangat dalam kebaikan!! :D

04 Januari 2012

Pesan yang Sangat Bermakna


Bismillahirrahmaanirrahim…
Ada suatu pesan yang harus kusampaikan pada sahabat yang dirahmati Allah…
Ada suatu kisah, cerita, namun ini bukan fiksi tapi cerita nyata. Saat itu ada seorang Nabi (yg kita tahu, bahwa seorang Nabi mendapatkan seorang wahyu untuk dirinya sendiri, tidak seperti Rasul yang harus menyampaikan kepada ummatnya) yang bermimpi mendapatkan sebuah pesan...
Ada beberapa pesan yang diberikan itu, diantaranya:

“Kamu akan menemui 4 peristiwa.
Jika kamu bertemu dengan kejadian pertama, maka TELANLAH…
Jika kamu bertemu dengan benda di kejadian kedua, maka TENGGELAMKANLAH…
Jika kamu bertemu dengan kejadian ketiga, maka SELAMATKANLAH...
Jika kamu menemui kejadian keempat, maka BERLARILAH sekencang-kencangnya…”

Maka Nabi itupun pergi dan memulai perjalanannya. Saat telah lama pemuda itu berjalan, akhirnya dia menemukan suatu benda yang besar sekali menjulang tinggi di hadapannya. Apa itu? Benda besar tinggi itu ternyata GUNUNG… bagaimana bisa manusia menelannya???
Lalu Nabi itu berjalan lagi. Setelah berjalan sekian lama, akhirnya dia menemukan PERMATA yang sangat berkilau.Dengan bingung dia bertanya dalam hati, bagaimana mungkin permata yang sangat berharga itu ditenggelamkan??? Kan sayang klo ditenggelamkan… (mungkin itulah yang terpikir oleh kita saat ini…hhe). Saat ditenggelamkan, tiba-tiba permata itu keluar lagi. Dicoba, keluar lagi. Dan seterusnya seperti itu.
Setelah permata itu, maka Nabi itu melanjutkan perjalanan kembali. Setelah sampai pada suatu tempat, dia memperhatikan kejadian yang ada di hadapannya. Seekor burung pipit yang kecil mungil dihadapannya berkata, “Tuan, tolonglah saya… Di atas ada burung elang yang sedang menuju kesini dan ingin memakan saya. Jika itu terjadi pasti saya akan mati.”Dengan merintih burung pipit itu memohon. Tapi saat Nabi itu ingin menyelamatkan burung pipit, si elang datang dan berkata, “wahai Nabi, serahkan burung pipit itu kepadaku. Jika kamu selamatkan dia, pasti aku akan mati kelaparan.”
 Nabi itu kebingungan, dia harus menyelamatkan jika menemui kejadian ketiga. Tapi mana yang harus dia selamatkan saat ini? Jika dia menyelamatkan burung pipit, maka burung elang akan mati kelaparan. Tapi jika sebaliknya, maka burung pipit yang akan mati. Hmmm…maka Nabi itu mengambil sedikit daging dari tubuh burung pipit dan diserahkan kepada burung elang.
Selesai menyelamatkan kedua burung tersebut, maka Nabi ini melanjutkan perjalanan. Sampai pada suatu tempat, dia menemukan BANGKAI. Maka dia pun BERLARI sekencang-kencangnya dari tempat itu.
Dari keempat kejadian itu, ternyata mengandung hikmah yang sangat unik dan berharga. Apa itu??? ada yang tahu? ^_*
  1. Saat menemukan benda besar, yang berupa gunung, tapi harus ditelan. Disini, gunung dianalogikan seperti AMARAH yang harus ditelan. Dalam Q.S. Ali-Imron : 134 “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang MENAHAN AMARAHNYA dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” Takutlah hanya kepada Allah, Bersabarlah, jangan Cepat Emosi, karena itulah AMARAH.
  2. Permata yang berkilau ini dianalogikan seperti AMAL KEBAIKAN seseorang. Bagaimana bisa dia diTENGGELAMKAN? Ya, disini dimaksudkan bahwa amal kebaikan walaupun kita tutup2i dari orang lain, tapi Allah akan tetap mengetahuinya. Akan selalu terlihat di hadapan Allah dan akan Allah balas dengan balasan yang setimpal dengan amal kita. Dalam Q.S. Az-Zalzalah : 7-8 “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.”
  3. Burung pipit dan Burung elang tadi, menyiratkan arti TADHIYAH (Pengorbanan). Harus adaTOTALITAS dalam berdakwah, jangan setengah-setengah. Dalam Risalah Dakwah Imam Syahid Hasan Al-Banna “Karena Dakwah slalu meminta semuanya darimu….” ^_^
  4.  Dan yang terakhir saat melihat BANGKAI. Bangkai disini dianalogikan sebagai MAKSIAT. Jika bertemu dengan MAKSIAT, maka JAUHILAH, Berlarilah sekencang-kencangnya, sampai kau meninggalkannya.
Demikian kisah singkat, namun sangat dalam maknanya. TAHAN AMARAH, berbuatlah AMAL KEBAIKAN, TOTALITAS dalam dakwah, dan JAUHILAH MAKSIAT.

*ditengah derasnya hujan sore hari, @Masjid Kampus… ^_^
9 Nov 2011

17 Desember 2011

Menyemangati Seseorang itu Lebih Mudah ^_^


Bismillahirrahmaanirrahiim…
“Allah Engkau dekat… Penuh kasih sayang, takkan pernah Engkau biarkan hamba-Mu menangis… Karena kemurahanmu… karena kasih sayang Mu…”
Hanya Curhat sedikit… ^_^

Ya Allah… hamba yang tak bersyukur, hamba yang terlalu melankolis, atau hamba yang tak mau mengerti apa yg Engkau inginkan? Hamba sendiri kadang bingung dengan keadaan diri sendiri. Masih…saja tidak ikhlas dengan semua amanah yang Engkau berikan… Dari mulai di jurusan, amanah orang tua, amanah teman,dan yang paling sensitive mungkin amanah dalam hal organisasi ya… hmmm…
Aku kadang bingung dengan perasaan Aku, apakah aku sudah menyenangi hidup aku sekarang atau belum. Jika dipikir-pikir kembali, sebenarnya hal yang merugikan aku sangat sedikit. Allah lebih memberikan aku sesuatu yang unik menakjubkan tanpa disangka-sangka. Memang dalam waktu aku lagi senang dan berpikir masalah masa depan, aku sangat bersyukur dengan apa yang Allah berikan pada aku saat ini, karena memang pendidikan perencanaan ini sangat sesuai dengan apa yang aku suka. Tapi pasti permasalahan itu tetap ada. Aku yang dulu ingin jadi ahli di bidang kesehatan lalu Allah memilihkan ke dalam suatu perencanaan, itu pasti aku ungkit-ungkit lagi padahal aku juga kurang suka sebenernya dengan darah.
yang menjadi masalah sebenarnya adalah sosialisasi aku. Aku memang masih seperti anak kecil yang manja, butuh perhatian, dan semuanya. Walaupun kalau dilihat sekilas, aku disebut oleh teman2 bahwa aku itu orangnya dewasa. Iya, kalo aku lagi ada “mood”, dewasanya masyaAllah…sangat! Tapi kalo udah yang berhubungan dengan perasaan, misal diajuhin teman atau banyak lirikan sinis tak jelas, maka aku yang dewasa itu akan berubah menjadi aku yang sangat manja! Bahkan lebih dari anak kecil yang merengek-rengek kepada ibunya.
Ya, karena aku memang kelemahannya di hati… Hati ini tidak bisa dibohongin. Ada masalah sedikit, langsung kena hatinya. Raut wajah seseorang sangat kelihatan. Apalagi dengan sifat aku yang suka menilai ekspresi seseorang. Banyak orang lain yang bisa aku tahu masalahnya dari raut wajahnya dan simple sebenernya kalo aku ngasinasehat ke mereka. Tapi sekali lagi, ternyata tidak se-simple itu dalam pelaksanaannya. Aku sendiri jika memiliki masalah dengan orang lain, yang tidak lain tidak bukan aku tahu, aku raba dari cara pandang dan sikapnya ke aku, walaupun tidak kentara bagi orang lain, tapi sangat kentara di mata aku, maka nasehat-nasehat yang biasanya aku berikan ke orang lain yang memiliki masalah itu, hilang dari pikiran aku. Semuanya tidak bisa dilakukan.
Makanya aku sering bilang, “Menyemangati orang lain itu lebih mudah daripada menyemangati diri sendiri”
Saat aku jatuh, ternyata banyak yang tak menyadari. Atau menyadari tapi takut nanya ke aku ya?
tapi sayang, aku itu orangnya suka mendengarkan, bukan suka bercerita tentang diri sendiri ke orang lain, bahkan seangkatan sekalipun. Aku sukanya cerita ke mb2nya… Tapi sayang, tak semua tahu tentang aku…
Hmm… hanya bisa menangis jika masalah itu menimpa… dan hanya bisa tersenyum ketika teringat masalah lalu yg membuat menangis…
Allah always beside me….. I know…