12 Februari 2013

Mutiara Surga...

“Kakak….” sapa adik manis itu di belakangku selepas aku mengajar tahsin kelompok mentoringku.

“Eh, ada Aliya. Ada apa Dik? Tumben nggak ada kajian dirimu di masjid? Nggak biasanya.” tanyaku padanya setelah aku bersalaman dengan lingkaran kelompokku. Segera aku temui Aliya yang berada tak jauh dari tempatku tadi.

Agak lengang memang masjid kampus sore itu, tak ada kajian sore ataupun adik-adik TPQ yang biasanya meramaikan suasana masjid sejarahku ini. Tapi walaupun begitu, suasana masjid ini tetap seperti biasanya, tenang, damai, menyejukkan hati para muslim/muslimah yang datang kemari. Putihnya awan dan langit biru sore ini memang indah, tak mendung, tak panas, cerah.

Aku salami Aliya yang telah menungguku sedari tadi, tapi aku tak sadar karena tadi memang sedang khusyu’nya tahsin. Senyumnya manis, maka tak salah jika aku sering memanggilnya ‘ukhty manis’ :). Tingkahnya masih seperti anak kecil, tapi pikirannya dewasa, itulah yang membedakannya dengan teman-temannya yang lain.

“Assalamu’alaykum adikku sayang, mau cerita ya?” tanyaku lembut padanya.
Dia mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya.

“Kita ke pelataran aja yuk, mumpung lagi nggak panas atau hujan. Sambil menikmati ciptaan Allah.” Ajakku padanya sambil membereskan barang-barangku yang masih tercecer.

Sambil menuruni anak tangga dari lantai 2, aku bertanya bagaimana kabarnya, kuliahnya, lalu kelompok mentoringnya. Ya, dia salah satu adik mentoringku dulu saat pertama kali dia masuk kampus. Sekarang sudah pindah kelompok karena ada rekomposisi dan dia masuk kelompok fakultas, bukan lagi jurusan.

Selalu ada cerita dari bibir adik manis parasnya ini, dulu dia adalah adik kelompokku yang paling bandel, masih pakai celana jins, pakaian ketat, rambutnya warna-warni lagi. Tapi hidayah Allah itu memang tak pernah disangka. Siapa yang akan mengira seorang se-tomboy itu sekarang kalemnya bukan main, lembut dan sopan tutur katanya, cantik dalam balutan jilbab yang sekarang menghiasi dirinya.

***

Dia pernah bertanya saat pertama kali mentoring denganku, “Kak, kok kakak mau-maunya sih pake pakaian yang seperti itu, kan jadi riweh, ribet, panas lagi di kota ini. Aku aja sekarang yang cuma pake kerudung kecil gini aja udah kepanasan kak, ga betah.”

Aku hanya tersenyum kala itu. Menjawab pertanyaan ini, artinya memberi sesuatu yang baru padanya. Dan aku lihat, teman-temannya saat itu seperti udah emosi aja mendengar pertanyaannya yang ceplas-ceplos itu.

“Adikku, agamamu apa sayang?” tanyaku.

“Islam lah kak, kalo nggak aku nggak akan disini dong melingkar sama kakak.” Jawabnya santai, masih dengan style nya yang cool.

“Kamu pernah punya prinsip nggak?” tanyaku kembali.

“Selalu dong kak, setiap orang itu harus punya prinsip, biar nggak plin-plan kalo digangguin orang”

“Nah, itu jawaban pertama. Jilbab yang terurai ini termasuk dalam prinsip kakak.” Jelasku.

“Tapi kenapa punya prinsip yang ribet-ribet sih Kak? Kan kita diberi kebebasan, ini kan bukan negara Arab yang harus pake jilbab semua.”

“Memang kita tinggal di negeri yang tak mendikte kita soal jilbab, asal tak melanggar aturan, tak apa. Tapi memangnya jilbab kultur orang Arab? Sekarang Kakak tanya deh, adik kalo baca Al-Qur’an berapa lembar sehari?”

“Hehehe, jarang sih Kak, orang sibuk banget. Pagi sampe malem di luar, ngerjain tugas, nglembur, main bareng temen-temen, udah, nyampe rumah langsung tepar nggak sempet baca Qur’an. Paling banter satu lembar sehari. Orang papa-mama nggak pernah nyuruh baca Qur’an, cuma dulu aku suruh ikut TPQ aja pas masih kecil soalnya rumahku deket banget sama masjid.

Yaudahdeh, aku sih ngikutin aja. Tapi ngapain juga Kak, kan itu cuma kitab, kalo udah selesai bacanya nggak usah dibaca-baca lagi. Aku juga jarang liat orang tuaku baca, aku ngikutin mereka deh, kan orang tua panutan anak J” jawabnya sambil meringis, tak ada rasa bersalah sedikitpun terhadap apa yang baru saja diucapkannya.
Ya Allah… Saat itu hatiku teriris-iris bukan main, ternyata kejadian seperti ini bukan hanya terjadi di sinetron TV saja, kenyataan pun masih banyak.

“Hmm… Gitu ya, tapi apa Aliya udah ngerti maksud isi Al-Qur’an walaupun mungkin udah pernah khatam?” tanyaku hati-hati, takut ada perkataanku yang menyinggungnya.

Tapi memang orangnya ceria banget, cuek, santai aja dia menjawab pertanyaanku, “belum sih Kak, emang apa Kak maksud dari isi Al-Qur’an? Pernah dulu aku tanya Mamaku, tapi nggak dijawab soalnya pas itu lagi sibuk banget. Nggak ada yang bisa aku tanyain Kak. Pokoknya sehari-harinya aku suruh belajar belajar belajar aja Kak, les semuanya harus aku ikutin. Jadi nggak tau apa itu isi Al-Qur’an…” jelasnya sambil menunduk, suaranya perlahan menjadi pelan tak se-ceria tadi di akhir kalimatnya.

Saat itulah aku terperanjat, seperti baru saja dibangunkan. Ya Allah… Ia butuh pembimbing, ia butuh seorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, menjawab keingintahuannya. Ia ceria, padahal hatinya meronta-ronta. Ia selalu tersenyum, tapi di hatinya tak tenang. Ia pandai, tapi tak pandai menata hatinya sendiri. Allah… mungkinkah Engkau mengirimkanku padanya agar aku dapat selalu tersenyum padanya, mendengarkan kisahnya, dan menjawab segala keresahannya?

Tak berapa lama suaraku memecahkan keheningan yang ter-stel otomatis itu, “Adikku, dalam Al-Qur’an itu ada banyak yang Allah ceritakan pada kita. Banyak orang bilang Al-Qur’an itu surat cinta-Nya Allah untuk kita, para hamba-Nya. Dan memang benar, ia adalah tanda cinta Allah pada kita. Untuk apa Rasulullah bersusah payah dalam menerima wahyu, sampai beliau berkhalwat di Gua Hira’ berhari-hari. Beliau diboikot kaum kafir Quraisy, dicela dimaki oleh mereka, tapi beliau dan para pengikutnya tetap bertahan dalam keteguhan dan kesabarannya. Itu karena Al-Qur’an ini begitu berharga.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan banyak kejadian dan hikmah. Bagaimana dahulu perjuangan Rasulullah dan para Nabi-Rasul sebelum beliau. Bagaimana melewati semua masalah yang datang silih berganti. Ya, semua itu memang butuh pengorbanan, dan dari merekalah kita juga diajarkan untuk berkorban.”

Kedelapan adik-adikku itu masih tetap menanti penjelasanku berikutnya.

“Dan kamu tahu Dik, di Al-Qur’an itu juga menjelaskan tentang jilbab.”

“Ooh… Iya ya Kak. Hmm… Kayaknya aku harus belajar lagi. Tapi kenapa Allah menyuruh kita berjilbab Kak?”

Aku tersenyum, “Allah sayang dan sangat cinta pada kita, makanya Allah menyuruh kita berjilbab.”

“Kok sayangnya Allah ada syaratnya Kak?” tanya salah seorang dari mereka.

“Allah sayang sama kita nggak pake syarat kok. Tapi Allah ingin yang terbaik bagi kita, Allah ingin kita akan selamanya menjadi mutiara yang slalu dinanti surga. J” jawabku singkat.

Ya, mereka bukan selamanya harus digurui dengan penjelasan-penjelasan yang ada, adakalanya aku harus memancing mereka dengan jawaban teka-teki yang membuat mereka penasaran. Hehe.

“Apa hubungannya Kak jilbab sama mutiara?”

“Mutiara itu kalau dipelihara dan dijaga dengan baik, maka ia akan tetap memancarkan kilaunya.
Tapi kalo mutiara itu ditaruh di sembarang tempat, kena sinar matahari, kena hujan, bahkan sering dipegang-pegang orang, berpindah tangan tanpa kita sadari maka mutiara itu tak bernilai lagi.
Makanya mutiara itu harus disimpan dengan baik dalam wadah rahasia yang hanya kita & Allah yang tahu. Sampai waktu yang ditentukan kita serahkan kepada yang berhak menerimanya. Kan yang nantinya menerima juga senang diberi mutiara yang masih indah dan berkilau.:)”

Hiks… hiks… hikss..

Tanpa sadar aku mendengar tangisan mereka, adik-adikku yang baru saja aku temui. Aku tak sadar, karena memang kata-kata barusan berselancar dengan lancarnya keluar dari mulutku. Dan aku tak sadar, aku tak melihat ekspresi mereka saat aku menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba saja tangisan itu terdengar, lama kelamaan menjadi keras.

Aku memandangi mereka satu persatu. Tanpa aku sadari, bulir air mata itu juga menetes ke pipiku. Ya Allah… jika memang ini bukti hidayah-Mu kepada mereka lewat perantara aku, maka balikkan hati mereka Ya Robbi, sebagaimana telah Engkau balikkan hati Umar bin Khottob ke cahaya terang benderang itu.

Ya, saat itu aku menangis, tapi karena terharu. Saat itu aku tersenyum, karena melihat hidayah Allah menyentuh lembut hati mereka. Saat itu juga, aku rangkul mereka satu-per satu. Adik-adikku… Kalian-lah mutiara-mutiara itu…

“Kak, boleh aku belajar Islam darimu?” kata Aliya saat itu juga dengan sesenggukan dan di-iyakan teman-temannya yang lain.

Ya Robb… Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Apalagi yang bisa aku lakukan saat ini selain bersimpuh sebagai tanda syukurku pada-Mu. Bantu hamba-Mu yang lemah ini untuk memberikan sedikit ilmunya ini kepada mereka.

Lingkaran ini… Lingkaran Cinta… Uhibbukunna fillah…

***

Ya, mengenang kejadian 2 tahun silam itu memang membuat hati ini berdesir tak karuan. Antara senang, sedih, takut bercampur menjadi satu.

Sesampainya di pelataran, kami berdua duduk pada salah satu anak tangga. Semilir angin dan suara kicauan burung sore itu menjadi hiasan percakapan kami. Bercanda, tertawa, lalu tangisannya ternyata tak bisa disembunyikan lagi saat bercerita masalah keluarganya. Segera aku rangkul dia. “menangislah… menangislah sepuasnya sekarang, karena air mata memang dibuat untuk itu sayang..”

***

Wahai muslimah, berbanggalah…


Para malaikat Allah tak bertelinga, tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab.
Para malaikat Allah tak memiliki mata, tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab.
Para malaikat Allah tak punya jantung, tapi sanggup mereka rasakan degub kebangkitan jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi.
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya, tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara: Ini tidak main-main! Ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain!
=Emha Ainun Najib=


Karena jilbabku inilah pelindungku, kekasihku, kesetiaanku, kemurnianku, kecantikanku, dan alatku untuk terus mengingat Allah
Saat aku meletakkan jilbab di atas kepalaku,
Aku tahu segala kesesatan yang dibawa oleh setan akan dilenyapkan
Jilbab bukan sekedar pelengkap penampilan
Jilbab juga bukan tameng untuk menutupi kekurangan
Jilbab adalah suatu bentuk pengabdian dan cerminan seorang wanita
Untuk menyamarkan keindahan raganya serta pengamalan dari apa yang ia pelajari
Ya Allah…
Semoga aku bisa menjaga keikhlasannya… ^_^

Barakallah, selamat saudariku… selamat datang dlm dunia surga ini :)
***

Menjelang Hijab’s Day, kutulis ini spesial untuk Mutiara-Mutiara Surga… Engkaulah, saudariku… :D
*11-02-2013.03:02*

10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

ADA SEPULUH ORANG SAHABAT YANG DIJAMIN MASUK SYURGA.


1. ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu'anhu (RA) adalah khalifah pertama, setelah Nabi wafat. Beliau sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah, ke manapun Nabi pergi, beliau selalu menyertainya. Termasuk saat Rasul dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Madinah, suatu perjalanan yang penuh dengan risiko.
Sejak remaja, Abu Bakar telah bersahabat dengan Nabi. Belia juga orang yang pertama memeluk Islam. Tidak sulit baginya untuk mempercayai ajaran Islam, kerana beliau tahu betul keagungan ahklak Rasulullah.

Demikian juga saat Nabi menyampaikan peristiwa Isra Mi'raj. Abu Bakarlah sahabat yang pertama kali membenarkan peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, beliau diberi gelar oleh Rasulullah yakni Ash-Shiddiq (yang benar, jujur, dan membenarkan). Abu Bakar wafat dalam usia 63 tahun (13H). Beliau dimakamkan di Madinah bersebelahan dengan makam Rasulullah.

2. 'UMAR BIN KHATTAB 
'Umar bin Khattab RA adalah khalifah kedua. Beliau termasuk sahabat yang sangat dikasihi oleh Nabi. Sebelum masuk Islam, beliau dikenal sebagai seorang yang gagah perkasa dan sering mabuk. Seluruh penduduk Makkah merasa takut kepadanya.
'Umar memeluk Islam setelah mendengar surat Thoha yang dibacakan saudara perempuannya. Dia sangat keras dalam membela agama Allah. Beliau menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraisy terhadap diri Nabi dan sahabat.

Saat 'Umar diangkat menjadi khalifah, daerah kekuasaan Islam bertambah. Kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditakluk dalam kurun waktu satu tahun (636-637M). Pemimpin yang sederhana dan peduli pada rakyatnya ini, wafat setelah dibunuh Abu Lukluk saat hendak memimpin shalat (23 H/644 M). Ia dimakamkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah.

3. 'USTMAN BIN AFFAN
'Ustman bin Affan RA adalah khalifah Islam ketiga. Pada saat kepemimpinannya,beliau berhasil mengumpulkan wahyu, dan menyusunnya dalam bentuk mushaf Al-Qur'an. 'Ustman bin Affan masuk Islam lewat ajakan Abu Bakar. Beliau mendapat gelaran Dzun Nur 'Ain (pemilik dua cahaya), kerana  menikahi dua putri Nabi, Ruqqayah dan Ummu Kultsum.

'Ustman dikenal sebagai saudagar kaya dan dermawan. Beliau selalu menafkahkan hartanya di jalan Allah. Saat berlakunya peperangan Tabuk, 'Ustman menyumbang lebih daripada 940 ekor unta, kemudian membawa 60 ekor kuda untuk menggenapinya menjadi 1000. 'Ustman wafat pada tahun 35H atau 655M.

4. 'ALI BIN ABI THALIB  
'Ali bin Abi Thalib RA dilahirkan di Makkah tahun 598 Masehi. Ali adalah orang yang pertama masuk Islam dari golongan anak-anak. Ali terkenal orang yang sangat berani, ahli siasat perang, dan cerdas. Pada saat
peristiwa hijrah, 'Ali tidur di atas tempat tidur Nabi. Sehingga, para tentara Quraisy yang mengepung rumah Nabi, mengira Nabi masih berada di dalam rumah. 'Ali wafat pada tahun 40 H, setelah ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam dengan pedang yang beracun setelah shalat shubuh. Beliau meninggal dalam usia 63
tahun dan memegang jawatan khalifah selama 4 tahun 9 bulan. Beliau di makamkan di Kufah, Irak.

5. THALHAH BIN ADDULLAH
Thalhah bin Abdullah dikenal sebagai salah satu konsultan Rasulullah. Beliau berasal daripada suku Quraisy.
Saat berlakunya perang Uhud, Thalhah telah ikut serta. Dalam peperangan tersebut beliau menderita kerana
luka parah. Dia menjadikan dirinya sebagai sebuah perisai bagi Rasulullah dan mengalihkan panah yang akan mengenai diri Nabi dengan tangannya. Sehingga semua jari-jarinya putus. Thalhah wafat pada 36 H atau 656 M. Beliau syahid ketika mengikuti perang Jamal.

6. ZUBEIR BIN AWWAM 
Zubeir bin Awwam termasuk golongan yang pertama masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Usianya pada  saat itu baru berumur 15 tahun. Pembelaannya terhadap Islam begitu nyata. Zubeir tidak pernah tertinggal dalam berbagai pertempuran bersama kaum muslimin. Beliau  selalu berada di barisan hadapan medan peperangan. Sekujur tubuhnya terdapat luka dari hasil peperangan. Beliau sangat dicintai Rasulullah. Ketika terjadi perselisihan faham di antara kaum muslimin, Zubeir tidak sedikitpun memihak yang berseteru. Ia malah berusaha menyatukannya. Zubeir ditikam ketika sedang menghadap Allah, beliau wafat pada tahun 36H atau 656M.

7. SA'AD BIN ABI WAQQAS
Sa'ad bin Abi Waqqas memeluk Islam saat berusia 17 tahun. Ia sangat mahir menunggang kuda dan memanah. Jika belia memanah musuh dalam sebuah peperangan pastilah tepat sasarannya. Hampir seluruh peperangan belia ikuti.

Saat awal memeluk Islam, ibunya mengancam untuk mogok makan dan minum. Dengan harapan, Sa'ad kembali ke ajaran nenek moyang. Namun, hampir sang ibu menemui ajalnya, ancaman itu tetap tidak dihiraukan oleh Sa'ad. Beliau tidak menjual keyakinannya dengan apapun, sekalipun dengan nyawa ibunya.
Pada zaman pemerintahan khalifah Umar bin Khatab, Sa'ad diangkat sebagai panglima tentera. Sa'ad wafat pada usia 70 tahun (55H atau 676M). Beliau di makamkan di tanah Baqi'

8. SA'ID BIN ZAID
Sa'id adalah di antara sahabat yang beruntung. Dia masuk Islam bersama-sama isterinya, Fathimah binti al-Khattab, adik perempuan 'Umar bin Khattab. Sa'id membaktikan segenap daya dan tenaganya untuk berkhidmat kepada Islam. Ketika memeluk Islam usianya belum genap 20 tahun.
Sa'id turun berperang bersama Rasulullah dalam setiap peperangan. Beliau juga turut bersama kaum muslimin menjatuhkan dan meruntuhkan pemerintahan [singasana] Kisra Persia. Sa'id pernah diperintahkan Rasulullah mengintip aktiviti musuh. Beliau wafat dalam usia 70 tahun (51H atau 671M) dan di makamkan di Baqi' Madinah.

9.'ABDURRAHMAN BIN 'AUF
'Abdurrahman bin 'Auf termasuk tujuh orang yang pertama masuk Islam. Beliau termasuk di antara sahabat Nabi yang mempunyai harta melimpah hasil aktiviti perniagaan. Kejayaannya tidak membuat beliau lupa diri, sebaliknya beliau selalu menafkahkan hartanya di jalan Allah. Bahkan saat dia diberitakan Rasulullah bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat sedekahnya makin membara. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 kuda perang, dan 1.500 ekor unta beliau sumbangkan untuk perjuangan Islam.  Abdurrahman sempat berhijrah ke Habsyah sebanyak 2 kali. Beliau wafat pada
umur 72 tahun(32H atau 652M) di Baqi'.

10. ABU 'UBAIDAH BIN JARRAH
Rasulullah pernah memberikan pernyataan tentang Abu 'Ubaidah. "Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan sesungguhnya kepercayaan umat ini adalah Abu 'Ubaidah," begitu kata Rasulullah. Abu 'Ubaidah orang yang amanah dan jujur dalam berperilaku.
Abu Ubaidah masuk Islam melalui perantara Abu Bakar Ash-Shiddik pada awal kerasulan nabi Muhammad SAW. Ia beberapa kali dipercaya Rasul memimpin peperangan. Ia wafat pada tahun 18H atau 639M.

Demikianlah 10 sahabat-sahabat Nabi yang dijamin masuk surga melalui hadist Nabi Muhammad SAW.
sumber: http://cintarindurasul.blogspot.com/2011/10/10-sahabat-nabi-saw-yang-dijamin-masuk.html

Pilar Kebangkitan


Liqo’ 06-02-13

Kali ini saya hanya ingin bercerita, bahwa di atas langit masih ada langit kan? :) itu tandanya ilmu dapat diperoleh darimana saja, termasuk disini...
Sore itu, saya berjalan menuju gudang ilmu bersama salah seorang teman, masjid itu kutatap dari kejauhan, megah, adem jiwa ini menatapnya, disana banyak muslim sembahyang, menimba ilmu. 

Bahkan anak-anak kecil itu pun datang berbondong-bondong kesana, bertemu dengan teman-temannya, canda-tawa menghiasi sudut-sudut masjid itu,tapi kadang juga ada tangis yang menghampiri wajah si anak kecil itu :). Memandang mereka memberikan kesejukan tersendiri. Apalagi hari ini, saya bukan hanya datang untuk menikmati pemandangan itu, tapi untuk menimba ilmu, mengisi kembali ruhiyah yang kini saya kira telah meminta mata air surga itu.

Tilawah, muroja’ah, bahkan hafalan itu seakan menjadi muara surga yang saat itu saya rasakan di tengah hembusan angin segar sore hari. Sejuk, betapa indah memandang kebesaran Ilahi di rumah sembahyang ini yang dihiasi dengan kata-kata cinta-Nya.

Senyum saudari-saudari seiman yang saya rindukan sedikit melepas penat yang akhir-akhir ini melanda pikiran dan hati. Mengenang senyum itu saja terasa menyejukkan, apalagi jika melihatnya langsung dan merasakan aura kasih sayang dari mereka. Inilah kasih sayang dan cinta sejati, cinta kepada saudara-saudari seiman yang datang di setiap waktu, bukan hanya di salah satu hari yang biasa diperdengarkan orang, yang mereka sebut dengan Valentine's Day.

***
Kali ini beliau bercerita tentang suatu kisah yang menunjuk pada Arkanul Bai’ah ke-7. Tsabat, ya, ‘Keteguhan’. Kembali diingatkan, bahwa 10 poin yang biasanya hanya sekadar dihafal, namun saat itu kami diminta untuk menelaah lebih jauh, tentang apa sebenarnya Arkanul Bai’ah, terutama poin ke-7 ini.
Selalu mendengar seorang berkata, ‘Hanya akan ada 2 proses yang seharusnya berjalan, mencapai tujuan atau gugur sebagai syahid!’ , tak ada istilah berhenti atau hanya maju selangkah, apalagi memundurkan langkah. Karena tujuan hanya 1 dan harus slalu diperjuangkan!

Hmm.. mungkin dalam tulisan ini tak hanya ada poin-poin yang biasanya tertulis, =mungkin agak belibet, tapi saya sedang mood untuk menulisnya dalam kalimat cerita, tak apa kan? :)=
Dalam keramaian suara kendaraan yang lalu lalang di jalan, kalimat per kalimat yang beliau sampaikan seakan menjadi angin kesejukan, air pelepas dahaga, obor pemantik semangat, bahkan sebagai pengingat untuk slalu memperbaiki diri.

‘Kesalahan yang biasa terjadi dalam kehidupan kita itu sebenarnya adalah sebuah pemantik semangat yang akan slalu menjadi perisai diri kita untuk berada daam keteguhan yang nyata.’

Ia bukan sesuatu yang harus slalu diratapi seakan semuanya telah berakhir, namun jadikan ia sebagai pelecut semangat dan awal dari sebuah keberhasilan. Melakukan suatu kesalahan bukan berarti harus mundur dari kewajiban, namun kesalahan itu seharusnya menjadi satu semangat untuk slalu menjadi da’i/da’iyah yang menyebarkan aroma dakwah di segala penjuru. Menjadi sebuah perbaikan dari hikmah yang dapat diambil. Dan selalu memperbanyak do’a kepada Allah SWT.

Ada 3 yang menjadi prioritas kebangkitan dakwah:
-          Memperbaiki diri,
-          Menuntaskan amalan-amalan dakwah, dan
-          Memperjuangkan agama.

Dalam Q.S. Al-Ahzab(33) :23
23. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merubah (janjinya),
[1208]. Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.

Ada 3 pilar kebangkitan:
-          Meminta pertolongan kepada Allah, yaitu dengan muhasabah diri dan aspek tarbawinya ditingkatkan. Karena dibalik pengetahuan logis manusia, Allah punya kekuatan tersendiri yang tak pernah bisa kita bayangkan dengan akal kita. Ada yang berpendapat bahwa yang penting kerja, tak usah do’a? Pendapat yang salah besar.
Ada yang bilang bahwa Liqo’ libur karena suatu urusan? Saat ditanya, “Akh/Ukht, liqo’ kapan?” dan jika dijawab, “Liqo’nya libur dlu ya, lagi panas pemilihan nih”. Hmm… seorang murobbi yang berkata seperti itu adalah sesuatu yang tak bisa dibenarkan. Karena dalam keadaan perang sedang berkecamuk sekalipun, Rasulullah tetap memberikan taujih kepada sahabat-sahabatnya, semakin mendekatkan diri pada Allah, bahkan lebih daripada hari-hari aman sebelum perang. Kita? Seringkali mengedepankan diskusi politik  yang mungkin perlu untuk dilakukan, tapi aspek tarbawi, isi ruhiyah?? Seharusnya juga diseimbangkan bahkan jika perlu lebih dari sebelum-sebelumnya. 

-          Kesolidan internal ukhuwah, adalah poin yang sangat penting. Karenanya harus slalu menghadirkan ketsiqohan dalam diri, mengedepankan husnudzon, dan tabayun jika ada sesuatu yang menjadi permasalahan. Ada sebuah kalimat, “perjalanan paling indah adalah masa-masa berjuang dengan saudara-saudari seiman.”
Dan yang menjadi catatan, ukhuwah itu tak perlu dipertanyakan, karena ia adalah akibat dari iman.

-          Kerja keras. Ya, pilar kebangkitan ke-3 adalah kerja keras, bagaimana bisa kita yang hanya berdiam diri dapat mengubah suatu keadaan? Bagaimana bisa orang-orang yang tak pandai me-manage waktunya bisa menjadi orang-orang yang beruntung? Karena telah Allah sebutkan dalam Q.S. Al-‘Ashr: 1-3 “Demi waktu. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan ber’amal sholih dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

Maka dari itu, harus ada kerja keras di setiap waktu dan tujuan yang ada. Dan jangan pernah lupakan bahwa yang sebenarnya menjadi kunci dalam berdakwah adalah ‘komunikasi’. Ada orang yang tidak datang tepat waktu, ada pula mereka yang tak hadir tanpa izin, bahkan ada yang tak pernah konfirmasi tapi tiba-tiba di hari H mereka protes dengan berbagai pendapat mereka. Padahal sebelumnya mereka tak pernah hadir dikala dibutuhkan pendapatnya, ditunggu kehadirannya. Dan semua itu menjadi salah satu ‘penghancur’ sebenarnya. Karena izin itu adalah sesuatu yang penting dan telah disebutkan Allah dalam surat cinta-Nya, Q.S. An-Nur (24) : 62

62. Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
>> telah Allah jelaskan bahwa IZIN adalah bagian dari IMAN.

Jangan sampai sesuatu yang sebenarnya telah kita ketahui kesalahannya, kita ulangi kembali. Dan jangan sampai kita tak ingin berpindah ke arah yang lebih baik dengan melihat perjalanan masa lalu. Semoga Allah selalu merahmati dan membimbing langkah-langkah kita selalu dalam kebaikan dan ridho dari-Nya. Aamiin..

***

Ya, adzan maghrib berkumandang, sesi sore itu akhirnya ditutup dengan doa penutup majelis. Ya Allah.. bimbing selalu langkah kami, berikan slalu ketenangan, keberanian, bahkan semangat dalam hati ini, karena Engkau-lah Sang Pembolak Balik Hati, dan jadikan pertemuan-pertemuan kami sebagai perantara hidayah-Mu… :)