26 Juni 2012

Robbatul Qulub

ROQU, Robatul Qulub, nama yang tak asing terdengar di telingaku. Nama yang kami ber delapan buat saat itu pagi hari di masjid kampus tercinta. Dan tentunya tak terlupakan, ada yang menemani kami saat membuat nama itu.

Rekomposisi…

Hmm, satu kata yang luar biasa. Kata yang memiliki kekuatan dasyat dan membuat hati kami tergetar saat itu. Teringat saat mba Yuni memberitahu kepada kami bahwa kami akan direkomposisi, kami langsung terdiam seribu bahasa, dan beberapa detik kemudian kami pun menunjukkan ekspresi masing-masing, yang intinya ga mau yang namanya rekomposisi, hehe.

Akhirnya, saat itu juga, kami memutuskan untuk membuat nama untuk lingkaran tercinta kami, walaupun di rekomposisi, minimal kami memiliki nama, memiliki banyak kenangan disini :) . Dan setelah diskusi panjang, kami akhirnya menemukan nama yang slalu membuat kami menyatu, Robatul Qulub, Ikatan Hati.
Mungkin karena itulah hati-hati kami terikat, terikat dengan kuat dalam tali ukhuwah yang indah ini.

Terpilihnya nama ini juga karena harapan besar, agar kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun, hati-hati kami tetap terikat :) .

Mungkin nama ini juga menjadi do’a (#katanya kan sebuah nama itu adalah do’a ^_^)
2 tahun hingga saat ini, akhirnya lingkaran kami tak berubah,
Hanya, ada satu teman yang berpindah lingkaran, namun sama saja sebenarnya, intensitas bertemu kami juga masih sering.

Itulah pentingnya sebuah nama, ia adalah do’a.

Ia adalah pengerat.
Ia adalah kekuatan hati.
Ia pun yang menjadi simbol akan kenangan-kenangan kami hingga saat ini, bahkan sampai Allah menyatukan kami kembali ke dalam surga-Nya. ^_^

Tak ada suatu penyesalan akan sebuah pertemuan. Aku tak pernah menyesal bertemu dengan kalian, mengenal kalian, dan berbagi suka dan duka bersama kalian. Dan yang pastinya tak akan ada yang namanya ‘mantan’, , , , :D

Kalian adalah keluargaku disini :) , lingkaran pertamaku, yang sebenarnya sejak dulu aku menginginkannya namun slalu terhalang (#terhalang karena suatu keadaan yang tak memungkinkan. Hehe)



Untuk lingkaran pertamaku, murobbi pertamaku, mas’ul, serta teman-teman seperjuangan, kuhaturkan lantunan do’a untuk lingkaran kecil kita, untuk mengikatkan hati-hati kita, dan semoga malaikat pun slalu menaungi kita dalam lingkaran ini… :)

Do’a Rabithah
 
Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu…
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya…
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya…
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar…
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu…
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu…
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu…
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong…
Ya Allah… Aamiiin… Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan…

1 Tamparan untuk 3 Pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, lalu dia kembali ke tanah airnya.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencarikan seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.

Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan seorang kiyai yang diminta oleh anaknya.

Dari sinilah terjadi sebuah perbincangan yang unik.
> Pemuda : Anda siapa? Dan apakah Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
> Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan Anda.
> Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
> Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
> Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan untuk setan.


Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

> Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa Anda marah kepada saya?
> Kiyai : Saya tidak marah. Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
> Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
> Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
> Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
> Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?
> Pemuda : Ya!
> Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!
> Pemuda : Saya tidak bisa.
> Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
> Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
> Pemuda : Tidak.
> Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
> Pemuda : Tidak.
> Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
> Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
> Pemuda : Kulit.
> Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
> Pemuda : Kulit.
> Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
> Pemuda : Sakit.
> Kiyai : Walaupun setan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk setan.
:) pemuda itu pun akhirnya terdiam. Tak dapat dia mengelak lagi.
Subhanallah…Allah Maha Besar…

Dia telah memberikan ‘sedikit ilmu’ ini kepada para hamba-Nya yang terpilih. :)
Sehingga seorang kiyai yang mungkin hanya dipandang sebelah mata oleh mayoritas orang dapat menjawab 3 pertanyaan yang sulit untuk orang-orang pintar bahkan professor.

Namun seorang kiyai ini dapat menjawabnya dengan mudah, hanya dengan 1 JAWABAN.
Memang semuanya ada di dalam Al-Qur’an, dan hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengetahuinya.
—Tunggu pada sesi keajaiban Al-Qur’an ^_^—

22 Juni 2012

Surat Cinta Palestina untuk Indonesia

Teringat Palestina… Bumi Islam, Bumi para Nabi…

Inilah Surat Cinta Palestina untuk Indonesia. Mungkin telah sering terdengar dan terbaca. Tapi, tak inginkah kita merenungkannya sekali lagi… sekali lagi… dan sekali lagi…???

Baca… Renungkan… Pahami… Resapi… Lalu berikan solusi…:)

Untuk saudaraku di Indonesia,
Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun, jika kalian tetap bertanya kepadaku,kenapa?? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negeri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini.
Bukankah demikian saudaraku??? Disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari Jama’ah haji asal Indonesia. Dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini?!!. Wah…,sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.

Lalu saya mengatakan kepadanya. Saudaraku, jika jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 sampai sekarang di gabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negeri kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah? Wah.., pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya. Subhanallah…

Wahai saudaraku di Indonesia,

Pernah saya berkhayal dalam hati. Kenapa saya dan kami yang ada di GAZA ini, tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah.., pasti sangat indah dan mengagumkan yah. Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko. Dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan. Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku di Indonesia.

Tidak seperti di negeri kami ini saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil. Ya, diatas mobil saudaraku!! Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade tahun 2009 lalu. Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya. Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum.

Namun, mengapa di negeri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan, dan di tempat sampah. Itu yang kami dapat dari informasi televisi. Dan yang membuat saya terkejut dan merinding. Ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA.

Astaghfirullah… Ada apa dengan kalian..???

Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini. Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati.
Namun, bukanlah diselokan-selokan atau got-got, apalagi ditempat sampah, saudaraku!!! Mereka mati syahid, saudaraku!

Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!!!
Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel, saudaraku. Bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini. Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 desember 2009 kemarin, Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami. Namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar. Allahu Akbar!!!

Wahai saudaraku di Indonesia,

Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah.
Namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, dan menderita busung lapar. Apa karena kalian sulit mencari rezki disana? Apa negeri kalian sedang di blokade juga?
Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan. Walau sudah lama kami diblokade. Kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai Tata usaha di kantor pemerintahan Hamas. Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami.

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku. Dan Perdana menteri kami, yaitu ust. Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan Bagi semua keluarga baru tersebut.

Wahai Saudaraku di Indonesia,
Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqoh pembinaan. Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut, program pengajian kalian pasti bagus bukan. Banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan buku-buku pasti kalian telah lahap. Kalian pun sangat bersemangat bukan? itu karena kalian punya waktu.

Sedangkan kami tidak memiliki waktu yang banyak disini, wahai saudaraku. Satu jam, ya, satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh. Setelah itu kami harus terjun langsung ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang telah diberikan kepada kami. Kami di sini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut. Walau Cuma satu jam saudaraku.

Tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh, seperti ta’aruf, tafahum dan takaful di sana.

Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami. Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini WAJIB menghapal surat Al Anfal sebagai nyanyian perang kami. Saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang. Bagaimana dengan kalian??

Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal Al Qur’an. Umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al Qur’an ketimbang anak-anak kami disini.

Di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang. Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan. Diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma, yah, di tempat itulah mereka belajar Saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan al quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung Mereka rasakan.

Wahai Saudaraku di Indonesia,

Oh, iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah…., kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini. Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami di sini, termasuk kalian di Indonesia.

Namun bukan hanya tangisan kalian yang kami butuhkan, saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai Bukti ukhuwah kalian kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya. Oh iya, hari semakin larut. Sebentar lagi adalah giliran saya untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di Indonesia.